Membangun Gen Z Peka Pemilu, Prodi Sosiologi Agama bersama Tular Nalar Kemas Sekolah Kebangsaan

Di era disruptif ini, penyebaran arus informasi sangatlah masif. Perkembangan teknologi telah memberikan kemudahan bagi setiap individu untuk mengakses segala bentuk informasi yang diperlukan.

Namun, di balik kemudahan ini terdapat bahaya laten dan ancaman serius dalam bentuk penyebaran hoaks yang dapat menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat. Hoaks tersebut dapat berupa penyebaran informasi palsu yang disengaja dengan niat menyesatkan, menggiring opini yang tidak akurat, dan sebagainya. Penyebaran hoaks ini semakin marak menjelang pesta demokrasi Pemilu 2024.

Menyikapi hal itu, Tular Nalar di bawah naungan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) melakukan usaha mitigasi potensi penyebaran hoaks menjelang momentum tersebut. Tular Nalar menggandeng beberapa mitra penyelenggara melakukan kolaborasi untuk meningkatkan pengetahuan tentang literasi digital menggunakan peraga dan kurikulum berkualitas melalui Sekolah Kebangsaan.

Salah satu kegiatan Tular Nalar yaitu Sekolah Kebangsaan sukses diselenggarakan di Convention Hall Lt. 2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sekolah Kebangsaan kali ini merupakan kolaborasi antara Tular Nalar dengan Program Studi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai mitra penyelenggara.

Dalam kegiatan ini, terdapat sebanyak 10 fasilitator dan 100 mahasiswa/ mahasiswi terdaftar yang turut berpartisipasi aktif menyukseskan kegiatan.

Diskusi pada Sekolah Kebangsaan ini dilaksanakan dengan membentuk kelompok-kelompok kecil, setiap kelompok mahasiswa didampingi oleh satu fasilitator.

Para peserta terlihat sangat antusias dengan kegiatan Sekolah Kebangsaan ini. “Saya seneng banget bisa mengikuti acara Sekolah Kebangsaan ini karena saya bisa mendapatkan banyak wawasan terkait tahapan Pemilu 2024 dan juga materi terkait pengindraan hoaks. Selain itu, saya juga mendapatkan wawasan dari kakak-kakak fasilitator yang mendampingi”, ungkap Salsabila salah satu peserta Sekolah Kebangsaan.

Senada dengan Indra, salah satu peserta Sekolah Kebangsaan yang merupakan mahasiswa baru juga mengungkapkan bahwa, “Di sini saya mendapatkan banyak informasi, terutama tentang cara pengindraan berita hoaks dan tahapan-tahapan Pemilu. Saya kali ini baru pertama akan mengikuti Pemilu, jadi sangat excited, dan saya juga baru tahu kalau ternyata saya belum terdaftar sebagai DPT. Hal ini yang membuat saya ingin mencari tahu lebih tentang Pemilu ke depannya”.

Setiap kelompok yang telah dibagi, mereka membahas mengenai materi “Penginderaan Hoaks untuk Pemilu” dengan sasaran capaian meliputi; 1) Memahami tahapan Pemilu, celah informasi, dan konsep demokrasi dan politik di Indonesia, 2) Menanggapi dengan baik informasi dan sumber informasi Pemilu, peta empati, dan teknik manipulasi, 3) Menjadi pemilih pemula yang tangguh terhadap hoaks pemilu dengan kolaborasi dan negosiasi dan penginderaan hoaks, dan 4) Mampu melakukan praktik penginderaan hoaks di kala Pemilu.

Tujuan dari kegiatan Sekolah Kebangsaan ini adalah memberikan pemahaman kepada para mahasiswa/ mahasiswi pemilih pemula dalam menghadapi dinamika Pemilu 2024.

Menyikapi maraknya berita hoaks menjelang Pemilu, Sekolah Kebangsaan ini menjadi salah satu sarana bagi mahasiswa untuk membekali diri dengan pemahaman tentang literasi digital dan nalar kritis tentang dinamika Pemilu 2024.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini diharapkan mahasiswa dapat mengantisipasi dan tidak terprovokasi dengan berita hoaks yang beredar jelang Pemilu.

Dr. Rr. Siti Kurnia Widiastuti sebagai Ketua Program Studi Sosiologi Agama sekaligus Penanggung Jawab kelas Sekolah Kebangsaan sangat menyambut baik kegiatan ini dan menuturkan bahwa, “Dengan adanya kegiatan Sekolah Kebangsaan ini, mahasiswa mendapatkan banyak wawasan terkait dengan pemulu serta info terkait isu-isu hoaks, bagaimana cara menangkalnya (pengindraan hoaks). Saya kira mahasiswa yang dari awal itu datang dengan informasi yang sedikit kemudian setelah mengikuti kegiatan ini, saya rasa mereka sudah memiliki wawasan yang lebih luas sehingga kegiatan Sekolah Kebangsaan ini sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh para pemilih pemula yang ada di Indonesia. Sehingga para pemuda itu bisa mendapatkan informasi-informasi yang benar terkait dengan pemilu, tahapan pemilu, dan bagaimana cara mengatasi isu-isu yang terkait dengan hoaks”.

Hal senada juga disampaikan oleh Fajar Dwi Noviantoro selaku Fasilitator Sekolah Kebangsaan Tular Nalar, “Saya sebagai fasilitator merasa sangat bangga karena program ini merupakan program yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa baru atau pemilih pemula. Ketika saya menjadi fasilitator, saya menemukan ternyata banyak sekali mahasiswa yang belum paham terkait pemilu dan tahapn-tahapannya, terutama tentang pengindraan hoaks. Oleh karena itu, adanya kegiatan Sekolah Kebangsaan dari Tular Nalar ini menjadi sangat penting terutama untuk para pemilih pemula supaya bisa memilih pilihan yang tepat dan tidak terjerat oleh hoaks yang tersebar di media sosial. Semoga program ini terus berlanjut terutama untuk mengawal Pemilu 2024 menjadi Pemilu yang sukses dan memiliki kredibilotas yang diinginkan”.

Tentang Tular Nalar

Tular Nalar, program pelatihan literasi digital yang diinisiasi oleh MAFINDO dan didukung oleh Google.org, dengan Love Frankie sebagai mitra pelaksana, telah muncul sebagai platform online pembelajaran utama yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi dan menyikapi hoaks melalui literasi digital dan pemikiran kritis. Dikembangkan bekerja sama dengan Institut Kebudayaan dan Kemanusiaan MAARIF pada tahap awal, Tular Nalar telah mengalami pertumbuhan yang pesat dalam tiga tahun ini, dengan preferensi khusus untuk melibatkan first-time voters pre-lansia, dan lansia.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Tular Nalar, silakan kunjungi kami di https://tularnalar.id/tentang-kami/ atau terhubung dengan kami di platform media sosial melalui https://www.instagram.com/tularnalar/.

Tentang Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO)

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) adalah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk memerangi misinformasi dan hoaks. Berdiri pada tahun 2016, MAFINDO memiliki lebih dari 95.000 anggota online dan 1.000 sukarelawan. MAFINDO memiliki 20 kantor yang tersebar di seluruh Indonesia dan mencakup berbagai bidang, termasuk namun tidak terbatas pada pencegahan hoax, hoax busting, edukasi publik, seminar, lokakarya, advokasi, pengembangan teknologi anti-hoax, penelitian, dan keterlibatan sosial di tingkat akar rumput.

Pelajari lebih lanjut tentang MAFINDO di https://www.mafindo.or.id/tentang-kami/

Tentang Google.org

Google.org, sisi filantropis dan persembahan terbaik dari Google untuk membantu memecahkan beberapa tantangan terbesar umat manusia yang menggabungkan pendanaan, donasi produk, dan keahlian teknis untuk mendukung komunitas yang kurang terlayani dan memberikan kesempatan bagi semua orang. Google.org melibatkan organisasi nirlaba, perusahaan sosial, dan entitas sipil yang menciptakan dampak signifikan pada komunitas yang mereka layani, dan yang kegiatannya berpotensi menghasilkan perubahan sosial yang terukur dan bermakna. [IYA]