Menyikapi Fenomena Hijrah di Indonesia, LABSA Kembali Gelar Diskusi Publik

Sekitar dua dasawarsa belakangan ini, fenomena hijrah menjadi tren kehidupan muslim di Indonesia. Kaum muda dan beberapa artis turut serta menjadi bagian dari tren ini. Menarik untuk diulas lebih dalam, sebenarnya bagaimana fenomena hijrah yang terjadi di Indonesia? Apa faktor yang melatarbelakangi fenomena hijrah ini?

Kamis (24/01/2019) Laboratorium Sosiologi Agama (LABSA) mendatangkan Dr. Hew Wai Weng dari Universiti Kebangsaan Malaysia dan Dr. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., M.A (Dosen Sosiologi Agama, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) sebagai narasumber untuk mendiskusikan fenomena hijrah. Tema ‘Aspirational Piety: The Politics of Hijrah in Indonesia’ dipilih dalam diskusi kali ini. Meskipun masih dalam pekan liburan semester, acara yang diselenggarakan di Smart Room lt. 2 Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini dipenuhi oleh peserta. Para peserta berasal dari kalangan dosen dan mahasiswa baik dari UIN Sunan Kalijaga maupun dari kampus lainnya.

Dr. Hew mengatakan bahwa fenomena hijrah ini salah satunya dipengaruhi oleh media sosial. Karena informasi dari media sosial mudah sekali dikonsumsi oleh generasi muda. “Selain itu, fenomena hijrah di Indonesia juga erat kaitannya dengan ekonomi. Ada perumahan muslim dan jilbab syar’i. Mereka berjualan tidak hanya tentang untung dan rugi, tapi juga pahala, halal, dan haram”, jelasnya lebih lanjut.

Disisi lain, khilafah selalu disuarakan sebagai solusi atas segala problem yang menimpa Negara Indonesia. Sistem ini dianggap lebih islami. “Kelompok mereka juga tidak menyukai produk barat. Diantaranya produk kesetaraan gender. Sebab kesetaraan gender ini menjadi pemicu banyaknya perceraian di Indonesia. Karena menurut mereka, perempuan bisa mandiri, dan akhirnya tidak bergantung lagi pada laki-laki”, ujar Dr. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., M.A.

Adapun solusi untuk merespon maraknya fenomena hijrah ini adalah dengan memperkaya sumber pengetahuan. Jika sumber pengetahuannya melimpah, maka memungkinkan untuk melakukan koreksi. Apakah yang dikatakan ustad disana memang seperti itu? Atau apakah ada pendapat lain? Akhirnya akal akan berfikir lebih kritis menyikapi fenomena hijrah ini.

Ke depan, diskusi-diskusi dengan tema yang lebih menarik akan diselenggarakan lagi oleh Laboratorium Sosiologi Agama (LABSA). Rencana diskusi akan diadakan rutin tiap bulan. “Harapannya, diskusi-diskusi ini mampu memberi wacana bagi problem yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat”, kata Dr. Rr. Siti Kurnia Widiastuti, S.Ag., M.Pd., M.A. (Ahmad Sugeng Riady)