Prodi Sosiologi Agama Gali Identitas Kolektif Masyarakat Bali

Suatu identitas budaya dapat dilihat dalam dua cara pandang, yaitu identity as being ‘identitas budaya sebagai sebuah wujud’ dan identity as becoming ‘identitas budaya sebagai proses menjadi’. Identitas tersebut merupakan hasil yang tidak akan pernah selesai. Ada banyak faktor yang menjadikan terwujudnya representasi hasil identitas itu (Hall, 1990).

Salah satu identitas kolektif masyarakat di Indonesia yang hingga kini menarik untuk digali adalah identitas kolektif masyarakat Bali. Hal ini karena berpuluh tahun tourism telah membuat perubahan cepat dalam sektor ekonomi, budaya, maupun kehidupan sosial-keagamaan di Bali. Penggalian terhadap identitas kolektif masyarakat Bali tersebut dilakukan oleh Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam pada 26-28 April 2018. Penggalian itu merupakan pra-penelitian yang akan ditindaklanjuti pada beberapa bulan ke depan.

“Belum utuh kita lihat, tetapi sudah ada beberapa fakta yang bisa dipetakan. Soal bahwa agama dan kepercayaan di sana masih dijunjung tinggi dan tradisi terus diupayakan terpelihara, tentu beda tipislah dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Akan tetapi, bagaimana mereka bisa memiliki bargaining yang kuat ketika berhadapan dengan pemodal besar, modernitas, dan berbagai arus dari luar, itulah yang perlu dilihat lebih jauh. Bagaimana pola membangun komitmen antara pemerintah, pemangku adat, masyarakat, dan stakeholder itu juga perlu dikaji secara mendalam,” jelas Dr. Adib Sofia, S.S., M.Hum., salah satu tim Prodi Sosiologi Agama yang ke Bali bersama Dr. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., M.A. dan Dr. Masroer, S.Ag., M.Si.

Bli Widi, salah satu warga Bali, mengatakan bahwa mayoritas masyarakat Bali merasakan kesejahteraan yang berangsur meningkat dari tahun ke tahun melalui sektor pariwisata. Di satu sisi, mereka juga memiliki sistem pemerintahan dan adat yang kuat yang tidak memperkenankan masyarakat Bali menjual tanah Bali kepada orang asing sehingga masyarakat cukup menyewakannya saja dalam jangka waktu yang lama.

Bagi Tim Prodi Sosiologi Agama, kesadaran seperti ini sangat baik apabila diterapkan pada kawasan pariwisata lain di Indonesia, seperti Yogyakarta, Papua, dan Belitung (lihat penelitian sejenis oleh Tim Prodi Sosiologi Agama: http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/SosiologiAgama/article/view/091-01 dan http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/SosiologiAgama/article/view/1132)

Kepergian Tim Prodi Sosiologi Agama ke Bali termasuk dalam serangkaian acara Achievement Motivation Training (AMT) yang digelar oleh Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, di bawah pimpinan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Dr. Alim Roswantoro, M.Ag. Banyak pihak berharap, dengan kegiatan AMT ini semangat, kinerja, profesionalitas, dan soliditas seluruh tim Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam akan meningkat. (Afi Dibia)