Membincang Rasisme dan Islamophobia di Berbagai Belahan Dunia

Dikotomi mengenai hal yang dipandang tinggi dan rendah, agaknya memang menimbulkan stereotype hingga diskriminasi yang tidak bisa dianggap remeh. Kasus rasisme hingga ketakutan berlebihan terhadap kelompok agama tertentu rupanya memang belum juga usai. Masih hangat mengenai kematian George Floyd (ras kulit hitam) oleh Polisi Menneapolis saat proses penangkapan menjadi perhatian penduduk dunia. Hingga phobia terhadap muslim pasca peristiwa WTC pada 11 September 2001 di New York masih juga melekat, hingga menimbulkan tindakan antisipatif yang dianggap berlebihan. Misal dengan adanya wacana kebijakan pembatasan hingga sulit masuknya penduduk muslim ke Amerika dan beberapa negara di belahan Eropa lainnya.

Merujuk pada kompleksnya permasalahan mengenai Rasisme dan Islamophobia, Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan kuliah umum yang bertajuk “Rasisme, Islamophobia, Dan Fenomena Sosial Keagamaan Di Belahan Dunia.” Kuliah umum dilaksanakan pada 19 Juli 2021 secara virtual melalui zoom meeting.

Kuliah umum virtual ini dibuka dengan sambutan Wakil Dekan Bidan I, yaitu Dr. H. Zuhri, S.Ag. M.Ag. Pada pembukaannya, ia menyatakan bahwa Rasisme dan Islamophobia memang menjadi kajian yang menarik untuk dikaji pada Prodi Sosiologi Agama. Terlebih realita mengenai kehidupan sosial agama di agama mengalami pergeseran yang cukup pesat.

Kuliah dimoderatori oleh M. Yaser Arafat, MA. selaku dosen Sosiologi Agama, dan menghadirkan narasumber yang memiliki pengalaman merantau di beberapa negara Eropa dan Amerika. Pertama yaitu Prof. Hadi Susanto, Ph.D., akademisi dan dosen di Khalifa University, Abu Dhabi, University of Essex UK. Ia memiliki pengalaman tinggal dan bekerja di Belanda, Inggris, hingga Uni Emirat Arab, serta banyak menjelajahi kehidupan muslim di beberapa negara tersebut. Kedua yaitu Dr. Rr. Siti Kurnia Widiastuti, S.Ag., M.Pd., M.A., Dosen Program Studi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga yang juga beberapa tahun tinggal di Amerika Serikat saat menempuh studi masternya.

Pada kuliah tersebut, Hadi Susanto menguraikan pengalamannya sebagai muslim selama tinggal di Belanda, Inggris, hingga Uni Emirat Arab. Ada beberapa hal menarik ketika mengurai kehidupan muslim hingga realitas ritual agama di sana. Meskipun memang masih ada sikap Islamophobia di Eropa terutama Perancis, namun hal berbeda ia temukan di Belanda dan Inggris. Di mana kampus telah toleran terhadap muslim. Kampus menyediakan ruang ibadah khusus bagi muslim. Bahkan ada pub yang direhab menjadi masjid.

Siti Kurnia menambahkan pada konteks Amerika, bahwa fasilitas publik sebenarnya juga menyediakan tempat ibadah bagi pemeluk agama lain, termasuk Islam. Kendati tidak bisa disebut mushola, namun hal itu sudah menunjukkan adanya perhatian terhadap muslim. Bahkan muslim yang datang di Amerika juga menunjukkan solidaritasnya yang kian kuat. Dengan demikian, di balik masih adanya kasus rasisme dan Islamophobia, nyatanya masih ada sikap toleran yang ditunjukkan oleh kelompok hingga pemerintah Eropa di beberapa negara terhadap Islam.

Kendati kuliah umum dilakukan secara virtual, namun tidak mengurangi antusias para peserta dari kalangan mahasiswa hingga dosen. Hal itu dapat dilihat dari respon dan pertanyaan yang disampaikan kepada narasumber terkait realitas rasisme dan islamophobia. (RI).