Menggali Kehidupan Waria, LABSA Gelar Diskusi dengan Topik Gender dan Seksualitas

Persepsi negatif terhadap waria menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan bermasyarakat. Waria seringkali dianggap sebagai seorang pencuri, seorang penggoda, sering berkata kotor, dan dekat dengan kehidupan malam. Akibatnya, hampir semua waria dimarginalisasi dan didiskriminasi, bahkan oleh keluarganya sendiri.

Melalui diskusi bulanan dengan tema ‘Gender dan Seksualitas: Penerimaan Waria dalam Keluarga’, Laboratorium Sosiologi Agama (LABSA) Fakultas Ushuluddin Dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mencoba mengurai problem yang dimaksud. Diskusi ini diselenggarakan di Smart Room lantai 2 pada hari Selasa, 4 Desember 2018.

Dr. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., M.A. (Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam) dalam sambutannya mengatakan bahwa manusia memiliki derajat yang sama, sekalipun itu seorang waria. Tapi pada kenyataannya, waria selalu termarginalisasi secara politis dan kultural. Oleh karena itu, pihak fakultas sangat mendukung diadakannya diskusi semacam ini.

Pada kesempatan tersebut, hadir juga Ibu Sinta Ratri selaku Ketua Pondok Pesantren Waria Al-Fattah, Yogyakarta bersama teman-temannya sebagai narasumber utama. “Waria itu bukan pilihan. Siapa sih yang mau dilahirkan sebagai seorang waria? Kami selalu dipandang sebelah mata. Tapi kami membuktikan, bahwa waria juga bisa bermanfaat. Sehingga keberadaan kami bisa diterima oleh keluarga dan masyarakat”.

Adapun diskusi dimoderatori oleh Dr. Rr. Siti Kurnia Widiastuti, S.Ag., M.Pd., M.A (Dosen Sosiologi Agama). Banyak peserta dari mahasiswa yang mengapresiasi diskusi kali ini. Terbukti dari banyaknya peserta yang hadir. Selain itu, saat sesi pertanyaan, terlihat antusias dari peserta yang ingin mengetahui lebih banyak perihal kehidupan waria. Harapan dari diskusi ini diselenggarakan tidak hanya untuk dikaji secara ilmiah, tapi juga mampu menuju ke level pemberdayaan manusia, khususnya waria. (Ahmad Sugeng Riady)