Pemberdayaan Komunitas Lampu Merapi Melalui Bedah Buku

Penerimaan cenderamata kepada narasumber usai acara Bedah Buku Gender Dan Konstruksi Patriarki Dalam Tafsir Agama
Yogyakarta sebagai kota pelajar, menjadi tempat untuk tumbuh dan berkembangnya berbagai komunitas. Komunitas-komunitas ini berdiri biasanya disebabkan oleh faktor ikatan kedaerahan yang kuat, atau karena persamaan latar belakang dan orientasi yang ingin dicapai, termasuk Komunitas Lampu Merapi. Komunitas ini didirikan memiliki tujuan untuk merespon isu-isu yang sedang aktual di masyarakat, khususnya ketika menyinggung problem perempuan.
Komunitas Lampu Merapi pertama kali launching pada tahun 2013 di Gedung Tetrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Alamat komunitas ini berada di Jalan Pasekan RT/RW 06/40, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Awal pendiriannya, Komunitas Lampu Merapi sudah menjalin relasi dengan berbagai komunitas yang sudah berkembang lebih dahulu seperti, Rifka Annisa, Pesantren Waria Al-Fattah Yogyakarta, dan sebagainya.
Namun, pada tengah proses perjalannya komunitas ini sempat vakum karena para anggotanya disibukkan dengan kegiatannya masing-masing dan sebagian berkarir ke luar kota. Oleh karena itu, melalui Kuliah Kerja Lapangan (KKL), mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta membuat program pemberdayaan bagi Komunitas Lampu Merapi.
Adapun program yang dilaksanan guna memberdayakan komunitas tersebut yakni acara bedah buku “Gender & Konstruksi Patriarki Dalam Tafsir Agama” dengan narasumber Dr. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., M.A (Dosen dan Direktur Komunitas Lampu Merapi), Siti Noor Aini, M.A (Divisi Pemberdayaan Perempuan Komunitas Srili), dan Muslim Pohan (Pengamat Kajian Islam Gender). Acara tersebut dilaksanakan di Gedung Teatrikal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Senin, 22 April 2019.
Sebelumnya kegiatan serupa dalam bentuk diskusi-diskusi sudah pernah dilaksanakan. Harapannya dengan diselenggarakan program ini, Komunitas Lampu Merapi bisa kembali menyala terang dan dikenal oleh akademisi serta pemerhati isu-isu aktual perempuan. Sehingga bisa mempermudahkan untuk membentuk kepengurusan baru guna menghidupi kembali Komunitas Lampu Merapi.(Ahmad Sugeng Riady)