Prodi Sosiologi Agama Selenggarakan Webinar Membincang Kenormalan Baru

Belakangan ini, kita dihadapkan pada wacana hingga skenario yang telah disiapkan oleh pemerintah mengenai “new normal” atau kenormalan baru. Skenario atau kebijakan ini bergulir seiring dengan kondisi pandemi yang telah berdampak signifikan pada berbagai sektor, terutama ekonomi. Kendati demikian, tidak sedikit pula yang mempertanyakan kebijakan ini, sebab di saat yang sama angka penularan belum menunjukkan penurunan. Merespons skenario kebijakan mengenai kenormalan baru tersebut, Program Studi (Prodi) Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan diskusi terbuka secara daring (webinar), bekerja sama dengan Laboratorium Sosiologi Agama dan Asosiasi Sosiologi Agama se-Indonesia (ASAGI).

Webinar diselenggarakan melalui aplikasi zoom cloud meeting dan live youtube streaming (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) pada 18 Juni 2020 pukul 09.00 hingga 12.00 dengan tema “Regulasi, Respons, dan Spiritualitas Kenormalan Baru.” Dimoderatori oleh Ratna Istriyani, M.A. (Dosen Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga), webinar ini menghadirkan empat narasumber. Pertama, Dr. Munawar Ahmad, S.S. M.Si. selaku dosen senior Prodi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga. Ia membahas perilaku manusia (terutama dalam konteks pandemi) dalam kacamata deep sociology. Kedua yaitu Dr. Sehat Ihsan Shadiqin, selaku Kaprodi Sosiologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ia membahas terkait regulasi dan respon masyarakat Aceh terhadap pandemi dan wacana kenormalan baru. Ketiga yaitu Mahatva Yoga Adi Pradana, dosen muda Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga. Kali ini ia membahas terkait implementasi kebijakan kenormalan baru sebagai kebijakan berbasis pemulihan. Adapun narasumber keempat yaitu Dr. Moh. Soehada, S.Sos., M.Hum, juga merupakan dosen senior di Prodi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga. Pada diskusi ini, ia mengurai tentang pentingnya Paradigma Baru (New Paradigm) dalam melihat pandemi yang terjadi saat ini.

Diskusi yang berlangsung selama dua jam ini rupanya mengundang antensi dari berbagai kalangan. Hal ini terlihat dari banyaknya peserta yang ikut serta secara daring tidak hanya dari internal UIN Sunan Kalijaga, melainkan juga dari institusi atau kampus wilayah lain seperti Aceh, Bukittinggi, Madura, hingga Palopo. Diskusi kian cair ketika beberapa peserta mengajukan pertanyaan terkait realitas ritual keagamaan dan rasionalitas selama pandemi, peran pemerintah memantau penerapan kenormalan baru, hingga kontribusi keilmuan Sosiologi Agama dalam mengurai problem pandemi yang melanda hampir seluruh negara di dunia. (RI)