Mendukung SDGs Prodi Sosiologi Agama Menggelar Pelatihan Modul Pemberdayaan Masyarakat

Program Studi Sosiologi Agama menggelar kegiatan pelatihan penyusunan modul pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari komitmen mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), Senin (20/4). Kegiatan ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta perwakilan komunitas masyarakat pecinta lingkungan yang terlibat dalam program pengabdian.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peserta dalam merancang modul pemberdayaan yang aplikatif, partisipatif, dan berkelanjutan. Modul yang disusun diharapkan dapat menjadi panduan praktis dalam mendampingi masyarakat, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan keagamaan.

Ketua Prodi Sosiologi Agama Dr. Mahatva Yoga Adi Pradana, M. Sos, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. “Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan bahwa program pemberdayaan yang dilakukan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata dan berkelanjutan,” ujarnya.

Materi pelatihan dirancang secara komprehensif agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu mengimplementasikannya secara langsung di lapangan. Pada sesi konsep dasar pemberdayaan masyarakat, peserta diperkenalkan pada prinsip-prinsip partisipasi, kemandirian, dan keberlanjutan, serta pentingnya memposisikan masyarakat sebagai subjek, bukan objek pembangunan. Pemahaman ini menjadi fondasi utama sebelum masuk ke tahap teknis penyusunan modul.

Selanjutnya, dalam sesi teknik penyusunan modul, peserta dibimbing secara sistematis mulai dari identifikasi masalah, analisis kebutuhan masyarakat, perumusan tujuan, hingga penyusunan indikator keberhasilan. Tidak hanya itu, peserta juga dilatih untuk menyusun alur kegiatan yang realistis dan mudah diterapkan, lengkap dengan metode evaluasi yang dapat mengukur dampak program secara konkret.

Pendekatan berbasis kearifan lokal menjadi salah satu fokus penting dalam pelatihan ini. Peserta diajak untuk menggali potensi budaya, tradisi, serta nilai-nilai lokal yang hidup di tengah masyarakat sebagai kekuatan utama dalam proses pemberdayaan. Dengan pendekatan ini, modul yang dihasilkan diharapkan lebih kontekstual, mudah diterima, dan memiliki tingkat keberlanjutan yang lebih tinggi karena selaras dengan identitas sosial masyarakat setempat.

Selain itu, integrasi nilai-nilai keagamaan juga menjadi ciri khas dalam pelatihan ini, mengingat latar belakang keilmuan Sosiologi Agama. Peserta didorong untuk memasukkan nilai-nilai etika, solidaritas, keadilan, dan kepedulian sosial yang bersumber dari ajaran agama sebagai bagian dari strategi pemberdayaan. Hal ini dinilai penting untuk memperkuat motivasi internal masyarakat sekaligus membangun perubahan sosial yang berakar pada nilai-nilai spiritual.

Untuk memperdalam pemahaman, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga dilibatkan dalam simulasi dan diskusi kelompok. Dalam sesi ini, mereka bekerja secara kolaboratif untuk merancang draft modul pemberdayaan berdasarkan studi kasus nyata. Proses ini memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan, pengalaman, serta refleksi kritis, sehingga menghasilkan rancangan modul yang lebih matang dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat sasaran.

Kegiatan ini juga memiliki relevansi strategis dalam mendukung pencapaian berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Modul yang disusun diarahkan untuk berkontribusi pada upaya pengentasan kemiskinan melalui peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat, peningkatan akses terhadap pendidikan berkualitas, penguatan kesetaraan sosial, serta pembangunan komunitas yang inklusif dan berdaya.

Dengan adanya modul yang terstruktur, sistematis, dan berbasis kebutuhan nyata masyarakat, program pemberdayaan yang dijalankan oleh Prodi Sosiologi Agama diharapkan menjadi lebih efektif, tepat sasaran, dan mudah dievaluasi. Hal ini juga membuka peluang untuk replikasi program di berbagai wilayah lain, sehingga dampak positifnya dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan.