Sosiologi Agama Mendukung SDGs 8 Tentang Pekerjaan Layak dan Perumbuhan Ekonomi
Membangun Desa Berkelanjutan:
Monitoring dan Evaluasi Pemberdayaan Masyarakat Dalam Aspek Ekonomi dan Sosial di Desa Wisata Gerabah Kasongan.
Fraya Fitria Fadiana
22105040018
Ringkasan Eksekutif
Kasongan merupakan sebuah desa kecil yang ada di Bantul, Yogyakarta. Desa Kasongan ini dikenal sebagai pusat kerajinan gerabah yang ada di Indonesia. Desa ini tepatnya berlokasi di Padukuhan Kajen, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kasongan terkenal akan pusat kerajinan gerabah yang terbesar di Indonesia, dengan puluhan pengrajin yang menghasilkan karya-karya seni keramik yang memukau, serta mempunyai ciri khas tersendiri. Kasongan menjadi saksi bisu perkembangan kerajinan tanah liat, yang saat ini terus berkembang dengan cara menggabungkan 2 hal, yaitu tradisi dan sentuhan inovasi modern. Tidak hanya peralatan rumah tangga saja, penduduk disana juga membuat berbagai macam barang olahan dari tanah liat, seperti guci, pot pigura, mainan anak, dan masih banyak lagi. Gerabah di desa ini memiliki keunikan tersendiri dan menjadi salah satu karya seni kerajinan tangan yang paling diminati oleh wisatawan baik domestik maupunn internasional.
Latar Belakang dan Tujuan
-
Sejarah Gerabah di Desa Kasongan
Kata gerabah ini berasal dari bahasa Jawa yang artinya mengacu kepada peralatan dapur. Kata gerabah jarang digunakan di luar pulau jawa, karena kata tersebut hanya digunakan oleh masyarakat Jawa. Sebutan gerabah hanya digunakan oleh masyarakat Jawa, sehingga kata gerabah jarang sekali digunakan di luar pulau Jawa. Sinonim dari gerabah ialah tembikar. Kata tembikar ini berasal dari Bahasa Melayu, yang mana maknanya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah barang yang dibuat dari tanah liat yang mana sudah dilapisi pelapis mengilap, yang sekarang di kenal masyarakat sebagai keramik. Sebenarnya, tembikar, gerabah, dan keramik itu mirip-mirip. Bedanya cuma di istilah aja. Intinya, semuanya dibuat dari tanah liat yang dibakar. Nah, kalau gerabah biasanya merujuk ke produk tradisional berbahan tanah liat yang pola pengerjaannya cenderung klasik dan nggak banyak berubah sejak zaman dulu. Sementara keramik lebih modern—nggak cuma soal bentuk, tapi juga fungsi dan teknologi pembuatannya yang terus berkembang. Karena itu, perkembangan keramik Indonesia juga dipengaruhi banyak hal, mulai dari bahan yang dipakai, cara membakar, teknik finishing, sampai strateginya buat dipasarkan. Kerajinan keramik di Kasongan jadi salah satu contohnya. Awalnya tradisional banget, tapi karena masyarakat terus melakukan inovasi akan produknya, barang tersebut akhirnya terus berkembang jadi barang yang estetik dan punya daya tarik tersendiri.(Raharjo, 2009)
Gerabah merupakan salah satu warisan budaya manusia yang sudah ada sejak zaman prasejarah. Teknik pembuatan gerabah ini diperkirakan muncul pada zaman Neolitikum, yaitu ketika ketika manusia sudah mulai hidup menetap dan mengenal sistem bercocok tanam. Di Indonesia, kita dapat melihat bukti peninggalan gerabah di beberapa daerah, misalnya Banyuwangi, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tenggara. Gerabah ini diperkirakan berasal dari Negara Cina, sekitar tahun 4000 SM. Awalnya, mereka membuat gerabah untuk kebutuhan rumah tangga, dengan menggunakan teknik yang sederhana, yaitu tanah liat yang gampang dibentuk, lalu dikeringkan dan dibakar.
Seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat mulai mengembangkan gerabah menjadi dua jenis berdasarkan kemampuan gerabah tersebut dalam menyerap air. Pertama, ada gerabah yang bisa menyerap air karena memiliki pori-pori di permukaannya. Jenis ini biasanya digunakan untuk barang-barang seperti bata merah, genteng, celengan, tungku, kuali, kendi, cobek, hingga tempayan. Gerabah ini memiliki fungsi yang khas, misalnya untuk menyimpan air atau digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Yang kedua, ada gerabah yang tidak bisa menyerap air. Jenis ini dibuat dengan teknik khusus yang mana pengrajin harus memastikan seluruh pori-porinya tertutup rapat. Biasanya, produk seperti ini disebut sebagai kerajinan keramik, dan contohnya termasuk tegel keramik, cangkir, piring, serta guci. Tak hanya itu, seiring dengan perkembangan zaman, pembuatan gerabah juga mengalami banyak inovasi. Teknik pembakaran dengan suhu tinggi mulai diterapkan untuk menghasilkan produk yang lebih kuat dan tahan lama. Selain itu, penggunaan glasir semakin populer, karena dapat membuat permukaan gerabah jadi lebih halus, mengkilap, dan estetik. Tidak hanya itu, gerabah juga menjadi wadah untuk mengekspresikan seni. Ukiran dan lukisan pada gerabah sering kali memuat cerita budaya dan tradisi lokal, yang mana hal tersebut menjadikan gerabah bukan hanya sebagai benda yang fungsional, tetapi juga karya seni yang penuh akan makna.
Desa Kasongan merupakan desa yang terletak di Kecamatan Kasihan ini telah lama dikenal sebagai pusat kerajinan gerabah ikonik, yang berada di Yogyakarta. Menurut sejarah, asal-usul nama Kasongan, sebagaimana tertulis di Museumku Gerabah Kasongan yang didirikan oleh mantan Rektor ISI Yogyakarta, yaitu Prof. Dr. Timbul Raharjo, nama Desa Kasongan ini bermula dari kisah Kiai Ngabdul Raupi, yang merupakan seorang guru spiritual Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro. Sejarah perkembangan industri gerabah di Desa Kasongan ini berawal dari masa penjajahan colonial, yang pada saat itu berawal dari Pangeran Diponegoro yang ditangkap dan diasingkan ke Makasar. Kiai Ngabdul Raupi yang merupakan guru spiritual Pangeran Diponegoro ini ikut membantu Pangeran Diponegoro untuk melawan penjajah Belanda (1825-1830). Pasukan Belanda marah dan mengejar Kiai Ngabdul Raupi bersama murid-muridnya. Singkat cerita, Ngabdul Raupi ini kemudian bersembunyi dan tinggal di wilayah yang sepi dan terisolasi sekitar 7 kilometer, sebelah selatan Keraton Ngayogjokarto Hadiningrat, tepatnya di sebelah barat Sungai Bedog. Tempat ini merupakan dataran rendah dengan penduduk yang miskin. Sebagai seorang guru spiritual, Ngabdul Raupi ini mengajarkan kepada masyarakat untuk selalu tabah dalam menghadapi kerasnya hidup di zaman penjajahan. Tak heran apabila masyarakat sekitar menganggapnya sebagai orang yang paham perihal sejatinya hidup maka dianggap sebagai tetua masyarakat sekitarnya. Untuk menyembunyikan diri berganti nama dengan nama Song yang berarti payung, sebagai payung pelindung masyarakat Kasongan. Masyarakat memanggil dengan Kyai Song yang dianggap memiliki kemampuan melindungi masyarakat. Tempat Kyai Song kemudian menjadi sebutan untuk wilayah sekitar yakni Kasongan yang berarti tempat kediaman Song.
Kehidupan penduduk pun mulai sengsara karena hasil tani mereka dirampas oleh penjajah. Akhirnya, Kyai Song mencoba mengajak penduduk setempat untuk tidak lagi bercocok tanam, tetapi mencoba mengolah tanah liat yang ada di desa ini untuk dijadikan kerajinan gerabah. Awalnya, gerabah itu berupa alat kebutuhan sehari-hari seperti kuali, anglo, dan keren. Dalam hal ini, beliau sangat ulet mengajari masyarakat Desa Kasongan untuk membuat gerabah dan karena keberhasilan Kyai Song inilah wilayah ini disebut sebagai Desa Kasongan. Makam Kyai Song juga berada diwilayah ini. Dalam penyamarannya, Kiai Ngabdul Raupi, yang diyakini berasal dari Tiongkok dan bernama asli Song, menyamar sebagai pengrajin dan seniman gerabah, sehingga penyamarannya tidak diketahui oleh pasukan Belanda. Jika menyamar sebagai petani, kemungkinan besar akan lebih mudah diketahui, terutama karena pada saat itu para petani dikenakan pajak tinggi oleh Pemerintahan Penjajah Belanda. Seiring berjalannya waktu, masyarakat dan pengikut Kiai Song dikenal sebagai pembuat gerabah, dan semakin terkenal di mana-mana. Akhirnya, daerah di sebelah barat Sungai Bedok ini dikenal dengan nama Kasongan, sebuah penyebutan yang umum di Jogja dengan penambahan awalan “ka” dan akhiran “an.”
Pada tahun 1930-an munculah seorang pengrajin handal yang bernama Soikromo, yang kemudian oleh masyarakat dipanggil nama “Jembuk”. Jembuk merupakan penggagas awal mula munculnya perubahan pembuatan gerabah menjadi seni kerajinan keramik. Ia membuat keramik yang berbeda dengan masyarakat Kasongan. Dengan kemampuan seni yang baik, dia menciptakan tempat untuk menabung uang yang sebelumnya menggunakan bambu yang diberikan lubang untuk memasukkan uang tersebut. Jembuk berinisiasi membuat alat menabung menggunakan gerabah. Karya Jembuk ini kemudian disebut sebagai celengan, dengan bentuk yang bulat, memiliki lubang horizontal jika dilihat mirip babi hutan (celeng), sedangkan aktivitas masyarakat disebut dengan nyelengi yang maknanya aktivitas menabung. Karena kreativitasnya dan kemampuannya dalam membuat barang seni, kemudian Jembuk membuat bentuk ayam, kuda, kodok, dsb, dengan sebutan yang sama, yaitu “celengan” meskipun bentuknya bukan lagi mirip pada babi hutan.(Terhormat et al., n.d.) Hasilnya memberikan nuansa lain, khususnya dalam hal desain baru yang dituangkan pada produk gerabahnya. Munculnya gebrakan baru tersebut tidak membuat sanggar-sanggar mengalami kemunduran. Bahkan, ada beberapa sanggar yang juga membuka pelatihan pembuatan gerabah untuk para pengunjung.
Lewat sentuhan kreatif para seniman yang masyhur di Kasongan, para pengrajin keramik Kasongan kemudian mulai menghadirkan berbagai inovasi, mulai dari bentuk, teknik pembuatan, sampai proses finishing yang lebih modern. Salah satu perubahan besar yang muncul adalah pergeseran fungsi keramik, dari yang awalnya hanya alat rumah tangga, kini menjadi karya seni yang estetik dan bernilai tinggi. Ini menunjukkan betapa terbukanya para pengrajin Kasongan terhadap ide-ide baru dari luar. Meski begitu, mereka tetap menjaga tradisi. Beberapa pengrajin masih membuat keramik tradisional untuk kebutuhan rumah tangga atau keperluan upacara adat. Hal ini menunjukkan keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian budaya. Dalam seni, keramik Kasongan memiliki 2 fungsi, yaitu “fungsi aktif”, yaitu keramik yang selain indah, juga memiliki kegunaan praktis, seperti halnya teko, atau guci yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan. Fungsi yang satunya ialah “fungsi pasif” yaitu karya yang diciptakan murni hanya sebagai pajangan, karena lebih mengedepankan nilai estetika.
Di Desa Kasongan, kerajinan keramik merupakan kelanjutan dari kerajinan gerabah yang telah diwariskan secara turun menurun oleh nenek moyang mereka. Keberadaan kerajinan keramik dengan berbagai potensi yang terkandung di dalamnya menjadi dorongan bagi para pengrajin untuk terus bertahan dan mengembangkan usaha tersebut. Selain itu, tingginya prospek ekonomi yang mengiringi kerajinan keramik tersebut dijadikan salah satu penyebab dari adanya kegiatan kerajinan keramik. Produk kerajinan keramik ini sudah meluas hingga pasar Internasional, seperti Eropa, Jepang, Australia, Kanada. Uniknya, pembeli dari luar negeri selain menyukai produk keramik dengan desain lokal, mereka juga memesan produk keramik yang sesuai dengan selera mereka. Bahkan di antara mereka ada yang membawa contoh desain produk dari negeri asalnya yang memiliki nilai jual tinggi, seperti patung Budha, patung tentara Cina, guci berbagai bentuk, pot persegi, dsb. Para pengrajin berusaha memenuhi pesanan dari pasar internasional sebaik mungkin. Maka dari itu, tidak heran apabila setiap hari banyak truk-truk kontainer yang berlalu lalang di desa ini untuk membawa produk keramik yang akan dikirim ke luar negeri melalui Pelabuhan Tanjung Emas yang berlokasi di Semarang. Di era globalisasi, khususnya dalam aspek ekonomi, sentra industri ini dapat bertahan dengan baik, bahkan semakin melejit setiap harinya. Meskipun terdapat kecenderungan global, seperti membanjirnya produk sejenis dari Cina yang memasuki pasaran Indonesia, namun barang impor itu belum mampu menyaingi produk seni kerajinan keramik Kasongan. Semua itu, karena produk seni kerajinan keramik Kasongan memiliki gaya seni yang khas, yang tidak dibuat di tempat lain.
-
Tujuan Desa Kasongan Menjadi Sentra Gerabah
Tujuan utama Desa Kasongan yang berlokasi di Kabupaten Bantul ini menjadi sentra gerabah ialah mendorong kemajuan ekonomi dan sosial masyarakat setempat melalui pengembangan kerajinan tradisional yang diwariskan oleh nenek moyang mereka secara turun menurun. Dengan hadirnya industri gerabah di Desa Kasongan ini memberikan kesempatan bagi para penduduk untuk berkontribusi dalam proses produksi, pemasaran, maupun pengelolaan usaha. Hal itu sesuai berdasarkan wawancara yang saya lakukan dengan Mas Magistyo Tahun Emas Raharjo, seorang pengrajin gerabah yang produknya telah menembus pasar internasional, ia menyampaikan bahwa perusahaannya selalu memberikan kesempatan kerja bagi warga sekitar. Hal ini tercermin dari fakta bahwa 80% pegawainya berasal dari lingkungan sekitar, dengan gaji yang diberikan di atas UMR. Selain itu, salah satu ketentuan untuk menjadi karyawannya adalah memiliki domisili dalam radius 8 km dari lokasi perusahaan. Sebelum menjadi karyawan tetap, calon karyawan akan mengikuti training dengan tenggat waktu 3 bulan. Mas Magistyo, atau yang akrab disapa Mas Magis juga mengatakan dalam waktu 3 bulan calon karyawan tidak menunjukkan perubahan yang besar, maka ia dengan berat hati memintanya untuk berhenti bekerja sama di perusahaannya, dan mencari karyawan baru yang memiliki komitmen lebih tinggi. Training calon karyawan atau masa orientasi karyawan baru ini bertujuan untuk memperkenalkan karyawan dengan sistem di perusahaan tersebut, rekan kerja, serta prosedur pekerjaan yang berlaku disana. Disana juga diajari bagaimana caranya membuat hasil karya yang memiliki nilai jual tinggi. Dengan kualitas produk yang tinggi dan desain yang kreatif, produk gerabah di Desa Kasongan ini mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional, sehingga terkesan kurang dalam membawa nama baik Indonesia di pasar internasional. Selain itu, training karyawan juga bertujuan untuk meningkatkan kompetensi karyawan serta membantu mereka agar bisa bekerja lebih efektif.
Selain itu, Desa Kasongan ini ingin mempertahankan dan melestarikan tradisi pembuatan gerabah yang telah menjadi identitas budaya lokal, upaya ini dilakukan untuk menjaga keunikan tradisional yang kelak akan diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagai destinasi wisata budaya, Desa Kasongan ini bertujuan untuk mendukung sektor pariwisata melalui promosi seni. Dengan mengadakan berbagai pilihan unik seperti pelatihan yang diadakan untuk masyarakat umum, mengunjungi Museumku Gerabah yang dibangun oleh Bapak Timbul Raharjo, pemerintah desa berharap hal ini dapat menarik minat wisatawan dan meningkatkan perekonomian masyarakat. Desa Kasongan kemudian menjadi destinasi wisata kreatif, yang dapat menarik wisatawan untuk belajar tentang bagaimana proses pembuatan gerabah sekaligus membeli produk lokal hasil karya warga. Hal ini meningkatkan pendapatan desa melalui sektor pariwisata. Dengan meningkatnya perekonomian suatu desa, maka meningkat pula kesejahteraan masyarakatnya, termasuk peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Deskripsi Baik Praktik atau Pembelajaran
-
Langkah-langkah Pembuatan Gerabah
Berdasarkan wawancara dengan salah satu karyawan yang sedang melakukan proses packing gerabah untuk dikirim ke luar kota, proses pembuatan gerabah di Desa Kasongan ini dilakukan secara tradisional dengan sentuhan seni yang khas. Pembuatan kerajinan gerabah di Desa Kasongan ini melibatkan beberapa tahapan yang tentunya memerlukan keahlian, kesabaran, serta ketelatenan yang tinggi. Adapun proses pertama dari pembuatan gerabah ini ialah pemilihan tanah liat yang berkualitas tinggi, yang memiliki kaarakteristik tertentu, seperti mudah dibentuk dan tidak mudah pecah saat dikeringkan. Setelah itu, tanah liat dicampur dengan air hingga sesuai dengan bentuk yang tepat, sehingga mudah dibentuk. Teknik selanjutnya ialah teknik pembentukan gerabah, yang mana menggunakan beberapa teknik, yaitu teknik putar, teknik lelet, dan teknik cetak. Ada juga teknik tambal yang bertujuan untuk menambah detail atau memperbaiki bentuk gerabah yang telah dibentuk. Ketika langkah ini, pengrajin mulai membentuk dasar produk seperti pot, guci, atau hiasan sesuai dengan desain. Setelah bentuk dasar selesai, pengrajin menambahkan detail seperti ukiran, pola atau hiasan lainnya yang menambah nilai estetika.
Langkah selanjutnya adalah membiarkan produk yang telah dibentuk agar kering secara alami selama beberapa hari di bawah sinar matahari. Pengeringan ini bertujuan untuk mengurangi kadar air sebelum produk masuk ke dalam tahap pembakaran. Selanjutnya adalah proses pembakaran, yang mana gerabah yang telah kering kemudian dibakar dalam oven atau tungku dengan suhu yang tinggi. Pembakaran ini bertujuan untuk menguatkan struktur gerabah dan memberikan warna khas pada produk di akhir. Suhu ketika proses pembakaran ini dijaga agar produk tidak pecah. Proses pembakaran ini biasanya memakan waktu selama 4-5 jam, tergantung ukuran dan ketebalan dari gerabah tersebut. Setelah proses pembakaran, gerabah dapat dicat sesuai dengan desain yang diinginkan namun harus tetap hati-hati agar hasilnya menarik dan dapat tahan lama. Yang terakhir adalah proses pemasaran. Dalam proses pemasaran ini, biasanya para pengrajin akan memanfaatkan media sosial, atau website seperti milik PT.Timboel.
-
Sumber Daya yang Digunakan
Proses pembuatan gerabah di Desa Kasongan ini sebagian besar melibatkan tenaga kerja lokal, dimana sekitar 80% pengrajin berasal dari masyarakat setempat. Keterlibatan ini tidak hanya mencerminkan adanya kekuatan solidaritas masyarakat di desa tersebut, tetapi juga suatu upaya bersama untuk mendorong perekonomian lokal. Dalam setiap tahapan produksinya, mulai dari langkah awal hingga finishing, keterampilan tangan para pengrajin merupakan faktor utama, karena mereka harus menjaga kualitas suatu produk. Penguasaan teknik tradisional dan kesabaran mereka merupakan pondasi utama dalam mempertahankan ciri khas gerabah Kasongan ini. Namun, seiring perkembangan zaman, terdapat tantangan serius yang muncul dalam menjaga kelangsungan tradisi ini. Pengrajin yang terlibat aktif mayoritas berasal dari generasi tua, sementara generasi muda kurang tertarik untuk bergabung dalam proses pembuatan gerabah. Banyak di antara mereka memilih merantau ke luar kota untuk mencari pekerjaan yang dianggap lebih bergengsi. Kondisi ini mengakibatkan sulitnya proses regenerasi pengrajin, yang berpotensi mengancam kelangsungan tradisi kerajinan gerabah khas Kasongan.
Generasi muda di Desa Kasongan ini lebih banyak memilih untuk merantau ke luar kota, dan mencari pekerjaan yang mereka anggap lebih prestisius serta memberikan peluang karier yang lebih luas. Mereka menganggap bahwa pekerjaan sebagai pengrajin gerabah dianggap kurang menarik karena sifatnya yang tradisional dan membutuhkan ketekunan tinggi. Hal ini mengakibatkan proses regenerasi pengrajin berjalan sangat lambat, bahkan hampir terhenti. Padahal, regenerasi ini sangat penting untuk menjaga tradisi kerajinan khas Kasongan agar tetap hidup di tengah arus modernisasi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, keberadaan Kasongan sebagai sentra gerabah yang sudah diakui hingga tingkat internasional dapat terancam. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis seperti edukasi, pelatihan, serta insentif yang menarik bagi generasi muda agar mau terlibat dalam dunia kerajinan gerabah. Hanya dengan komitmen bersama antara masyarakat dan pihak terkait, tradisi gerabah Kasongan dapat terus bertahan dan berkembang.
-
Kerjasama dan Kemitraan
Kerjasama dan kemitraan yang telah dijalin oleh para pengrajin di Kasongan tentunya memainkan peran yang sangat penting dalam pengembangan industri kerajinan gerabah. Sebagai desa yang dikenal sebagai sentra kerajinan gerabah, yang mana menghasilkan berbagai produk seperti keramik, guci, dan patung. Dengan lebih dari 300 pengrajin yang terlibat, kawasan ini mampu menembus pasar internasional, terutama di Eropa dan Asia. Kerjasama antara pengrajin lokal dan eksportir menjadi kunci untuk memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh pembeli dari luar negeri, seperti desain dan kualitas produk yang pastinya memiliki nilai jual yang cukup tinggi.
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Ngadiyono, selaku ketua dari Koperasi Usaha Bersama, sekaligus penduduk asli di Desa Kasongan ini, pengrajin gerabah disini sudah menjalin berbagai kemitraan dengan pihak-pihak yang memiliki peran signifikan dalam pengembangan usaha mereka. Salah satu mitra utama adalah Pemerintah Kabupaten Bantul, yang melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi serta Unit Pelayanan Teknis (UPT), memberikan dukungan berupa pelatihan, pendampingan, pembangunan infrastruktur, dan subsidi. Pemerintah berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengrajin dengan menyediakan pelatihan manajemen produksi, pemasaran, dan keuangan. Selain itu, infrastruktur seperti tungku pembakaran dan alat produksi modern juga disediakan untuk mempermudah proses kerja. Dukungan ini bertujuan untuk memastikan keberlangsungan industri gerabah Kasongan dan membantu pengrajin beradaptasi dengan tuntutan pasar modern. Pemerintah dan organisasi non-pemerintah tentunya harus berperan aktif dalam mendukung pemberdayaan ekonomi pengrajin melalui program pelatihan dan penguatan modal. Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah pembentukan kelompok-kelompok pengrajin atau asosiasi, seperti Koperasi Setya Bawana, Koperasi Usaha Bersama, dan beberapa koperasi lainnya yang mana memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh para pengrajin. Kemitraan ini tidak hanya terbatas pada aspek pemasaran, tetapi juga meliputi akses terhadap informasi pasar dan pembiayaan. Dengan adanya dukungan ini, para pengrajin diharapkan mampu meningkatkan daya saing mereka di pasar global.
Kerjasama yang lainnya adalah dengan berbagai pihak swasta, salah satunya adalah PT.Timboel yang didirikan oleh mendiang Bapak Timbul Raharjo. Perusahaan ini tidak hanya berfokus pada produksi gerabah yang berkualitas tinggi untuk pasar ekspor, tetapi juga berperan sebagai showroom untuk hasil karya para pengrajin kecil yang ada di Kasongan. Selain itu, PT Timboel juga kerap memfasilitasi pelatihan dan seringkali berbagi pengetahuan tentang inovasi desain serta teknik produksi. Peran tokoh seniman seperti Sapto Hudoyo dan Ir. Larasati Suliantoro juga memberikan kontribusi yang signifikan dalam hal ini, terutama dalam pengenalan teknik seni baru, seperti metode “lelet” untuk patung dan teknik pewarnaan menggunakan cat tembok. Inovasi ini memperkaya variasi produk gerabah Kasongan sekaligus meningkatkan daya tariknya di pasar, baik lokal maupun internasional.
Kerjasama yang berikutnya adalah dengan beberapa koperasi. Adapun koperasi yang saya ketahui berdasarkan wawancara dengan Bapak Nangsib adalah Koperasi Usaha Bersama, Koperasi Senen Kliwon dan Koperasi Usaha Bersama, yang mana mendukung pengrajin yang merupakan anggota koperasinya dalam hal pemasaran, dan pengaturan harga. Dengan adanya koperasi ini, pengrajin dapat mengatasi tantangan modal serta mengkoordinasikan penetapan harga untuk menghindari persaingan yang tidak sehat di antara mereka.
-
Inovasi yang Dilakukan
-
Membuka Program Magang
Di Desa Kasongan, terdapat kesempatan bagi mahasiswa dan siswa SMK untuk melakukan magang. Beberapa lembaga pelatihan dan pengrajin di Kasongan, seperti Nangsib Keramik, terbuka untuk menerima mahasiswa yang ingin belajar dan berkontribusi dalam proses pembuatan gerabah. Magang di sini tidak hanya memberikan pengalaman praktis, tetapi juga memperkenalkan peserta pada budaya dan teknik kerajinan lokal yang telah ada sejak lama. Selama proses magang, peserta akan terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari melakukan observasi mengenai bagaimana proses pembuatan gerabah hingga melakukan praktik langsung yaitu membuat produk keramik. Mereka juga mendapatkan bimbingan dari pengrajin lokal yang memiliki pengetahuan mendalam tentang teknik dan tradisi kerajinan gerabah. Hal ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis peserta tetapi juga memberi mereka wawasan tentang aspek bisnis dan pemasaran produk kerajinan. Dengan adanya program magang ini, para mahasiswa dan siswa SMK tidak hanya memperoleh pengalaman berharga tetapi juga dapat berkontribusi pada pengembangan ekonomi kreatif di Kasongan. Partisipasi mereka dalam industri kerajinan lokal dapat membantu mempromosikan produk gerabah ke pasar yang lebih luas dan memperkuat komunitas pengrajin di desa tersebut.
-
Mengadakan pelatihan
Inovasi lain yang dilakukan oleh para pengrajin gerabah disini ialah membuka pelatihan untuk masyarakat umum. Biasanya, yang mengikuti pelatihan ini adalah murid TK, SD, SMP,SMA, yang mana berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta. Langkah ini menjadi jembatan antara pelestarian seni tradisional dan pengembangan potensi komunitas. Dalam pelatihan ini, peserta diajak untuk mengenal proses pembuatan gerabah dari awal hingga akhir, mulai dari membentuk tanah liat, proses pengeringan, hingga tahap pembakaran dan finishing. Pendekatan ini tidak hanya memberi pengalaman langsung, tetapi juga meningkatkan pemahaman masyarakat tentang seni tradisional yang menjadi identitas Desa Kasongan. Pelatihan ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan budaya, tetapi juga berperan dalam pengembangan perekonomian lokal. Melalui pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga memiliki potensi untuk mengembangkan usaha di bidang kerajinan gerabah. Selain itu, program ini menarik wisatawan domestik maupun internasional untuk merasakan pengalaman langsung membuat gerabah. Kehadiran mereka tidak hanya membawa dampak positif bagi pengrajin, tetapi juga menghidupkan sektor pariwisata Kasongan. Hal ini membuktikan bahwa inovasi berbasis seni dan edukasi mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.
-
Mengadakan Lomba Design Untuk Mencari Inovasi Baru
Dalam hal ini, pemerintah seringkali menyelenggarakan lomba design- finishing bagi para pengrajin yang bertujuan mendorong terciptanya inovasi baru dalam desain produk kerajinan. Melalui lomba ini, pemerintah memberikan ruang bagi para pengrajin agar mereka mengeksplorasi kreativitas mereka, sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk mempromosikan nilai seni dan budaya lokal yang mereka miliki. Kegiatan ini selain meningkatkan kualitas produk, juga dapat membuka peluang pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Lomba desain ini juga menjadi ajang untuk para pengrajin agar mereka dapat memahami trend pasar yang terbaru, dan memperkaya wawasan mereka dalam hal teknik produksi. Tujuan lain dari perlombaan design ini adalah untuk mencari ide kreatif yang nantinya memiliki nilai estetika tinggi untuk dipasarkan.
-
Turut Serta dalam Pameran
Para pengrajin gerabah di Kasongan juga turut aktif dalam berpartisipasi pada berbagai pameran, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional, sebagai strategi untuk memperluas jaringan pasar dan menarik minat pembeli. Keikutsertaan dalam pameran ini memungkinkan para pengrajin memamerkan produk-produk unggulan mereka secara langsung kepada calon pembeli, termasuk eksportir dan distributor dari luar negeri. Melalui pameran, pengrajin tidak hanya dapat memperkenalkan keunikan dan kualitas produk mereka, tetapi juga mendapatkan umpan balik dari pasar untuk mengembangkan desain dan inovasi yang sesuai dengan trend global. Lewat pameran ini, mereka juga bisa mengevaluasi hasil karya mereka sendiri. Bapak Nangsib memaparkan bahwa para pengrajin di Desa Kasongan ini seringkali mengikuti pameran yang dibiayai oleh pemerintah, setiap 1 tahun sekali.
-
Ekspor
Salah satu inovasi yang sudah lama dilakukan oleh pengrajin gerabah adalah melakukan pemasaran ke luar negeri atau biasa disebut ekspor. Para pengrajin gerabah telah melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan daya saing di pasar ekspor. Mereka telah mengembangkan desain modern yang menggabungkan unsur tradisional dan kontemporer, karena para pengrajin mencoba menyesuaikam produk mereka sesuai dengan tren global. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Nangsib, salah satu alasan produk dari Desa Kasongan ini bisa tembus ke pasar internasional adalah penggunaan alat yang masih sederhana dalam proses produksi, misalnya ketika pembakaran api dengan suhu yang tinggi dan menggunakan pewarna yang ramah lingkungan dapat meningkatkan kualitas produk. Hal yang paling utama dalam ekspor adalah pemasaran. Di era digital ini, rasanya kurang puas apabila kita hanya memasarkan dengan cara turut serta dalam berbagai pameran yang dibiayai oleh pemerintah. Perlahan, pengrajin mulai memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produk secara global melalui marketplace dan media sosial. Mereka juga memperoleh sertifikasi internasional, seperti produk eco-friendly, dan menjalin kemitraan dengan pemerintah atau lembaga internasional dalam pelatihan dan promosi. Dengan inovasi ini, pengrajin gerabah tidak hanya memperluas pasar ekspor, tetapi juga memperkuat identitas lokal di pasar global.
-
Adanya “Museumku Gerabah”
MuseumKu Gerabah itu merupakan sebuah galeri yang dibangun oleh mendiang Bapak Timbul Raharjo, yang kemudian dikenal sebagai MuseumKu Gerabah Timbul Raharjo. Pak Timbul Raharjo merupakan seniman asal Kasongan, yang merupakan mantan rektor di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Museum ini tidak hanya tempat untuk memamerkan hasil dari kerajinan gerabah, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan sebagai bentuk apresiasi seni kerajinan tradisional dari Indonesia itu sendiri. Dengan koleksi yang beragam, mulai dari gerabah tradisional hingga karya modern yang berbasis gerabah, museum ini menjadi jembatan untuk menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus sebagai wadah untuk memperkenalkan seni gerabah kepada para generasi muda dan wisatawan yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Konsep museum ini menurut saya cukup unik, karena pengunjung tidak hanya menikmati karya seni secara visual, tetapi juga diajak untuk memahami bagaimana proses kreatif di balik setiap karya. Pak Timbul memanfaatkan ruang ini untuk menampilkan berbagai inovasi desain yang mencerminkan perpaduan antara tradisi dan modernitas. Museum ini tidak hanya menampilkan pameran saja, tetapi juga menyediakan program interaktif seperti workshop membuat gerabah, dimana para pengunjung dapat merasakan pengalaman langsung dalam menciptakan karya mereka sendiri. Dampak positif dari adanya tempat ini adalah museum ini menjadi magnet wisata yang menarik pengunjung dari berbagai daerah, baik lokal maupun mancanegara, memberikan peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Berdasarkan wawancara dengan Mas Magistyo Tahun Emas Raharjo, selaku pemilik MuseumKu Gerabah, yang merupakan putra mendiang Timbul Raharjo memaparkan bahwa museum tersebut merupakan keinginan ayahnya sekaligus sebagai wadah untuk mengenalkan sejarah desa itu yang lekat dengan industri gerabahnya. Museum ini diresmikan pada 8 November 2023. Pembangunan museum ini berlangsung kira-kira 3 tahun, dan kemudian diresmikan untuk umum. Di museum ini, ada sekitar 80-100 koleksi, yang terbagi menjadi 3 kategori. Musium yang pertama, menjelaskan tentang sejarah Desa Kasongan. Yang kedua, yang berada di bagian tengah, ada koleksi dari Desa Kasongan pada saat ini, dan yang terakhir ada museum khusus yang berisi karya Pak Timbul itu sendiri.
Peta Model Pemberdayaan
Hasil dan Dampak
-
Indikator Kinerja
Hasil dari kinerja masyarakat di Desa Wisata Gerabah Kasongan dalam aspek sosial dan ekonomi sangatlah signifikan. Dalam aspek sosial, masyarakat berhasil menciptakan solidaritas yang cukup kuat melalui kerja sama dalam hal memproduksi kerajinan, pengelolaan desa wisata, dan aktivitas yang berbasis komunitas lainnya, yang secara tidak langsung meningkatkan kebersamaan satu sama lain. Tradisi pembuatan gerabah yang dilakukan secara turun-menurun dan terus dilestarikan, membuatnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas budaya lokal yang saat ini dikenal oleh masyarakat luas. Selain itu, pemerintah juga sering mengadakan workshop yang diadakan khusus bagi para pengrajin yang tidak hanya meningkatkan keterampilan individu, tetapi juga mampu membuat masyarakat merasa terdorong untuk terus melakukan inovasi demi mempertahankan daya tarik masyarakat baik lokal maupun internasional. Dengan adanya industri gerabah, mereka juga memiliki lapangan pekerjaan baru, dan tidak hanya bergantung di satu sektor misalnya bergantung pada sektor pertanian. Masyarakat Desa Kasongan juga menjadi lebih terampil dalam hal pembuatan gerabah hingga proses finishing. Masyarakat Desa Kasongan juga menjadi lebih mandiri karena adanya kelompok para pengrajin seperti koperasi, yang mana mampu mengelola usaha mereka secara mandiri dan sustainable atau berkelanjutan.
Dalam aspek ekonomi, keberadaan Desa Kasongan sebagai desa wisata telah memberikan peluang besar bagi masyarakat lokal untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Usaha kerajinan gerabah menjadi sumber pendapatan utama bagi banyak keluarga, sementara sektor pariwisata yang berkembang pesat menciptakan peluang baru, seperti membuka toko kerajinan, kafe, atau menyediakan jasa pemandu wisata. Tidak hanya itu, branding Desa Kasongan juga lebih dikenal oleh masyarakat luas, tidak hanya masyarakat lokal tetapi juga masyarakat mancanegara, karena produk dari Desa Kasongan ini berhasil menembus pasar internasional melalui promosi digital, misalnya promosi lewat website seperti yang dimiliki oleh Pt.Timboel. Keuntungan lainnya adalah meningkatnya wisatawan domestik dan mancanegara yang datang langsung untuk melihat bagaimana proses pembuatan gerabah, hingga proses packing dan siap kirim. Dengan banyaknya produk dari Desa Kasongan yang diekspor keluar negeri, membuat masyarakat semakin menghargai dan melestarikan warisan budaya lokal melalui seni pembuatan gerabah tersebut. Warga juga akan memiliki kesadaran untuk selalu menjaga kebersihan desa mereka agar desa mereka tidak dinilai buruk oleh pengunjung. Secara keseluruhan, keberhasilan masyarakat Kasongan menunjukkan bahwa sinergi antara budaya lokal dan inovasi ekonomi dapat menciptakan kemajuan yang berkelanjutan.
-
Dampak Pada Komunitas
Keberadaan Desa Gerabah Kasongan ini memberikan dampak yang sangat signifikan bagi para komunitas lokal, terutama dalam aspek sosial, ekonomi, dan budaya. Secara sosial, desa ini menciptakan solidaritas yang lebih kuat di antara warga melalui kerja sama dalam produksi, pemasaran, dan pengelolaan desa wisata. Interaksi dengan wisatawan dapat memperluas wawasan masyarakat lokal tentang budaya luar. Manfaat dari diadakannya pelatihan-pelatihan terkait kerajinan adalah meningkatkan pendidikan nonformal dan keterampilan masyarakat lokal itu sendiri. Dalam hal ekonomi, desa Kasongan ini menjadi sumber kehidupan bagi banyak keluarga, karena desa ini menggantikan sektor agraris tradisional. Usaha kerajinan gerabah dan pariwisata memberikan angin segar bagi mereka, karena membuka peluang baru, seperti toko kerajinan, homestay, dan bisnis kuliner yang mana secara signifikan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Produk yang telah dipasarkan baik untuk domestik maupun mancanegara memberikan dampak ekonomi yang besar dan memperluas jaringan usaha komunitas. Tidak hanya dalam hal ekonomi dan sosial saja, namun masyarakat juga turut menilai dampak keberadaan Desa Kasongan ini terhadap mereka dalam aspek budaya. Dari sisi kebudayaan, desa ini berhasil melestarikan tradisi pembuatan gerabah yang telah diwariskan dari nenek moyang, sehingga menjadi ikon akan kebanggaan lokal.
-
Testimoni
Berikut adalah hasil wawancara saya dengan salah satu warga, sekaligus pengrajin yang bernama Bapak Rosyid. Beliau mengatakan sebagai berikut:
“Sebagai seorang pengrajin yang telah menghabiskan sebagian besar hidup saya di Desa Kasongan, saya merasa sangat bangga dengan keberadaan desa ini sebagai sentra gerabah. Desa Kasongan bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga rumah bagi warisan budaya yang telah kami jaga dan kembangkan selama bertahun-tahun. Kerajinan gerabah di desa ini tidak sekadar menghasilkan barang-barang fungsional, tetapi juga karya seni yang membawa cerita dan identitas budaya kami ke tingkat internasional. Saya sering melihat bagaimana para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, terpesona dengan keunikan produk kami, dari pot hingga guci berukir indah. Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras seluruh komunitas yang terus berinovasi tanpa melupakan tradisi. Dengan dukungan pemerintah dan mitra lainnya, kami berhasil memasarkan produk ke pasar global, dan itu sangat membanggakan. Saya percaya bahwa Desa Kasongan akan terus menjadi contoh desa mandiri yang mampu menjaga tradisi sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman.”
Tantangan dan Cara Mengatasi
-
Tantangan Utama
Berdasarkan wawancara dengan beberapa warga, mereka mengaku bahwa tantangan utama di Desa Kasongan ini adalah ketika sudah memasuki musim hujan dan mereka mendapatkan pesanan dari luar negeri. Mereka mengaku, pembeli dari luar negeri seringkali membatalkan pesanan sepihak, tanpa memperdulikan perkembangan dari pesanan mereka. Hal tersebut membuat para pengrajin merasa dirugikan sepihak, karena pesanan dari mereka pastinya memiliki nilai jual yang tinggi. Untuk mengahadapi permasalahan kekurangan bahan baku, para pengrajin sudah mengantisipasinya dengan cara membeli tanah liat dari luar daerah, yaitu daerah Godean dan Wonosari.
Tantangan lainnya adalah rendahnya partisipasi anak muda dalam melanjutkan tradisi pembuatan gerabah, yang mana hal ini mengambat proses regenerasi. Banyak anak muda yang lebih memilih bekerja di sektor lain atau merantau ke luar kota, dan meninggalkan bisnis kerajinan orang tua mereka. Mereka menganggap bahwa bisnis tersebut cenderung kurang adaptif terhadap perkembangan zaman. Hal ini semakin diperburuk dengan kesulitan generasi tua dalam hal promosi, terutama di era digital yang membutuhkan pemanfaatan teknologi untuk memperluas pemasaran produk. Ketidakmampuan mereka untuk memanfaatkan media sosial dan platform e-commerce membuat produk gerabah Kasongan kurang kompetitif dibandingkan dengan produk modern lainnya. Jika tantangan ini tidak segera diatasi, keberlanjutan tradisi gerabah di Desa Kasongan bisa terancam. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, komunitas lokal, dan pihak swasta untuk menghadirkan solusi yang inovatif dan inklusif.
-
Strategi Mitigasi
Strategi mitigasi dari permasalahan yang dihadapi Desa Kasongan dapat dilakukan dengan melakukan pendekatan berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak. Untuk mengatasi keterbatasan ketersediaan tanah liat, desa dapat mulai menerapkan diversifikasi bahan baku dengan memanfaatkan material alternatif, seperti serbuk keramik daur ulang atau bahan campuran lainnya, serta mengelola sumber daya tanah liat yang ada secara lebih bijak melalui konservasi dan kerja sama dengan pemerintah setempat. Masalah musim hujan dapat diatasi dengan membangun fasilitas pengeringan modern, seperti oven atau ruang pengering bertenaga surya, yang memungkinkan proses produksi tetap berjalan tanpa ketergantungan pada cuaca. Selain itu, pengaturan jadwal produksi musiman yang lebih efektif juga dapat membantu memenuhi kebutuhan pasar sepanjang tahun.
Permasalahan rendahnya partisipasi dari anak muda dapat ditangani dengan memberikan pelatihan keterampilan, baik dalam pembuatan kerajinan, desain modern, maupun pemasaran digital, sehingga mereka merasa lebih tertarik dan terlibat dalam melanjutkan tradisi. Program inkubasi wirausaha juga dapat mendorong anak muda untuk memulai usaha berbasis kerajinan gerabah dengan dukungan modal dan bimbingan yang memadai. Di sisi lain, kesulitan generasi tua dalam promosi dapat diminimalkan melalui pelatihan pemasaran digital, termasuk pemanfaatan media sosial dan platform e-commerce, atau dengan menciptakan kemitraan lintas generasi, di mana anak muda membantu generasi tua dalam memasarkan produk mereka. Dengan langkah-langkah ini, Desa Kasongan tidak hanya mampu menghadapi tantangan yang ada tetapi juga dapat mempertahankan keberlanjutan tradisi gerabah dan meningkatkan kesejahteraan komunitas secara menyeluruh.
Pembelajaran dan Rekomendasi
-
Pembelajaran Utama
Pembelajaran utama yang ada dari proses evaluasi dan monitoring ini menggambarkan bagaimana Desa Kasingan ini berhasil mengembangkan dirinya menjadi desa yang berkelanjutan dengan mengintegrasikan tradisi lokal dan melakukan berbagai macam inovasi modern. Sebagai sentra pengrajin gerabah, desa ini menunjukkan bahwa warisan budaya seperti pembuatan gerabah ini menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan apabila dikelola secara strategis. Melalui berbagai macam inovasi dalam hal desain, teknik produksi, dan pemasaran, desa ini mampu menarik pasar internasional sekaligus mempertahankan daya tarik lokalnya. Keberhasilan ini pastinya juga didukung oleh kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak, antara masyarakat, pemerintah, koperasi, dan sektor swasta yang menyediakan pelatihan, infrastruktur, dan peluang pemasaran. Produk gerabah Kasongan yang menembus pasar global menjadi bukti bahwa kombinasi antara kualitas, kreativitas, dan identitas budaya lokal mampu bersaing di kancah internasional. Selain itu, Desa Kasongan juga menjadi destinasi wisata edukatif, di mana wisatawan tidak hanya menikmati keindahan seni kerajinan tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam proses pembuatan gerabah.
Namun, tantangan yang dihadapi desa ini, seperti keterbatasan bahan baku tanah liat, kendala musim hujan, rendahnya partisipasi generasi muda, dan kesulitan promosi di era digital, menuntut perhatian serius. Regenerasi pengrajin menjadi salah satu isu krusial, karena mayoritas pengrajin saat ini berasal dari generasi tua. Oleh karena itu, pelatihan keterampilan, program magang, serta insentif untuk generasi muda sangat diperlukan untuk menjaga kelangsungan tradisi ini. Selain itu, pengembangan teknologi pengeringan modern dan diversifikasi bahan baku menjadi langkah strategis untuk menghadapi kendala produksi. Promosi digital melalui media sosial dan e-commerce juga perlu ditingkatkan agar produk gerabah Kasongan tetap kompetitif. Pembelajaran dari Desa Kasongan ini menunjukkan bahwa pembangunan desa berkelanjutan tidak hanya memerlukan pengelolaan sumber daya yang efektif tetapi juga kolaborasi dan inovasi yang terus berkembang, sehingga tradisi dan ekonomi dapat berjalan beriringan untuk kemajuan masyarakat.
-
Rekomendasi untuk Replikasi atau Peningkatan
Menurut saya, untuk replikasi atau peningkatan, Desa Kasongan ini dapat menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan potensi lokal mereka secara berkelanjutan. Adapun Langkah-langkah yang dapat dilakukan, yaitu, pertama yang dapat direplikasi adalah pelestarian tradisi lokal dengan mengintegrasikan inovasi modern, baik dalam desain maupun teknik produksi. Setiap desa dapat mengidentifikasi keunikan tradisional mereka, seperti kerajinan, seni, atau produk lokal, untuk dikembangkan menjadi daya tarik utama. Selain itu, membangun kolaborasi yang erat antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta, seperti yang dilakukan Kasongan, sangat penting untuk menciptakan ekosistem yang mendukung. Pemerintah daerah dapat memfasilitasi pelatihan, menyediakan infrastruktur, dan mempromosikan produk desa secara lebih luas melalui pameran dan platform digital. Untuk meningkatkan keberhasilan, Desa Kasongan dapat lebih mengoptimalkan penggunaan teknologi digital dalam berbagai aspek, terutama dalam hal pemasaran. Pemanfaatan media sosial, platform e-commerce, dan sertifikasi internasional seperti eco-friendly dapat memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk. Selain itu, regenerasi pengrajin menjadi langkah penting yang perlu diperkuat. Program pelatihan berbasis teknologi modern dan wirausaha kreatif dapat menarik generasi muda untuk melanjutkan tradisi dengan cara yang lebih adaptif. Program magang dan lomba desain juga dapat dikembangkan lebih intensif untuk memotivasi anak muda berpartisipasi dalam inovasi desa. Dengan langkah-langkah ini, Desa Kasongan tidak hanya mempertahankan keberlanjutan tradisinya tetapi juga menjadi pusat inovasi yang relevan di tengah dinamika global. Strategi ini dapat menjadi acuan bagi desa lain untuk membangun kemandirian ekonomi sekaligus melestarikan budaya lokal mereka.
Kesimpulan
Sebagai salah satu desa wisata yang berbasis kerajinan di Indonesia, Desa Kasongan telah membuktikan bahwa pelestarian budaya lokal dapat berjalan seiring dengan inovasi dan kemajuan ekonomi. Melalui kerja sama yang erat antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta, desa ini mampu memanfaatkan potensi kerajinan gerabah sebagai penggerak utama perekonomian, sekaligus melestarikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keberhasilan Desa Kasongan tidak hanya dilihat dari meningkatnya taraf hidup masyarakat, tetapi juga dari bagaimana desa ini menjadi destinasi wisata kreatif yang menarik perhatian domestik maupun internasional. Namun, keberlanjutan ini menuntut perhatian terhadap tantangan seperti regenerasi pengrajin, kendala produksi akibat musim hujan, dan keterbatasan bahan baku. Dengan berbagai inovasi dan strategi mitigasi, Desa Kasongan telah menunjukkan bahwa kolaborasi dan inovasi adalah kunci untuk membangun desa yang mandiri dan berkelanjutan. Pengembangan teknologi, program pelatihan, dan promosi digital dapat menjadi solusi untuk menjawab tantangan yang ada, sekaligus menciptakan peluang baru bagi generasi mendatang. Desa Kasongan mengajarkan bahwa desa-desa lain di Indonesia memiliki peluang serupa jika mampu menggali potensi lokal mereka dan mengelolanya dengan cara yang strategis. Dengan pendekatan yang berkelanjutan, Desa Kasongan menjadi contoh inspiratif bahwa tradisi dan modernisasi dapat berjalan beriringan untuk membangun komunitas yang lebih sejahtera dan berdaya saing.