Sosiologi Agama Mendukung SDGs 4 tentang Pendidikan

Birrul Saefudin (22105040021)

Sosiologi Agama – Semester 5

Mata Kuliah Pemberdayaan Masyarakat (C)

PERAN KOMUNITAS DALAM MENDUKUNG SDGs PENDIDIKAN BERKUALITAS (Studi Kasus: Rumah Belajar Indonesia Bangkit / RBIB)

Pendahuluan

Saya mengambil tema ini karena melihat banyak komunitas / organisasi yang ada di Yogyakarta, khususnya di bidang sosial dan pendidikan. Saya penasaran bagaiamana organisasi tersebut mengelola dan melakukan kegiatan dengan berbagai program yang dibuat. Terlebih saya juga ingin mempunyai experience atau pengalaman baru terkait ajar mengajar, karena ilmu mengajar akan berguna di masa depanku. Mungkin saja kedepan menjadi dosen, guru, pengajar, saat ini saya aktif di UKM dan itu semua tidak akan lepas dari kegiatan aajr mengajar.

Terlebih kita hidup di kawasan Yogyakarta, dimana jogja mempunyai julukan sebagai “Kota Pelajar”, saya ingin tidak hanya belajar dikota tersebut, tetapi juga berguna untuk bisa mengajar. Banyak komunitas-komunitas sosial yang hidup dari kegelisahan terhadap realitas sosial lalu muncul rasa kepedulian terhadap berbagai isu-isu sosial yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Rumah Belajar Indonesia Bangkit adalah salah satu dari komunitas sosial di Yogyakarta memiliki konsen dalam bidang pendidikan.

Sebelum lebih lanjut saya ingin meminta maaf, Karena objek mini riset ini awalnya memiliki kendala. Yang awalnya saya memilih Komunitas Project Child Indonesia, saat saya survei yang pertama pada kamis tanggal 21 November itu Sekretariat / Kantornya tutup, karena memang bentuknya seperti rumah pada umumnya saja, saat itu saya masih positive thinking mungkin pengurusnya lagi keluar atau ada kegiatan lainnya dan Hari Selasa tanggal 26 saya survei kedua posisinya sama saya mencoba menghubungi segala contact person yang ada, lalu saya menanyakan hal tersebut kepada masyarakat yang didekat kantor itu, Kata tetangganya “Project Child di Yogyakarta akhir-akhir ini sudah tidak aktif, tidak tahu kalau yang di Jakarta”, karena di instagram kegiatan terakhir ada di bulan Oktober.

Lalu, kemarin saya juga ada kegiatan ke Surabaya pada tanggal 28 – 30 Desember, tidak bisa survei langsung ke Objek Penelitian yang lain. Saat disana saya mencoba mendalami kembali lalu menemukan Komunitas Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB Jogja) dan saya berhasil mensurvei, bergabung kegiatannya dan melakukan Wawancara kepada teman-teman RBIB Jogja pada Selasa 3 Desember 2024.

Saya melakukan wawancara dengan koordinator dari RBIB yaitu Ka Christy dan 2 teman lainnya, bernama Ka Nisa dan Ka April setelah kegiatan RBIB selesai, kegiatan di hari itu selesai lebih cepat karena cuaca yang tidak mendukung yaitu gerimis, sharing-sharing bersama, dan Karena waktu mepet maghrib juga, saya tidak bisa lama-lama dan tidak sempat untuk berbicara dengan Pendiri atau yang biasa di kenal dengan Bu Ruth.

Ringkasan Eksekutif


Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) yaitu Komunitas yang di dirikan oleh Bu Ruth. Yang berdiri sejak tanggal 20 Mei 2013, di daerah pinggiran Kalicode Selatan. Sesuai dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada waktu yang sama, Komunitas ini diberi nama Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB Jogja).

Sesuai dengan SDGs nomor 4, yaitu Pendidikan Berkualitas. Komunitas ini turut membantu mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang dalam ranah pendidikan di masyarakat. Pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan tidak hanya dilakukan oleh pemerintahan saja, seringkali banyak ketimpangan pendidikan di Indonesia yang terpegang oleh Kepemerintahan, Lalu dari berbagai upaya banyak komunitas-komunitas yang muncul untuk membanatu Pendidikan yang layak dan setara pada masyarakat yang terpinggirkan, khususnya komunitas Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB Jogja) yang melakukan kegiatannya pada masyarakat pinggir sungai.

Latar Belakang dan Tujuan

  • Latar Belakang

RBIB Jogja lahir, dan diinisiasi oleh beberapa mahasiswa yang berasal dari latar belakang studi berbeda namun kepedulian yang serupa akan hal pendidikan. Secara umum berdiri atas dasar keprihatinan akan potret pendidikan di Indonesia, khususnya di wilayah bantaran Kalicode Selatan. Terlebih, melihat fakta bahwa masih banyak anak-anak memiliki akses terbatas terhadap pendidikan formal, maupun yang tumbuh di lingkungan yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan pendidikan informal secara memadai. Apa yang dilakukan oleh pemerintah mungkin masih dirasakan belum cukup untuk memberikan kesempatan yang sama terhadap anak-anak yang berada di wilayah pinggiran, seperti halnya Kalicode Selatan. Dalam hal ini RBIB Jogja berusaha membantu mengisi kekosongan tersebut, yaitu memenuhi kebutuhan mereka akan hal pendidikan.

RBIB Jogja mencoba untuk memenuhi kebutuhan mereka akan pemahaman materi yang diajarkan secara formal di bangku sekolah. Ditambah, dengan pendidikan karakter yang secara perlahan diterapkan melalui kegiatan belajar dan bermain yang diracang oleh para volunteer setiap minggunya. Mayoritas adik-adik yang dibina merupakan warga RT 84 RW 19 Karanganyar (Tungkak), Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta. Beberapa di antaranya merupakan adik-adik pendatang yang berasal dari Alun-alun Utara. Jumlah adik RBIB sendiri kurang lebih berjumlah 30-40 adik, mayoritas bersekolah dan sebagian kecil putus sekolah.

  • Tujuan

RBIB memiliki harapan-harapan yang terangkum dalam visi yang telah dirumuskannya.

1. Indah Masa Depanku

2. Harmonis Keluargaku

3. Sejahtera Indonesiaku

Visi tersebut menggambarkan, bahwa RBIB menyadari bahwa setiap individu yang terlibat di dalamnya baik itu kakak-kakak ataupun adik-adik akan memiliki masa depan yang indah. Dan tentunya, menginginkan ‘Masa depan’ yang indah. Atau dalam artian setiap individu berani untuk memimpikan bagaimana ia ingin menjalani kehidupan di masa depan dan meraih kesuksesan di setiap bagian dari kehidupan mereka.

Tujuan utama dari RBIB adalah untuk memberikan pendidikan Alternatif, RBIB menawarkan metode pembelajaran yang berbeda dari kurikulum formal, dengan pendekatan yang lebih santai dan menyenangkan, terinspirasi oleh sistem pendidikan Luar Negeri. Ini termasuk pengajaran melalui permainan dan kegiatan interaktif.

Lalu tujuan pengembangan karakter, Selain pendidikan akademik, RBIB juga fokus pada pengembangan karakter dan sikap anak-anak, mengajarkan nilai-nilai moral dan sosial yang penting untuk kehidupan sehari-hari, yang dimaksud dari pengembangan karakter kata Ka Christy ”Pentingnya mengucapkan minta tolong, mohon maaf, dan terima kasih”

Meningkatkan Kesadaran Sosial, RBIB berusaha untuk meningkatkan kesadaran anak-anak tentang pentingnya pendidikan dan peran mereka dalam masyarakat, serta memberikan keterampilan yang diperlukan untuk masa depan. Dan Mewujudkan Visi Masa Depan yang Indah. Dengan visi "Indah Masa Depanku; Harmonis Keluargaku; Sejahtera Indonesiaku," RBIB berharap dapat membantu anak-anak meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas. RBIB terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dan memberdayakan masyarakat sekitar melalui berbagai program dan kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat serta dukungan dari para relawan.

Deskripsi Praktik Baik atau Pembelajaran

  • Langkah-langkah Implementasi

Untuk mewujudkan hal ini, RBIB memaknai bahwa untuk mewujudkan hal yang diinginkan tersebut, selayaknya dimulai dari lingkungan yang paling dekat, tidak lain adalah ‘Keluarga’. Nilai-nilai yang diberikan, serta kondisi yang dibentuk dari lingkungan keluarga sendiri dinilai memiliki kontribusi besar dalam membentuk setiap individu di masa mendatang. Karena itulah, jika fungsi sebuah keluarga yang sesungguhnya mampu dimengerti, akan lahir dari mereka keluarga-keluarga ‘Harmonis’ lain di masa depan dan seterusnya, yang akan mewujudkan Indonesia yang ‘Sejahtera’ di kemudian hari. Tentunya, Indonesia yang makmur, tentram, aman, yang terbebas dari jerat kemiskinan. Hal-hal di atas tentunya saling menopang satu sama lain. Dimana Indonesia yang sejahtera hanya akan terjadi apabila setiap individunya memiliki masa depan yang indah dan keluarga yang harmonis.

Implementasi Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) melibatkan beberapa langkah strategi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak di komunitas sekitar Sungai Code, Yogyakarta. Berikut adalah langkah-langkah utama dalam implementasi RBIB:

1. Pendirian dan Pengorganisasian

RBIB Didirikan pada 20 Mei 2013 oleh sekelompok mahasiswa yang peduli terhadap pendidikan anak-anak di daerah pinggiran. Mereka membentuk organisasi dengan struktur yang fleksibel agar anggota dapat bergabung dan berkontribusi tanpa ikatan formal. Dari cerita yang disampaikan mahasiswa-mahasiswa yang berinisiatif diantaranya kampus besar di yogyakarta UGM dan UNY.

2. Penentuan Lokasi dan Fasilitas

Lokasi kegiatan dipilih di bantaran Sungai Code, yang dianggap memerlukan perhatian lebih dalam hal pendidikan. Ruang kelas disediakan di rumah warga setempat, yang juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan fasilitas belajar, ketika ada kolaborasi yang membutuhkan tempat yang lebih besar dikatakan ”Biasanya menggunakan Balai Padukuhan untuk Tempat Indoor”.

3. Rekrutmen dan Pelatihan Relawan

RBIB merekrut relawan, sebagian besar adalah pelajar, yang bersedia meluangkan waktu untuk mengajar. Pelatihan informal dilakukan untuk memastikan relawan memahami metode pengajaran yang digunakan, termasuk pendekatan belajar sambil bermain. Ketika saya bertanya ada seleksi atau tidak, mereka menjawab ”tidak ada, karena semua yang mau ngeluangin waktu aja tanpa ada paksaan”.

4. Pengembangan Kurikulum dan Metode Pengajaran

Kurikulum dirancang untuk mencakup pembelajaran akademik serta pendidikan karakter. Metode pengajaran yang digunakan terinspirasi oleh sistem pendidikan luar, dengan fokus pada pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif. Karena target pembelajarannya anak-anak kecil tidak bisa belajar yang serius banget dan itu memerlukan permainan untuk memahami pembelajaran.

5. Pelaksanaan Kegiatan Belajar

Kegiatan belajar dilaksanakan dua kali seminggu pada hari Selasa dan Jumat, dari pukul 15.30 hingga 17.00 WIB. Kegiatan ini meliputi sesi belajar, permainan, dan diskusi untuk meningkatkan pemahaman materi. Masyarakat disana sudah mengerti dan terbiasa, ketika saya lewat gang-gang rumah mereka, pengurus RBIB hanya bilang ” RBIB Yuk, ayoo kumpul”.

6. Evaluasi

Setiap sesi akhir, dilakukan evaluasi untuk menilai kemajuan anak-anak serta efektivitas metode pengajaran. Diskusi antar relawan juga diadakan untuk merancang program pembelajaran ke depan dan berbagi ide. Evaluasi menurut saya juga sangat penting karena hal-hal yang kurang di hari ini akan jadi pembelajaran di hari kedepannya.

7. Penggalangan Dana dan Sumber Daya

Dana operasional RBIB berasal dari kontribusi relawan dan kontribusi masyarakat. Upaya untuk mencari sponsor atau donatur tetap juga dilakukan untuk mendukung program yang diinginkan. Setiap kegiatannya dijeskan ”ada berbagai donatur di setiap kegiatan yang kadang memberikan uang untuk dimasukkan ke kas, untuk membeli peralatan pembelajaran, seperti print’an atau buku”

Dengan langkah-langkah ini, RBIB berkomitmen untuk memberikan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di komunitas yang kurang terlayani, serta memberdayakan mereka untuk mencapai masa depan yang lebih baik.

  • Sumber Daya yang Digunakan

Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) memanfaatkan berbagai sumber daya untuk menjalankan program pendidikan dan kegiatan sosialnya. Yang saya tangkap sumber daya utama yang digunakan oleh RBIB seperti berikut:

Sumber daya manusia yang digunakkan merupakan volunteer atau relawan, yang memiliki minat dalam konsentrasi pendidikan. RBIB terus bergerak bersama volunteer yang berasal dari berbagai macam latar belakang ras, suku, agama, pendidikan maupun profesi. Mayoritas volunteer RBIB sendiri merupakan mahasiswa yang berasal dari berbagai kampus di Yogyakarta serta pelajar. Hingga kini, total volunteer yang rutin berpartisipasi dalam kegiatan belajar dan mengajar di RBIB berkisar 20 – 35 volunteer.

Sistem rekrutmen RBIB sendiri tergolong fleksibel dan tidak mengikat secara formal. Volunteer cukup meluangkan waktu dan tenaganya pada waktu-waktu belajar RBIB setiap minggunya. Kegiatan RBIB sendiri dibagi menjadi 2 yaitu:

1) Kegiatan belajar, mengajar dan bermain dengan adik-adik RBIB, dua kali dalam satu minggu pada hari Selasa dan Jumat, dari pukul 15.30 – 17.00 WIB.

2) Diskusi ringan bersama kakak-kakak volunteer (sharing RBIB).

Tujuan diadakannya Sharing RBIB sendiri sebagai ajang untuk tukar ide antar volunteer, merancang program pembelajaran selama satu minggu ke depan serta evaluasi mingguan, sekaligus menjalin keakraban antar volunteer.

Dan Sumber daya manusia lainnya adalah Masyarakat Lokal, RBIB juga melibatkan masyarakat sekitar dalam kegiatan, termasuk memberikan pelatihan keterampilan seperti kerajinan tangan dan pengolahan limbah. Serta Sumber Daya Fisik, yang digunakan dalam Komunitas RBIB, yaitu Ruang Kelas, Kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah warga setempat yang bersedia menyediakan ruangnya sebagai kelas. Misalnya, Ibu Ruth, seorang warga lokal sekaligus pendiri, menyediakan rumahnya untuk kegiatan RBIB. Dan Peralatan Pembelajaran, yang meskipun tidak memiliki fasilitas yang mewah, RBIB menggunakan alat-alat sederhana dan bahan terbuka yang dapat diakses untuk mendukung proses belajar.

Dana Operasional yang digunakan dalam komunitas RBIB, Yaitu Dana Mandiri, Dana operasional RBIB berasal dari sumbangan relawan dan masyarakat sekitar. Tidak ada sponsor tetap, sehingga keberlangsungan program sangat bergantung pada kontribusi sukarela.

Kegiatan Penggalangan Dana, RBIB juga mengadakan acara-acara komunitas untuk menggalang dana dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan. RBIB juga membuka pintu selebar-lebarnya bagi komunitas dari segala bidang atau minat untuk turut berpartisipasi berbagi ilmu ataupun keterampilan bersama adik-adik RBIB.

  • Kerja Sama dan Kemitraan

Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) di Yogyakarta menjalin berbagai kerja sama dan kemitraan untuk memperkuat program pendidikan dan meningkatkan kualitas kegiatan yang ditawarkan kepada anak-anak di komunitasnya. Ini adalah beberapa bentuk kerja sama dan kemitraan yang dilakukan oleh RBIB yang di publikasikan di sosial media:

RBIB sering bekerja sama dengan universitas, seperti Fakultas Psikologi Mercu Buana, untuk mengadakan pelatihan bagi relawan pengajar. Pelatihan ini mencakup berbagai teknik pendidikan, termasuk metode ”brain gym”, yang bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi dan efektivitas belajar anak-anak. Ini info yang didapatkan di website RBIB.

RBIB juga berupaya membangun kemitraan dengan masyarakat lokal untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan mendukung. Kegiatan ini meliputi diskusi, sharing pengalaman, dan evaluasi program secara berkala antara relawan dan masyarakat. Program ini masuk ke dalam Program Sarasehan, dimana para relawan berdiskusi pada masyarakat untuk bekerja sama menanggulangi masalah bersama, yang saya lihat ada diskusi mengenai ”Pentingnya Parenting yang baik”.

RBIB juga berkolaborasi dengan organisasi sosial lain yang memiliki visi serupa dalam bidang pendidikan. Ini membantu memperluas dukungan jaringan dan sumber daya yang tersedia untuk anak-anak di komunitas tersebut. Seperti yang pertama saya lihat saat survei ada 2 mahasiswa yang ingin mengajak kerja Sama RBIB untuk berpartitisipasi dalam acara kegiatan sosial mereka, hanya mendengar sekilas dan tidak tahu identitas jelas mereka, ada kata-kata ”nanti dikabarkan kembali untuk detail kegiatannya bu”

RBIB juga siap menjadi wadah para donatur, khususnya para FNB yang ingin mengadakan kegiatan bakti sosial belajar dan bermain dan juga mengirimkan makanannya kepada anak-anak yang membutuhkan, tergambar dari kegiatan ”BURGER BANGOR BERBAGI X RBIB” Pada 21 Oktober.

Dan Kerja sama terbaru pada Hari pahlawan tanggal 10 November bersama Steakmoenmoen.id, kegiatan mereka belajar dan mewarnai tentang pahlawan di toko steakmoemoen yang ada di Babarsari, dan pastinya memberikan experience baru untuk anak-anak makan steak dan berbagai bingkisan di toko tersebut.

Melalui berbagai kerja sama ini, RBIB berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang diberikan kepada anak-anak di Yogyakarta, serta memberdayakan mereka untuk mencapai masa depan yang lebih baik.

  • Inovasi yang Dilakukan

Untuk inovasi dalam ranah teknologi mungkin belum terlihat selama ini, tetapi hasil inovasi yang dimaksud dalam ranah pendidikan yaitu Kreatifitias dalam pendidikan. Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) di Yogyakarta telah menerapkan berbagai inovasi dalam pendekatan pendidikan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak di komunitas sekitar. Beberapa inovasi yang dilakukan oleh teman-teman RBIB yaitu,

1. Metode Pembelajaran Santai dan Interaktif

RBIB mengadopsi metode pengajaran yang terinspirasi oleh sistem pendidikan yang serius tapi santai, yang menekankan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak formal. Anak-anak diajarkan melalui permainan dan aktivitas interaktif, sehingga mereka dapat belajar dengan cara yang lebih menarik dan efektif.

2. Pengembangan Karakter dan Sikap

Selain pendidikan akademik, RBIB fokus pada pengembangan karakter anak. Program ini mencakup pembelajaran nilai-nilai moral dan sosial, sehingga anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan tetapi juga membangun sikap positif dalam kehidupan sehari-hari.

3. Latihan Brain Gym

RBIB mengadakan pelatihan brain gym sebagai relawan pengajar untuk meningkatkan konsentrasi belajar anak-anak. Pelatihan ini meliputi teknik-teknik fisik yang membantu mengoptimalkan fungsi otak kanan dan kiri, serta meningkatkan keterampilan motorik anak.

4. Kegiatan Belajar Berbasis Komunitas

RBIB melibatkan masyarakat lokal dalam kegiatan belajar, di mana relawan dari berbagai latar belakang dapat berpartisipasi dalam berbagi ilmu dan keterampilan. Ini memperkuat hubungan antara RBIB dan komunitas serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih terbuka.

5. Sistem Pembelajaran Mandiri

RBIB menerapkan sistem pembelajaran mandiri, di mana anak-anak didorong untuk berpartisipasi aktif dalam proses belajar. Ini membantu mereka mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap pendidikan mereka sendiri.

6. Kegiatan Sosial dan Hiburan

Selain fokus pada pendidikan, RBIB juga mengadakan acara sosial untuk masyarakat sekitar, seperti perayaan hari-hari besar. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun hubungan baik dengan masyarakat dan memberikan hiburan sekaligus pembelajaran.

Hasil dan Dampak

  • Indikator Kinerja

Indikator kinerja Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) di Yogyakarta mencakup berbagai aspek yang menunjukkan efektivitas dan dampak program pendidikan yang dijalankan. Berikut adalah beberapa indikator kinerja utama yang dapat digunakan untuk menilai RBIB:

Jumlah Peserta Didik, RBIB melayani sekitar 20-40 anak setiap sesi, dengan sebagian besar peserta adalah anak-anak dari keluarga rendah. Mengukur jumlah peserta didik membantu dalam menilai jangkauan program itu bekerja.Tingkat kehadiran anak-anak dalam kegiatan belajar mengajar, yang dilaksanakan dua kali seminggu, menjadi indikator penting untuk melibatkan keterlibatan dan minat mereka terhadap pendidikan .

Kualitas Pembelajaran, Diadakannya evaluasi terhadap metode pengajaran dan materi yang diajarkan, termasuk umpan balik dari peserta didik dan rekan pengajar. Kualitas pembelajaran dapat diukur melalui penilaian terhadap pemahaman materi oleh anak-anak. Pengembangan Karakter, Indikator ini mencakup perubahan perilaku dan sikap anak-anak setelah mengikuti program, seperti kemampuan berinteraksi sosial, disiplin, dan nilai-nilai moral yang diterapkan selama kegiatan.

Keterlibatan Relawan, Jumlah relawan yang aktif terlibat dalam program RBIB, serta tingkat partisipasi mereka dalam kegiatan belajar dan pelatihan, mencerminkan keberhasilan dalam menarik dukungan dari masyarakat. Umpan Balik dari Orang Tua dan Masyarakat, Mengumpulkan umpan balik dari orang tua tentang perkembangan anak-anak mereka serta memperingatkan masyarakat terhadap keberadaan RBIB dapat memberikan gambaran tentang dampak sosial program ini.

Program Pelatihan dan Pengembangan, Keberhasilan pelatihan yang diberikan kepada relawan pengajar, termasuk pelatihan brain gym dan teknik pembelajaran lainnya, diukur melalui evaluasi pasca-pelatihan. Inovasi dalam Pembelajaran, Penilaian terhadap inovasi yang diterapkan dalam metode pengajaran, seperti penggunaan buku pop-up atau kegiatan interaktif lainnya, untuk meningkatkan pengalaman belajar anak-anak.

Dengan menggunakan indikator-indikator ini, RBIB dapat melakukan evaluasi secara berkala terhadap kinerjanya dan terus beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak di komunitasnya secara lebih efektif.

  • Dampak pada Komunitas

Dampak pada komunitas Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) dapat dilihat dari beberapa perspektif, termasuk sosial, edukatif, dan psiko-emotif. Berikut adalah beberapa dampak yang signifikan:

Peningkatan Akses Pendidikan, Layanan Gratis, RBIB memberikan layanan pendidikan gratis kepada anak-anak di komunitas sekitar, yang biasanya tidak memiliki akses yang memadai ke pendidikan formal. Program Berkualitas. Program pendidikan yang dikembangkan oleh RBIB, termasuk metode pembelajaran santai dan interaktif, membantu meningkatkan minat belajar anak-anak.

Pengembangan Karakter, Nilai-Nilai Moral, RBIB tidak hanya fokus pada pendidikan akademik, tetapi juga mengintensifkan pembelajaran nilai-nilai moral dan sosial melalui kegiatan belajar dan bermain. Perilaku Positif , Aktivitas di RBIB membantu anak-anak mengembangkan perilaku positif seperti berinteraksi dengan baik dan menjalankan rutinitas harian dengan baik.

Solidaritas dan Keterlibatan Masyarakat Keterlibatan Orang Tua, RBIB berhasil melibatkan orang tua dalam proses pendidikan anak-anak, meningkatkan kesadaran sosial dan dukungan keluarga terhadap pendidikan. Komunikasi Efektif, Komunitas RBIB memiliki komunikasi yang efektif antar anggotanya, yang membantu menjaga solidaritas dan koordinasi dalam kegiatan.

Psiko-Emosional Penurunan Stres, Kegiatan di RBIB membantu mengurangi stres anak-anak dengan menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan ramah. Pertumbuhan Emosi, Melalui kegiatan interaktif, anak-anak dapat mengembangkan empati dan kemampuan berbicara di depan umum, meningkatkan keyakinan diri mereka.

Ekonomi Rakyat Penghematan Biaya, RBIB membantu menghemat biaya pendidikan bagi keluarga yang ekonomi rendah dengan menyediakan fasilitas belajar gratis. Pengembangan Bakat Program yang disampaikan oleh RBIB memungkinkan anak-anak mengembangkan bakat sesuai minat mereka, yang dapat membantu mereka memiliki arah yang jelas dalam karier di masa depan.

Dengan demikian, RBIB tidak hanya memberikan pendidikan yang berkualitas tetapi juga berdampak luas pada komunitasnya, meningkatkan kualitas hidup dan potensi anak-anak di wilayah sekitar Sungai Code Selatan.

  • Kisah Sukses atau Testimoni

Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) di Yogyakarta telah memberikan dampak positif yang signifikan bagi anak-anak dan masyarakat sekitar, yang tercermin dalam berbagai kisah sukses dan kesaksian dari orang tua serta anak didik. Berikut beberapa testimoni yang menggambarkan pengalaman positif mereka:

Testimoni dari Google Maps

Fitria Eranda: Kerja bagus, kegiatan menyenangkan bersama anak-anak di tepi sungai...

Lilik Likik: Kompak serempak cekatan disiplin dan ramah tamah.

Testimoni dari Volunteer

@fadila7520: Terimakasih adik-adik sudah berbagi keceriaan bersama

Testimoni dari Instagram

@myname_hartanti : Sukses acaranya...

@nola_projectt: So excited, see uuu in the next moment ... makasih semua *pelukjauh

Minus untuk testimoni di penulisan ini kurangnya informasi dari adik-adik yang diajar dan testimoni dari masyarkat, karena keterbatasan waktu yang sudah mau malam, setelah kegiatan RBIB.

RBIB juga berperan aktif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Melalui kegiatan-kegiatan yang melibatkan orang tua dan warga sekitar, RBIB berhasil membangun hubungan yang harmonis dalam komunitas. Kegiatan sosial yang diadakan pada perayaan-perayaan tertentu juga membantu mempererat tali silaturahmi antara RBIB dan masyarakat.

Keberhasilan Program

RBIB telah mencatatkan jumlah peserta didik sekitar 30-40 anak, dengan pengajar yang terdiri dari relawan siswa. Program ini tidak hanya fokus pada pendidikan formal tetapi juga mengembangkan karakter dan keterampilan sosial anak-anak. Dengan sistem pembelajaran yang fleksibel dan menyenangkan, RBIB berhasil menciptakan lingkungan belajar yang menguntungkan bagi pertumbuhan anak-anak.

Dengan berbagai testimoni positif ini, jelas bahwa RBIB telah memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan sosial di komunitasnya. Keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk terus mendukung pendidikan di daerah-daerah yang membutuhkan perhatian lebih.

Tantangan dan Cara Mengatasinya

  • Tantangan Utama

Anak-anak di komunitas Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) menghadapi berbagai tantangan yang unik dan kompleks. Berikut adalah beberapa tantangan utama yang dihadapi oleh pengajar di komunitas ini:

Keterbatasan Sumber Daya, RBIB beroperasi di lingkungan yang kurang beruntung, dengan anak-anak yang berasal dari latar belakang ekonomi rendah, seperti pengamen dan pengemis. Hal ini menyebabkan terbatasnya akses ke fasilitas pendidikan yang memadai, termasuk alat belajar dan ruang kelas yang sesuai. Dengan alat-alat yang seadanya tentu menjadi tantangan yang cukup sulit untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang berkualitas.

Ketidakmampuan Anak Didik, Meskipun jumlah anak yang dibesarkan terdaftar mencapai 40 orang, tidak semua anak hadir secara konsisten. Ketidakhadiran ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk tanggung jawab keluarga atau kegiatan lain yang lebih mendesak. Pasti ada saja kendala waktu dimana anak-anak memiliki kegiatan lain di hari weekday atau kegiatan RBIB.

Keterlibatan Orang Tua, Dukungan dari orang tua sangat penting dalam pendidikan anak. Namun, beberapa orang tua mungkin kurang terlibat atau tidak memahami pentingnya pendidikan, yang dapat mempengaruhi motivasi dan perkembangan anak. Orang tua yang sibuk juga bisa dijadikan sebagai kendala karena tidak adanya kontrol terhadap anak ketika kegiatan RBIB dilaksanakan.

Variasi Tingkat Pendidikan dan Kebutuhan Anak, Anak-anak di RBIB memiliki rentang usia dan tingkat pendidikan yang bervariasi, mulai dari kelompok bermain hingga sekolah menengah pertama. Ini menuntut pengajar untuk mengadaptasi metode pengajaran agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Ketika kegiatan mengarah kepada anak-anak yang lebih kecil seperti cerita, anak-anak yang sudah sedikit dewasa merasa sudah mengetahui, biasanya tidak mendengarkan dan asik sendiri dengan teman-teamannya.

Masalah Perilaku, Beberapa anak mungkin menunjukkan perilaku yang sulit akibat kekecewaan atau ketidakpahaman terhadap materi pelajaran. Pengajar perlu memiliki kesabaran dan strategi untuk mengelola perilaku ini tanpa menggunakan pendekatan disiplin yang keras.Banyak candaan yang dilakukan oleh anak-anak sehingga ada kasus becanda itu ke arah berantem dan itu sulit untuk di kontrol karena awalnya mengira itu hanya becanda tapi tangannya main pukul-pukulan.

Komunikasi dan Kolaborasi, Komunikasi yang efektif antara pengajar, orang tua, dan anggota komunitas sangat penting untuk mengidentifikasi masalah dan mencari solusi bersama. Namun, membangun jalur komunikasi ini bisa menjadi tantangan tersendiri.

Fleksibilitas dalam Metode Pengajaran, Pengajar di RBIB harus mampu beradaptasi dengan perubahan situasi dan kebutuhan anak didik, serta mencari cara kreatif untuk membuat pembelajaran menyenangkan dan menarik.

  • Strategi

Untuk mengatasi tantangan-tantangan diatas, munkin ini beberapa strategi yang dapat diterapkan:

Membangun Hubungan dengan Orang Tua, Dengan cara melibatkan orang tua dalam proses belajar mengajar dapat meningkatkan dukungan mereka terhadap pendidikan anak. Orang tua harus saling bantu terhadap pendidikan anak dan tidak bisa menyerahkan semua tanpa ada arahan yang jelas dari orang tua.

Penggunaan Metode Pembelajaran Kreatif, RBIB dengan berbagai kegiatan menerapkan metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan dapat membantu menarik minat anak-anak. Pembelajaran dari RBIB ini saya menilai sudah sangat beragam, dari membaca, menulis, menggambar, bernyanyi, dan berkesenian tari.

Pelatihan untuk Pengajar, Dengan memberikan pelatihan kepada pengajar mengenai cara menangani berbagai karakteristik adik-adik dan masalah perilaku. Dan terakhir Menciptakan Lingkungan Belajar yang terbuka, dengan cara menyediakan ruang bagi semua adik-adik untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

Dengan memahami tantangan ini dan menerapkan strategi yang tepat, RBIB dapat terus berfungsi sebagai wadah pendidikan yang bermanfaat bagi anak-anak di komunitas tersebut.

Pembelajaran dan Rekomendasi

  • Pembelajaran Utama

Pembelajaran utama di Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) Yogyakarta fokus pada pendekatan yang menyenangkan dan interaktif, mengintegrasikan pendidikan formal dengan pengembangan karakter dan keterampilan sosial anak-anak. Berikut adalah beberapa aspek kunci pembelajaran di RBIB:

1. Metode Pembelajaran Santai dan Interaktif

RBIB mengadopsi metode pengajaran yang terinspirasi oleh sistem pendidikan luar, yang dikenal karena pendekatannya yang tidak formal dan menyenangkan. Anak-anak diajarkan melalui permainan, kegiatan kreatif, dan interaksi sosial, sehingga mereka dapat belajar dengan cara yang lebih menarik dan efektif. Seperti pembelajaran membaca, mewaranai, menghitung dengan kegiatan sambil bermain. Ada kegiatan olahraga, seni musik, dan seni tari juga, biasanya dipentaskan dalam perayaan ulang tahun komunitas RBIB.

2. Pengembangan Karakter

Selain fokus pada materi akademik, RBIB juga menekankan pentingnya pengembangan karakter. Program-program di RBIB dirancang untuk mengajarkan nilai-nilai moral dan sikap positif, membantu anak-anak menjadi individu yang lebih baik dalam berinteraksi dengan orang lain. Menurut ka Christy ”Yang ditekankan kepada adik-adik adalah membiasakan kata-kata ajaib terucap kepada kakak-kakak maupun ke orang lain, yaitu kata tolong, maaf, dan terima kasih”.

3. Kegiatan Kreatif

Para relawan di RBIB sering menyisipkan kegiatan kreatif seperti menggambar, membuat permainan tradisional, dan menulis cerita atau puisi. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan kreatif anak-anak tetapi juga membangun kepercayaan diri mereka untuk berbicara di depan umum. Dan kegiatan RBIB sering berkunjung ke acara-acara seperti Hari Anak Nasional jadi adik-adik RBIB diajak untuk berkunjung dan berkegiatan di luar daerah tempat tinggalnya.

4. Pelatihan untuk Relawan

RBIB memberikan pelatihan kepada relawan pengajar mengenai teknik-teknik pembelajaran yang efektif, termasuk pelatihan brain gym untuk meningkatkan konsentrasi anak-anak. Pelatihan ini bertujuan untuk memaksimalkan potensi belajar anak melalui gerakan fisik yang mendukung fungsi otak. Pelatihan Brain Gym ini dilakukan di fakultas psikologi Universitas Mercu Buana pada Juli 2024 lalu.

5. Kegiatan Rutin

Pembelajaran di RBIB dilaksanakan dua kali seminggu pada hari Selasa dan Jumat, dengan sesi yang berlangsung dari pukul 15.30 hingga 17.00 WIB. Kegiatan ini mencakup pembelajaran akademik serta diskusi ringan antara relawan untuk merancang program pembelajaran ke depan.

6. Fleksibilitas dan Keterlibatan Komunitas

RBIB membuka pintu bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan, memungkinkan kolaborasi antara berbagai pihak untuk berbagi ilmu dan keterampilan. Ini menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung pertumbuhan anak-anak.

Dengan pendekatan-pendekatan ini, RBIB berhasil menciptakan suasana belajar yang tidak hanya mendidik tetapi juga menyenangkan bagi anak-anak, membantu mereka berkembang baik secara akademis maupun pribadi.

  • Rekomendasi untuk Replikasi atau Peningkatan

Replikasi atau peningkatan Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) Jogja dapat dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa faktor strategi berikut:

Memperkuat Komunikasi dan Kolaborasi. Komunikasi merupakan hal yang penting, dengan cara memperkuat komunikasi antara anggota komunitas, pengajar, dan anak didik. Hal ini dapat meningkatkan hubungan interpersonal dan kekeluargaan, sepe