Sosiologi Agama Mendukung SDGs ke-8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth)”Pemberdayaan Ekonomi Melalui Pelatihan Membatik Gratis di Kelurahan Semaki Gede Umbulharjo

“MONITORING DAN EVALUASI PEMBELAJARAN/BEST PRACTICE SDG’S PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN”

“Pemberdayaan Ekonomi Melalui Pelatihan Membatik Gratis di Kelurahan Semaki Gede Umbulharjo : Mendukung SDGs ke-8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth)”

Oleh : Hanifatul Hasanah 22105040061

  1. Ringkasan Eksekutif

Pemberdayaan ekonomi melalui pelatihan membatik gratis yang di laksanakan di Joglo Balai Agung Ndalem Nitipuran Semaki Gede ini memiliki tujuan untuk memberdayakan ekonomi masyarakat yang ada di kelurahan tersebut dengan memberikan pelatihan dan keterampilan membatik gratis sebagaimana sesuai dengan SDG’s ke-8 yaitu pekerjaan yang layak dan Pertumbuhan ekonomi. Pemberdayaan memiliki dampak yang positif bagi masyarakat sekitar yang dimana pada awalnya mereka tidak memiliki penghasilan dengan mengikuti pelatihan membatik gratis ini mereka bisa mendapatkan penghasilan secara perlahan. Selain itu juga bertujuan untuk menyalurkan keterampilan dan bakat yang dimiliki masyarakat setempat ketika keterampilan dan bakat itu tidak bisa di salurkan karena kurangnya sumber daya yang mereka miliki sehingga keterampilan tersebut tidak bisa di kembangkan. Yang melatar belakangi adanya pelatihan membatik gratis ini berawal dari Pak Wawan yang ingin membantu ibu-ibu yang tidak memiliki pekerjaan yang hanya mengandalkan gaji dari suaminya saja dengan itu Pak Wawan berinisiatif untuk membentuk pemberdayaan ini dengan bekal yang sudah Pak Wawan miliki. Adanya pelatihan ini masyarakat sangat antusias dan mendukung karena mereka tidak mengeluarkan sedikit pun biaya akan tetapi merekalah yang mendapatkan penghasilan.

Dengan adanya pelatihan membatik gratis ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan lapangan pekerjaan baru, serta dapat mempererat tali silaturahmi antar masyarakt. Pemberdayaan ekonomi dengan pelatihan ini tidak hanya berdampak pada orang yang di berdayakan saja akn tetapi meiliki dampak dengan hasil batik yang telah di produksi dapat meningkatkan ekonomi sekitar dan dapat juga membentuk generasi-generasi baru yang dapat memberikan kualitas dan inovasi lebih lanjut tentang perbatikan. Langkah awal yang di gunakan dalam pemberdayaan ini yaitu dengan memberikan pelatihan, lalu mempraktekan hasil pelatihan, meingkatkan kualitas produksi lalu tahap pemasaran. Pemasaran hasil produksi dari pemberdayaan ini langsung di serahkan kepada Pak Wawan yang akan di distributorkan di toko batik milik pemberdayaan tersebut bernama Batik Setiti Mas. Selain dapat meningkatkan pendapatan pemberdayaan ini sangat bermanfaat untuk memberkuat warisan budaya-budaya lokal yang sekarang sudah banyak yang hampir hilang. Dengan demikian keberlanjutan pemberdayaan tersebut tergantuk pada sumber daya manusia yang ada, ketika sumber daya manusia sangan mendukung dan berpartisipasi maka pemberdayaan tersebut akan terus berjalan. Dan hasil dari monitoring tersebut menunjukan bahwa pemberdayaan ekonomi dengan pelatihan batik gratis sangat membantu perekonomian masyarakat dan masyaakat sangat mendukung adanya peelatihan batik gratis ini.

  1. Latar Belakang dan Tujuan

  1. Latar Belakang

Negara Indonesia adalah negara penghasil batik terbesar dan banyak sekali orang Indonesia yang memiliki kemampuan dalam bidang membatik, akan tetapi terkadang mereka tidak bisa mengembangkan atau menyalurkan bakat yang mereka miliki akibat tidak adanya sumber dana dan fasilitas yang memadai untuk menerapkan keterampilan tersebut. Batik merupakan suatu warisan budaya asli Indonesia yang masih dilestarikan dan dikembangkan hingga saat ini dengan mengupgrade batik dengan motif yang lebih modern dan mensatu padukan motif-motif nasional hingga internasional. Adanya pelatihan membatik gratis yang dilakukan di Joglo Balai Agung Ndalem Nitipuran Semaki ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengembangkan batik dan membantu mensejahterakan ekonomi masyarakat terutama ibu-ibu yang memiliki potensi membatik. Pelatihan membatik gratis adalah salah satu pemberdayaan ekonomi yang berdiri pada 13 Januari 2007 kurang lebih 8 tahun yang dibentuk oleh Bapak Wawan Edi selaku ketua RW.07 Semaki Gede. Pelatihan membatik gratis ini tidak hanya dilakukan oleh ibu-ibu saja akan tetapi dilakukan oleh bapak-bapak yang memiliki jiwa keterampilan yang tinggi selain itu juga diikuti dari berbagai kalangan dari anak-anak remaja hingga lansia.

Memiliki nama lengkap Setya Wawan Edi, anak dari seorang pengusaha sukses yang memiliki beberapa perumahan mewah dan bisnis-bisnis lainnya. Diantara bisnis yang dilakukan oleh Pak Wawan yaitu pertama sebagai direktur utama PT. Maseja Kesaja, Owner Mitra Group, dan Owner Astra Honda Autorized 1742. Pelatihan ini dilaksanakan di Joglo Balai Agung Cendana Griya Nitipuran RW 7 Semaki Gede Kelurahan Semaki Kecamatan Umbulharjo Daerah Istimewa Yogyakarta secara gratis dan kurang lebih sudah berjalan selama 18 tahun lamanya. Sebelum di bangungnya joglo kegiatan pelatihan membatik gratis ini dilakukan di halaman rumah Pak Wawan dengan alat yang seadanya menggunakan bambu sebagai penyangga dan terpal sebagai penutup agar tidak kepanasan, kemudian setelah lama kelamaan mulai maju dan dibuatkan tempat sendiri akan tetapi tempat yang digunakan saat ini sudah berubah lagi dan tempat dulu itu sudah alih fungsi menjadi garasi mobil Pak Wawan. Dalam waktu 18 tahun terakhir sudah kurang lebih sudah ada3.900 peserta yang telah mengikuti pelatihan tersebut dan peserta itu tidak hanya dari Kelurahan Semaki saja maupun Kota Yogyakarta, akan tetapi berasal dari berbagai wilayah seperti Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunung Kidul, Klaten, Purworejo dan bahkan ada beberapa Warga Negara Asing (WNA) yang berasal dari Malaysia dan Inggris sengaja datang untuk mengikuti pelatihan tersebut yang mereka lihat dari Youtube dan berita-berita. Dan juga sudah banyak dari mereka yang mengikuti pemberdayaan ekonomi membatik gratis ini telah membuka pelatihan batik sendiri karena mereka sudah berhasil melewati uji kelayakan untuk membuka pelatihan dan sudah mendapatkan sertifikat sejara resmi.

Selain itu awal mula adanya pelatihan membatik gratis ini berawal dari Pak Wawan yang pada waktu itu diperintahkan oleh orang tuanya kuliah jurusan seni di salah satu Universitas yang ada di Singapura sehingga Pak Wawan memiliki potensi dalam bidang seni membatik karena pada kuliah waktu itu mengambil jurusan Kriya. Ketika sedang masa kuliah Pak Wawan di perintahkan oleh orang tuanya mengikuti pelatihan sekolah batik nasional selama 3 bulan lamanya pada tahun 1977. Setelah selesai menempuh pelatihan Pak Wawan pun harus mensosialisasikan dan mengabdi hasil pelatihannya ke masyarakat agar masyarakat memperoleh pengetahuan tersebut. Pengabdian itu dilakukan oleh Pak Wawan selama kurang lebih 1,5 (satu setengah bulan) lamanya. Padahal pada saat itu dari pihak Universitas hanya memberikan ijin selama 3 bulan, Pak Wawan pun merasa bingung ketika menerima kenyataan ketika harus terjun ke masyarakat, sedangkan Pak Wawan masih memiliki tanggungan perkuliahan yang hanya diberi ijin selama 3 bulan. Ketika masa pengabdiannya di masyarakat telah selesai Pak Wawan akhirnya kembali ke Universitas untuk menyelesaikan masa studinya. Akan tetapi ketika sesampainya di Singapura bapak Wawan langsung di panggil oleh dosen lalu diberi secarik kertas yang itu berisi surat DO (Drop Out), sehingga membuat Bapak Wawan terkejut dan akhirnya memutuskan pulang kembali ke Indonesia. Adanya surat berita pengeluaran mahasiswa tersebut tidak diketahui oleh kedua orang tua Pak Wawan hingga saat ini orang tuanya sudah meninggal.

Dengan ini Bapak Wawan merasa sangat menyesal dan kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa menyelesaikan kuliah yang dinantikan oleh kedua orang tuanya hingga tamat dan akhirnya malah dikeluarkan tanpa sepengetahuan orang tuanya hingga orang tua Pak Wawan meninggal dunia tidak mengetahui berita tersebut. Untuk membalas rasa kekecewaan orang tua Pak Wawan tersebut akhirnya Pak wawan mulai membuka pelatihan membatik gratis tersebut untuk membalas jasa orang tuanya yang sudah menyekolahkan Pak Wawan dengan biaya yang tidak sedikit dengan mengadakan pelatihan membatik gratis tersebut. Pak Wawan pada saat itu mulai mempromosikan peltihan membatik gratis ini melalui dengan membuat iklan-iklan di koran harian seperti koran, KR (Kedaulatan Rakyat), Koran Suara Merdeka dan koran-koran lainnya dan juga mempromosikan lewat tulisan yang dibuat oleh bapak wawan menggunakan Kertas dan Spidol lalu di tempelkan di Pos Ronda, Masjid, Balai pertemuan dan tempat-tempat umum lainnya. Peserta pertama dalam program membatik gratis ini adalah warga sekitar kediaman Bapak Wawan yang pada awalnya tidak begitu berjalan dengan lancar karena kendala tidak adanya peserta yang mengikutinya. Program batik gratis ini secara sah diresmikan tahun 2007 hingga saat ini masih berjalan dengan baik dan rutin. Pada tahun 2021 pemberdayaan ekonomi ini ditunjuk langsung oleh Gusti Kanjeng ratu Hemas sebagai perwakilan dari kota Yogyakarta dalam event Yogyakarta International Biennale dan itu tercatat di World Craft Council.

  1. Tujuan

Adanya pemberdayaan ekonomi dengan program membatik gratis ini awalnya untuk membayar kesalahan Pak Wawan kepada orang tuanya karena merasa bersalah karena tidak bisa menyelesaikan kuliah dengan baik dan juga untuk membantu perekonomian masyarakat di Kelurahan Semaki gede yang memiliki kelebihan yaitu membatik sehingga Pak Wawan berusaha mengayomi dan mengajarkan satu per satu setiap orang yang mengikuti pelatihan tersebut. Selain itu bertujuan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dan diharapkan dapat meningkatkan lapangan pekerjaan baru, untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang mandiri dan maju, sebagaimana sesuai dengan SDG’s ke 8 yaitu pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi. Dan ternyata setelah adanya program membatik gratis ini melihat banyak keterampilan yang dimiliki ibu-ibu dan bapak-bapak akan tetapi mereka tidak bisa menyalurkannya. Hal itu diceritakan oleh Pak Wawan ketika baru beberapa kali diberikan pelatihan para ibu-ibu sudah mulai bisa membatik dengan baik dan benar karena memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Dibalik pemberdayaan ekonomi ini menyimpan kisah, Pak Wawan yang ingin membalas jasa orang tua Pak Wawan yang sudah menyekolahkannya akan tetapi Pak wawan malah dikeluarkan tanpa sepengetahuan orang tuanya. Dengan itu pak wawan ingin membalas jasa yang telah di korbankan oleh kedua orang tua pak wawan dengan mengadakannya program pemberdayaan eknomi dengan membatik gratis ini.

  1. Deskripsi Praktik Baik atau Pembelajaran

  1. Langkah-langkah Implementasi

Program membatik gratis ini dimulai dengan memberikan pelatihan kepada ibu-ibu daerah Kelurahan Semaki Gede agar memiliki potensi membatik yang lebih baik dalam memproduksi batik. Pelatihan batik ini pada awal-awal merintis dilakukan dilakukan setiap hari yang itu di adakan langsung oleh Pak Wawan. Pada saat itu Pak Wawan memberikan sosialisasi tentang membatik dan mengadakan pelatihan batik secara mandiri atau perseorangan tanpa mendatangkan pelatih batik dari luar. Akan tetapi lama kelamaan yang mengikuti program pemberdayaan ekonomi ini mulai banyak sehingga Pak Wawan sudah mulai kewalahan jika itu dilakukannya secara sendiri. Maka dari itu Pak wawan mendatangkan pelatih-pelatih ahli membatik yang di datangkan dari luar kota. Adapun pelatih yang di datangkan oleh Pak Wawan berasal dari berbagai kota penghasil batik terbaik seperti Pekalongan dan Yogyakarta. Setelah diberi pelatihan para pesertapun diberikan kesempatan untuk mempraktekkan hasil dari pelatihan tersebut menggunakan fasilitas yang sudah disediakan oleh Pak Wawan secara gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun. Ketika mereka berhasil dalam membuat batik hingga ke tahap terakhir produksi batik, ketika sudah menjadi kain batik, kain tersebut dibeli oleh Bapak Wawan itu sendiri. Dan uang dari hasil penjualan batik itu diberikan lagi pada orang yang berhasil memproduksi batik tanpa di ambil sedikitpun oleh Pak Wawan. Kemudian Pak Wawan mengemas batik tersebut hingga menarik dan ketika sudah dikemas dengan baik dan rapi Bapak Wawan bekerjasama dengan temannya yang memiliki toko penjualan kain batik sehingga membuat akses penjualan itu mudah. Karena hasil produksi batik yang tidak sedkit Pak Wawan akhirnya membangun toko penjualan batik sendiri yang bernama Batik Setiti Mas yang itu menjual semua hasil batik dari pemberdayaan ekonomi dengan membatik gratis ini. Selain itu Pak wawan juga mulai memproduksi dan menjahit baju yang berkolaborasi dengan tukang penjahit baju atau konveksi. Dan hingga saat ini sudah menjual ratusan kain batik dan baju batik hasil dari pemberdayaan ekonomi dengan program membatik gratis ini. Dalam rangka hari batik nasional tahun 2024 kemarin yang diadakan oleh Kementrian perindustrian balai besar kerajinan dan batik pemberdayaan ekonomi ini mengirimkan 16 peserta untuk mengikuti pelatihan berbasis kompetensi untuk meningkatkan kualitas dan produksi batik yang dihasilkan.

  1. Sumber Daya yang digunakan

Dalam melaksanakan program ini, sebagaimana yang diceritakan bapak wawan karena ingin menebus rasa kesalahan pada orang tuanya karena Pak Wawan tidak bisa menyelesaikan pendidikan kuliah dengan baik. Dengan itu semua biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan pemberdayaan program membatik gratis tersebut murni dari dana yang dikeluarkan dari kantong Pak Wawan pribadi tanpa ada bantuan biaya dari pemerintahan maupun iuran dari peserta ataupun iuran dari masyarakat yang ada di desa setempat. Dari tahun 2007 hingga tahun 2024 per tanggal 31 maret 2024 kemarin Pak Wawan sudah menghabiskan biaya sebesar 2.193.560.000 rupiah (dua milyar rupiaah lebih) untuk program membatik gratis ini. Mengapa bisa sampai segitu banyak, karena semua bahan baku dan peralatan-peralatan yang digunakan untuk membatik itu semua dibeli dengan uang pribadi Pak Wawan. Fasilitas yang digunakan untuk pemberdayaan ini yaitu bertempat di Joglo Balai Agung Semaki Gede Ndalem Nitipuran yang di bangun oleh pemerintah Kota Yogyakarta dan bergandengan dengan Ruang Terbuka Hijau Semaki Gede. Peresmian Joglo sekaligus Peresmian Toko Batik Setiti Mas milik pemberdayaan ekonomi yang dimiliki oleh Pak Wawan mengundang dan diresmikan langsung oleh Gusti Kanjeng Ratu Hemas dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tanggal 7 Desember 2009. Adapun beberapa perlengkapan yang digunakan dalam proses membatik yaitu, kain, malam, kompor, wajan, canting, pewarna alami, tawas, kapur, tunjung, soda abu dan cawang. Dan juga beberapa pewarna alami yang dipilih oleh Pak Wawan seperti Jawale untuk warna kuning, jambal untuk warna merah tua, Tinggi untuk warna Coklat, Mahoni untuk warna Pink, Secang untuk warna merah muda dan tegar untuk warna kuning. Adapun harga pewarna alami yang digunakan oleh bapak wawan yaitu sebesar 42.000/kg. Pewarna alami ini dipilih Pak Wawan karena sebagai bahan baku yang bersifat ramah lingkungan tanpa menggunakan bahan-bahan kimia.

  1. Kerjasama dan Kemitraan

Adanya program membatik gratis ini tentunya harus memiliki tempat untuk mendistributorkan hasil dari program tersebut agar adanya sirkulasi dalam program ini. Hasil batik yang diperoleh dari program membatik gratis ini di jual pada toko batik yang dimiliki Pak Wawan pribadi unrtuk menampung hasil batik dari pemberdayaan tersebut yaitu bernama Batik Satiti Mas. Dalam program ini Pak Wawan bekerjasama dengan beberapa toko-toko batik yang dimiliki oleh temannya untuk mendistributorkan hasil dari membatik tersebut agar semua produksi yang dihasilkan dapat terjual dan ibu-ibu yang mengikuti program tersebut mendapatkan penghasilan. Akan tetapi jangan khawatir jika batik tersebut tidak laku, karena jika tempat pendistributoran batik tidak menerima hasil tersebut Pak Wawan lah yang membeli semua batik yang berhasil dibuat oleh seluruh masyarakat yang mengikuti dalam program membatik gratis ini kemudian Pak Wawan lan yang akan memasarkan batik tersebut.

Pada saat itu pernah bekerjasama dengan lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat Universitas Ahmad Dahlan dengan memberikan wawasan tentang beberapa teknologi canggih yang bisa digunakan dalam pewarna alami batik. Selain itu juga Pak wawab pernah bekerjasama dengan pemerintahan untuk membatu di beri fasilitas untuk pelaksanaan program pemberdayaan tersebut yaitu di buatkan Joglo Balai Agung oleh pemerintahan kota Yogyakarta. Selain itu Pak Wawan membebaskan semua orang yang berhasil membuat batik untuk menjualnya kemana saja dengan harga yang telah mereka patok sendiri, salah satunya mereka banyak menjualnya di aplikasi online seperti facebook. Dan jika kain tersebut tidak laku-laku maka pak wawan lah yang akan membeli kain tersebut dan di produksi menjadi baju lalu di jual di toko batik milik Pak Wawan.Karena hasil batik yang mereka kerjakan adalah sudah menjadi hak bagi mereka dan jadi terserah mau di jual ke toko milik pemberdayaan atau mau di jual sendiri dengan harga yang sudah mereka tentukan. Adapun harapan yang di miliki oleh masyarakat yang mengikuti pemberdayaan ekonomi dengan membatik gratis yaitu hasil produk batik mereka bisa keberjasama dengan orang-orang yang memiliki perushaan batik di luar negeri sehingga produk batik yang mereka hasilkan bisa masuk ke pasar-pasar internasional dan juga sekaigus memerkenalkan kearifan lokal yang masih di lestarikan hingga saat ini.

  1. Inovasi yang dilakukan

Inovasi merupakan sesuatu yang digunakan untuk membuat pembeda produk batik yang di hasilkan dari pemebrdayaan tersebut dengan batik-batik lainnya. Salah satu inovasi yang di gunakan sebagaimana di ceritakan oleh Pak Wawan selaku pengelola pemberdayaan tersebut yaitu dengan menggabungkan atau menyatu padukan desain motif batik mulai dari desain motif yang tradisional hingga motif-motif internasional. Pada umumnya batik hanya bisa digunakan untuk membuat busana akan tetapi beberapa batik di sini di desain untuk bisa di buat sebagai bahan tas dengan kualitas kain yang lebih tebal. Selain itu inovasi yang di lakukan tidak bolehnya menggunakan pewarna yang berbahan kimia sedikit pun karena semua batik yang dihasilkan harus menggunakan pewarna dari bahan alami sehingga mungkin inilah yang menjadi salah satu ciri khas yang ada dari hasil produksi batik dari program pemberdayaan tersebut. ppada waktu itu juga pernah di adakanyaa edukasi oleh Universitas Ahmad Dahlan tengan teknologi-teknologi canggih yang dapat di gunakan sebagai alat pewarna alami. Setelah adanya sosialisasi yang dilakukan oleh Universitas Ahmad Dahlan tentang teknologi yang digunakan untuk mewarnai batik mereka sekarang sedikit demi sedikit sudah mulai menggunakan teknologi tersebut. Selain itu belum ada inovasi-inovasi lain yang ada pada program pemberdayaan ini karena di masyarakat luas saana belum mengetahui bahwa di Joglo Balai Agung ini ada pemberdayaan ekonomi gratis yang bisa meningkatkan perekonomian dan mewariskan budaya lokal indonesia. Selain itu Pak Wawan lebih mengutamakan orang yang mengikuti pemberdayaan iyu dari masyarakat daerah kelurahan Semaki sehingga dapat membantu eknomi mereka lebih maju dan mandiri sekaligus menjadi peluang tempat lapangan pekerjaan.


  1. Peta Model Pemberdayaan

  1. Hasil Dan Dampak

  1. Indikator Kinerja

Dari tahun 2007 pemberdayaan ini berdiri sudah kurang lebih 3.900 peserta yang mengikuti dan kebanyak dari mereka sudah berhasil membuka usaha sendiri setelah mengikuti program pemberdayaan tersebut. Hal tersebut menunjukan bahwa masyarakat sangat berpartisipasi dengan adanya program pemberdayaan ekonomi ini selain menyalurkan bakat keterampilan juga dapat meningkatkan ekonomi yang mandiri pada masyarakat yang semulanya mereka sebatas Ibu Rumah Tangga biasa yang tidak memiliki penghasilan dengan mengikuti program pemberdayaan tersebut mereka sudah berhasil membantu perekonomian keluarga yang tidak hanya mengandalkan suami dan bisa lebih mandiri lagi. Selain itu batik hasil prosuksi dari program pemberdayaan ini sudah ribuan batik yang di peroleh dan itu sudah terjual di berbagai daerah luar Kota Yogyakarta dan sebagian lain hasil produksi batik tersebut di produksi menjadi baju sehingga mereka tidak hanya menjual kain akan tetapi ada produk lain yang di hasilkan. Mereka menjual hasil pemberdayaan tersebut ke toko batik yang di miliki Pak Wawan dan terserah meraka ingin menjual di tempat lain juga Pak Wawan memperbolehkannya.

  1. Dampak pada Komunitas

Setiap kita ingin melakukan sesuatu tentunya akan memikirkan efek ataupun daampaak yaang di dapatkan jika kita melakukan sesuatu tersebut. Program membatik gratis ini tentunya memiliki dampak yang sangat banyak bagi masyarakat sekitar terutama bagi ibu-ibu yang pada awalnya hanya menjadi ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan dan hanya mengandalkan penghasilan dari suaminya dengan adanya program ini ibu-ibu di daerah kelurahan semaki ini bisa mendapatkan penghasilan tambahan tanpa mengeluarkan sedikitpun biaya dan hanya berbekal keterampilan dan niat yang serius. Tentunya dampak adanya pelatihan mebatik gratis tersebut memiliki dampak yang positif karena bisa membantu masyarakat dalam bidang perekonomian yang lebih mandiri dan maju dan meciptakan lapangan pekerjaan yang baru bagi ibu rumah tangga. Seperti kata Pak Wawan siapapunyang datang ke joglo ini dengan niat yang baik dan mengikuti dan mendukung serta mengikuti program pemberdayaan ini dengan rutin maka sangat diperbolehkan sekali dan Pak Wawan merasa sangat senang karena bisa membantu mereka yang memiliki keterampilan tekun bisa tersalurkan dengan baik. Karena dengan banyaknya masyarakat yang mengikuti pelatihan tersebut dapat di artikan sebagai bentuk dukungan masyarakat karena sudah mau berpartisipasi dan ikut andil secara langsung. Selain itu bagi mereka yang tidak memiliki pemahaman tentang membatik dengan mengikuti program tersebut mereka bisa memiliki pengetahuan dan sekaligus keterampilan. Karena selain diberikan pelatihan pada program ini harus wajib semua peserta mencoba membatik sedikit demi sedikit dengan bekal hasil pelatihan yang sudah diikuti.Selain itu juga dapat mempererat rasa solidaritas kekeluargaan yang ada dimna mereka dalam pemberdayaan ini saling bahu menbahu membantu apa yang saling mereka butuhkan baik ketika dalam proses pelatihan maupun di luar pelatihan.

  1. Kisah Sukses dan Testimoni

Dari tahun 2007 hingga saat ini sudah banyak sekali kisah-kisah sukses yang menjadi seorang pengusaha maupun seseorang yang memiliki ekonomi lebih mapan di bandingkan sebalum mengikuti pemberdayaan ekonomi dengan pelatihan membatik gratis. Sebagaimana diceritakan oleh Pak Wawan ketika saya wawancara kemarin, sudah puluhan orang yang memberi laporan kepada Pak Wawan bahwa diantara mereka beberapa orang sudah membuka pelatihan batik sendiri dengan berbayar. Selain membuka pelatihan membatik di antaranya sudah memiliki toko batik sendiri yang mana merekapun sudah memiliki beberapa karyawan sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan baru. Ketika masyarakat mengikuti pelatihan gratis mereka dan menyelesaikannya hingga tahap final dalam artian ada produk batik yang di hasilkan, setiap batik yang dihasilkan rata-rata di buged sebesar Rp.3.000.000 hingga Rp.7.000.000 per kain yang lebarnya sekitar 2.5 Meter dan semua harga yang di tentukan sesuai dengan kerumitan motif yang di gunakan, pewarna yang di satu padukan, kerapian hasil motif yang di hasilkan sehingga kualitas hasil produk batik bisa di sesuaikan dengan kategori tersebut.

Salah satu kisah seorang ibu bernama Suryaning asal Kelurahan Semaki dari alumni yang mengikuti pelatihan membatik gratis ini telah sukses dan berhasil membuka pelatihan membatik sendiri. Ibu suryaning telah berhasil mengikuti program membatik ini sejak tahun 2010 dan memberikan hasil yang maksimal dengan membuka pelatihan sendiri di kediaman beliau yang itu setiap satu kali pelatihan setiap peserta membayar pendaftaran sebesar Rp. 75.000 dan jika mengambil harga paket perbulan biaya yang dikenakan sebesar Rp. 500.000. Ibu Suryaning ini sebelum membuka pelatihan membatik beliau harus mengikuti ujian yang di lakukan oleh Departemen Kementrian Perindustrian Republik Indonesia Balai Besar Kerajinan Dan Batik Yogyakarta untuk mengikuti ujian kelayakan dan melihat seberapa besar potensi yang sudah dimiliki ibu suryaning tersebut sehingga bisa di katakan lulus dan layak untuk membuka pelatihan batik sendiri. Jika syarat dari Departemen Kementrian tersebut belum terpenuhi maka tidak akan mendapatkan sertifikat lulus.Tidak hanya satu dua orang saja yang berhasil dalam program pemberdayaan ini akan tetapi sudah banyak dari mereka dengan mengikuti program membatik gratis ini sudah bisa membuka usaha sendiri dengan mengadakan pelatihan batik berbayar dan sudah banyak juga yang memiliki toko batik pribadi. Banyak di antara lainnya yang telah sukses yang tidak bisa di ceritakan satu per satu. Mereka bisa membuka pelatihan tersebut karena mereka sudah memiliki keterampilan yang mapan dan layak untuk membuka pelatihan membatik sendiri dan juga sudah memiliki sertifikat yang menyatakan mereka lulus.

  1. Tantangan dan Cara Mengatasinya

  1. Tantangan Umum

Program membatik gratis ini tidak berjalan semulus apa yang kita lihat akan tetapi terdapat beberapa tantangan yang ada. Seperti adanya peserta yang mengikuti pelatihan batik karena hanya pengen ikut-ikutan saja dan tidak menyelesaikannya dengan baik. Sehingga kebanyakan dari mereka yang seperti itu karena tidak mau konsisten dan merasa bosan. Seperti yang diceritakan oleh Pak Wawan ada segerombolan ibu-ibu yang itu hanya datang 1 kali pertemuan mereka sudah diberi kain untuk membatik dan fasilitas lainnya, akan tetapi mereka tidak melanjutkannya sehingga kain yang telah digunakan tidak bisa terpakai lagi karena sudah digunakan akan tetapi pengerjaannya tidak tuntas sehingga kain tersebut terbuang sia-sia.Selain itu terdapat tantangan juga ketika ada ibu-ibu yang itu benar-benar harus belajar dari nol dan juga tidak memiliki keterampilan yang sudah cukup baik. Sehingga pelatihan yang dilakukan harus lebih ekstra lagi agar ibu-ibu mendapatkan kemampuan yang baik sehingga dapat menghasilkan produksi batik dengan kualitas yang bagus. Dengan minimnya pengetahuan dan keterampilan membatik dapat mengurangi tingkat produksi yang di hasilkan. Pada saat itu terjadi juga tantangan terkait masalah pemasaran yang mana Pak Wawan pernah bercerita beliau kebingungan untuk mendistributorkan hasil produksi batik tersebut sehingga pada waktu itu Pak Wawan pernah menampung beberapa batik hasil dari program membatik gratis ini karena pak wawan bingung akan memasarkannya kemana. Kemudian terdapat teman-teman se alumni yang pernah mengikuti pelatihan mebatik bersama Pak Wawan pada dulu itu mereka sudah memiliki toto-toko batik ternama dan dengan itu pak wawan bekerjasama dengan temanya untuk meminta bantuan agar hasil produksi batik ini bisa di pasarkan lewat tokonya. Dengan berjalannya seiring waktu, akhirnya Pak Wawan membuka toko batik sendiri yang di beri nama Batik Setiti Mas yang itu menjadi tempat utama pemasaran dari hasil produksi yang telah dihasilkan dari program ini.Dan ini menjadi salah satu tantangan besar hingga saat ini belum bisa di selesaikan untuk mengakses penjualan hasil produksi batik lebih luas lagi karena kurangnya kerjasama yang dimiliki oleh pemberdayaan tersebut. Harapan yang dimiliki oleh kelompok pemberdayan tersebut adalah ingin mengenalkan produk yang di hasilkan oleh mereka hingga ke pasar internasional. Dan ini masih menjadi hal yang sangat di harapkan untuk meningkatkan ekonomi lokal. Pada saat pandemi Covid-19 menyerang kegiatan pemberdayaan ini sempat vakum, karena waktu itu terdapat tidak bolehnya melakukan kegiatan yang itu mengakibatkan kerumunan untuk menekan laju penyebaran virus Covid-19 namun setelah ada pengumuman boleh melakukan aktivitas akan tetapi dengan mematuhi protokol kesehatan maka kegitana pemberdayaan ini kembali di laksanakan dan berjalan hingga saat ini.

  1. Strategi Mitigasi

Semua sesuatu yang kita lakukan secara individu maupun kelompok pastinya memiliki suatu tantangan di dalamnya. Dengan adanya beberapa tantangan tersebut Pak Wawan akhirnya banyak memberikan pengumuman tentang orang-orang yang mengikuti program batik tersebut harus memiliki niat yang ulet dan yakin bahwa mereka akan bisa menyelesaikan dengan baik dan juga pak wawan akan mengapresiasi beberapa orang yang itu memulai dari nol (tidak ada bekal membatik) jika mereka berhasil akan diberikan gift sebagai penyemangat untuk terus melanjutkan ikut dalam program tersebut. Selain itu juga pak wawan membebaskan setiap orang yang berhasil memproduksi batik boleh menjualnya sendiri ketika mereka memang ingin memasarkan nya sendiri. Dan pak wawan memberikan beberapa rekomendasi tempat untuk menjual hasil produksi tersebut sehingga para peserta tinggal mendatangi dan menjual hasil batik tersebut. Maka dari itu mungkin dengan adanya pemasaran sendiri yang dilakukan oleh beberapa orang dalam pemberdayaan program membatik gratis ini bisa meminimalisir penumpukan batik dari hasil produksi tersebut.Pada saat ini Pak Wawan telah berhasil menghubungi beberapa temannya yang berada di luar negeri akan tetapi belum juga mendapatkan akses penjualannya.

  1. Pembelajaran dan Rekomendasi

  1. Pembelajaran Umum

Adanya program pemberdayaan ini tentunya bisa menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang tidak memiliki pekerjaaan mendapatkaan pekerjaan yang layak dan dengan bisa meningkatkan ekonomi yang mandiri dan maju. Berawal dari sebuah keterampilan yang di tekuni program ini bisa menjadi peluang ekonomi masyarakat. Program ini juga tentunya harus sering berkolaborasi dengan beberapa pihak seputar tentang batik membatik agar memiliki beberapa inovasi yang itu dapat di kembangkan lebih lanjut lagi sehingga batik yang di hasilkan tidak monoton seperti itu saja. Selain itu juga dalam sisi lain mengajarkan nilai kerjasama yang solid setiap individu-individu yang mengikuti peberdayaan tersebut dengan mereka saling keterbukaan dan menggabungkan ide-ide yang mereka miliki bisa menghasilkan suatu inovasi baru yang bisa di kembangkan.

Yang paling utama harus mempertahankan bagaimana partisipasi masyarakat untuk mendukung program pemberdayaan ini agar terus dapat berjalan. Dan memberikan pelajaran bahwa adanya kegiatan ini dapat meningkatkan pendapatan ekonomi karena yang semulanya hanya mengandalakan pendapatan dari suami dengan mengikuti program pemberdayaan tersebut dengan konsisten dan tekun mereka bisa membuka peluang bisnis yang lebih besar. Dan juga mendatangkan kembali oraang-orang alumni yang telah berhasil sukses dengan membuka pelatihan membatik berbayar maupun smenjadi pengusaha batik dari program pemberdayaan tersebut untuk mengedukasi mereka bahwa hasil dari pemberdayaaan ini sangatlah tidak hanya omong ksosong dan sudah banyak orang yang membuktikannya. Selain itu juga harus di kenalkaan cara-cara pemasaran batik menggunakan media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, Tokopedia, Shopee dan platform lainnya sehingga batik tersebut bisa terjual hingga seluruh dunia dan tidak hanya di jual melalui toko batik yang dimiliki Pak Wawan saja. Jika hanya mengandalkan toko batik iti saja maka penjualan tersebut akan begitu-begitu saja tanpa ada kemanjuan.

  1. Rekomendasi untuk Replikasi atau Peningkatan

Program pemberdayaan ini harus di tingkaatkan lagi dalam hal pengemasan produk yang di hasilkan agar masyarakat lebih tertarik. Karena dalam pemberdayaan ini mereka hanya membatik saja tanpa memikirkan bagaima pengemasan yang rapi sehingga batik tersebut menarik untuk di beli. Malah pengemasan itu di serahkan langsung kepada Pak Wawan selaku ketua dari program pemberdayaan tersebut. Mungkin dari sini dapat kita lihat bahwa harus ada pembelajaran atau edukasi tentang bagaimana mengemas produk yang baik dan benar sehingga banyak di minati oleh pemebeli dan tidak hanya mengadakan pelatihan cara membatik saja. Batik yang di hasilkan dari program pemberdayaan tersebut murni batik tulis semua. Mungkin kedepannya bisa mengenalkan teknologi-teknologi yang canggih seperti mesin rinting batik atau alat membatik digital sehingga produksi bati yang di hasilkan bisa lebih banyak dan waktu yang digunakan lebih efisien tanpa mengurangi kualitas dari batik tersebut. Sehingga waktu dan tenaga yaang di butuhkan bisa lebih sedikit berkurang dibandingkan dengan membatik secara manual sepetri batik tulis asli. Selain itu karena program pemberdayaaan ini hanya menggunakan seluruh dana pak wawan mungkin kedepannya bisa kerjasama dengan pemerintahan Kota Yogyakarta agar program tersebut bisa di tiru oleh wilayah-wilayah lain yang juga mungkin mereka memiliki potensi akan tetapi tidak bisa menyalurkannya. Adanya kerja sama yang di lakukan dengan pemerintahan tersebut berharap pemerintahan mendukung dengan menyediakan tempat ataupun memfasilitasi kebutuhan dari program pemberdayaan tersebut dan bisa mengedukasikan program pemberdayaan ini ke tempat-tempat terpencil.

  1. Kesimpulan

Program pemeberdayaan ekonomi melalui pelatihan membatik gratis ini menjadi salah satu solusi bagi masyarakat untuk meningkatkan ekonomi, yang mana mereka memiliki keterampilan akan tetapi tidak memiliki biaya maupun hal lainnya untuk mengembangankan keterampilan membatik. Adanya pemberdayaan ini telah terbuti menjadi salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat yang lebih mandiri dan maju. Adapaun langkah-langkah yang dilakukan dalam pemberdayaan ekonomi ini yaitu dengan memberikan pelatihan, proses mempraktekan hasil pelatihan, produksi batik, pengemasan batik, pemasaran batik dan membuat inovasi-inovasi lebih lanjut lagi agar adanya pemberdayaan ini di ketahui oleh seluruh nusantara. Akan tetapi dalam pemberdayaan ekonomi pelatihan membatik gratis ini memiliki tantangan. Salah satu tantangan yang ada pada permberdayaan ini masih menggunakan tenaga murni dari manusia tanpa adanya bantuan, karena semua produk batik yang dihasilkan adalah batik tulis bukan batik perinting maupun batik cap. Selain itu juga tantangan lain yang di hadapai yaitu kurangnya akses pasar yang dimiliki sehingga produk yang di hasilkan hanya terjual di daerah-daerah sekitar. Seharusnya target yang di inginkan produk batik ini bisa menjangkau hingga pasar internasional. Pelatihan membatik ini diikuti oleh mayoritas masyarakat Kelurahan Semaki dan sangat antusias dan berpartisipasi dalam adanya pemberdayaan ini.

Dengan itu pemberdayaan ekonomi ini sesuai dengan SDG’s ke-8 yaitu pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi telah diterapkan dalam pemberdayaan tersebut. Dimana pada saat itu beberapa masyarakat tidak memiliki fasilitas maupun biaya untuk menyalurkan keterampilan yang mereka miliki dengan adanya program membatik gratis ini mereka bisa sangat terbantu dan mendapatkan lapangan pekerjaan yang baru. Sehingga dampak yang terjadi ketika pemberdayaan ekonomi ini di kembangkan, pada masyarakat sekitar memiliki dampak mendapatnya langangan pekerjaan baru meningkatnya pendapatan ekonomi, tidak ketergantungan dengan suami dan meningkatkan solidaritas pada setiap masyarakat.

ftrhmn