Sosiologi Agama Mendukung SDG 8 tentang Pekerjaan dan Pertumbuhan Ekonomi : Pemberdayaan Masyarakat Desa Wisata Kuliner Berbasis Industri Bakpia di Kampung Pathuk Ngampilan Yogyakarta

Pemberdayaan Masyarakat Desa Wisata Kuliner Berbasis Industri Bakpia di Kampung Pathuk Ngampilan Yogyakarta: Mendukung SDG 8 tentang Pekerjaan dan Pertumbuhan Ekonomi

Athayya Hanin Kayla (22105040053)


Ringkasan Eksekutif

Laporan ini membahas tentang program pemberdayaan masyarakat di Kampung Pathuk Ngampilan, sebagai salah satu desa wisata kuliner di Yogyakarta. Program ini berfokus pada pengembangan industri bakpia sebagai upaya mendukung SDG 8 terkait pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Hasil menunjukkan bahwa dengan adanya Paguyuban Sumekar dan Koperasi Sumekar, masyarakat di Kampung Pathuk bisa mendapatkan pelatihan keterampilan, akses permodalan, dan kesempatan kerja yang berdampak langsung pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Program pemberdayaan ini tidak hanya menciptakan lapangaan pekerjaan namun juga menjadikan kampung Pathuk sebagai destinasi wisata kuliner yang berdaya saing melalui inovasi produk dan pemasaran digital. Keberhasilan program ini tercermin dari peningkatan kemampuan masyarakat, pertumbuhan ekonomi lokal, dan semakin kuatnya solidaritas masyarakat di Kampung Pathuk. Namun dibalik kesusksesan dari program ini, terdapat tantangan-tantangan yang harus dihadapi, seperti persaingan pasar yang ketat, keterbatasan modal, kurangnya keahlian dan keterampilan masyarakat, serta periode musim yang terkadang mengalami pasang surut. Dengan strategi yang tepat dan kerjasama dengan lembaga dan institusi yang terkait, program ini dapat terus berjalan dan berkembang, sehingga dapat ditiru oleh desa lain. Selain itu, program ini juga memberikan dampak yang lebih luas dalam mendukung pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Latar Belakang Program Pemberdayaan

Bakpia adalah camilan khas Yogyakarta yang terbuat dari campuran tepung terigu, gula, dan kacang hijau, kemudian dipanggang hingga menghasilkan tekstur kulit yang renyah dan isi yang lembut. Meskipun kini menjadi salah satu ikon kuliner Yogyakarta, bakpia sebenarnya memiliki sejarah panjang yang dipengaruhi oleh akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Istilah bakpia sendiri berasal dari dialek Hokkian yakni kata "bak" yang berarti daging dan "pia" yang berarti kue. Awal mulanya, makanan ini memang berupa kue atau serupa roti yang berisikan daging. Namun, isian daging pada bakpia tidak sepenuhnya diterima di wilayah Yogyakarta, yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Oleh karena itu, bahan isian diadaptasi menjadi kacang hijau manis untuk menyesuaikan dengan selera lokal dan aturan halal. Kemudian, bakpia mulai diperkenalkan di Yogyakarta pada awal abad ke-20, terutama di kawasan kampung-kampung yang memiliki komunitas Tionghoa. Produksi bakpia mulai berkembang pesat pada tahun 1940-an hingga 1950-an, seiring meningkatnya permintaan. Awalnya, bakpia hanya memiliki satu rasa, yaitu kacang hijau. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan permintaan pasar, produsen mulai mengembangkan varian rasa baru, seperti cokelat, keju, durian, teh hijau, pandan, hingga taro. Hal ini membuat bakpia semakin menarik bagi wisatawan.

Kampung Pathuk di Kecamatan Ngampilan merupakan salah satu kawasan yang menjadi pusat pengembangan bakpia di Yogyakarta. Memiliki lokasi yang strategis, berada tidak jauh dari pusat kota dan destinasi wisata populer seperti Malioboro, Keraton Yogyakarta, dan Taman Sari. Kampung ini telah menjadi daya tarik wisata kuliner sekaligus model pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas lokal.

Kampung Pathuk memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan perjuangan masyarakat setempat dalam mengatasi kemiskinan dan keterbatasan ekonomi. Pada masa lalu, mayoritas masyarakat Kampung Pathuk hidup dalam kondisi prasejahtera. Laki-laki umumnya bekerja serabutan sebagai buruh, kuli, atau pekerjaan lain dengan pendapatan yang tidak menentu. Sedangkan perempuan (ibu-ibu) di kampung tersebut sebagian besar tidak memiliki pekerjaan tetap dan hanya mengurus rumah tangga tanpa memberikan kontribusi laangsung terhadap pendapatan rumaah tangga, hanya mengandalkan uang dari suami.

Kondisi ini menyebabkan banyak keluarga hidup dalam kesulitan ekonomi, dengan terbatasnya akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Dalam situasi seperti ini, muncul inisiatif dari masyarakat untuk memanfaatkan potensi lokal sebagai solusi bersama, yaitu dengan memproduksi bakpia, makanan tradisional yang mulai diminati oleh penduduk lokal maupun wisatawan. Melalui inisiatif masyarakat lokal, bakpia, yang awalnya hanya camilan tradisional, dikembangkan menjadi produk unggulan yang mendongkrak perekonomian kampung.

Produksi bakpia di Kampung Pathuk mulai berkembang pesat pada era 1980-an, ketika permintaan dari wisatawan meningkat. Sejak itu, kampung ini bertransformasi menjadi sentra industri rumah tangga yang memproduksi bakpia dalam skala besar, dikenal dengan merek-merek seperti Bakpia Pathuk 25, 75, 145, dan lainnya. Produsen bakpia mulai memperluas usaha mereka dengan memanfaatkan tenaga kerja lokal dan membuka toko-toko di sekitar kampung Pathuk.

Kampung Pathuk menjadi salah satu pusat produksi bakpia yang terkenal di Yogyakarta, karena memiliki beberapa alasan. Pertama, Hampir seluruh penduduk Kampung Pathuk terlibat dalam proses produksi bakpia, mulai dari pengolahan bahan baku, pemanggangan, hingga pemasaran. Hal ini menjadikan Kampung Pathuk sebagai sentra ekonomi berbasis komunitas. Kedua, Meskipun beberapa produsen sudah menggunakan teknologi modern mengguunakan alat atau mesin otomatis, banyak dari mereka tetap mempertahankan proses produksi tradisional untuk menjaga cita rasa asli bakpia. Ketiga, Produsen bakpia di Kampung Pathuk menggunakan strategi pemasaran yang kreatif, seperti kemasan menarik, promosi di toko-toko oleh-oleh, mempromosikan melalui media sosial seperti instagram, whatsapp, tiktok, dsb. Bahkan dalam bebrapa tahun terakhir, bakpia mulai diekspor ke luar negeri, terutama ke negara-negara dengan komunitas besar diaspora Indonesia, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan negara-negara Timur Tengah.

Tujuan Program Pemberdayaan

Program Pemberdayaan Masyarakat di Kampung Patuk Ngampilaan Yogyakarta melalui pengembangan Desa Wisata Kuliner Bakpia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan perekonomian masyarakat setempat secara berkelanjutan. Dengan berfokus pada penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi inklusif, program ini diharapkan dapaat memberikan peluang bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang sebelumnya hanya mempunyai pekerjaan serabutan atau tidak memiliki pekerjaan tetap, bahkan yang tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Selain itu, pemberdayaan ini juga bertujuan untuk mengoptimalkan potensi lokal melalui industri bakpia, sehingga dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mengurangi tingkat kemiskinan di kawasan tersebut.

Selain aspek ekonomi, program ini juga bertujuan untuk melibatkan masyarakat secara aktif dalam pengelolaan dan pengembangan potensi pariwisata berbasis kuliner. Melalui pelatihan dan pengembangan kapasitas, warga diharapkan mampu menghadirkan Kampung Pathuk sebagai destinasi wisata unggulan yang memadukan pengalaman budaya, kuliner, dan edukasi. Hal ini tidak hanya membantu menjaga tradisi pembuatan bakpia, tetapi juga mendorong masyarakat untuk berinovasi dalam produk, layanan, dan pemasaran, sehingga Kampung Pathuk dapat bersaing di pasar yang lebih luas, baik secara nasional maupun internasional.

Deskripsi Praktik Baik atau Pembelajaran

  1. Langkah-langkah Implementasi

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Sumiyati sebagai pemilik industri Bakpia Pathok 543 Sonder sekaligus perintis Paguyuban Sumekar, menjelaskan bahwa program pemberdayaan di Kampung Pathuk dilakukan melalui beberapa tahapan yang terintegrasi untuk memastikan keberlanjutan dan dampak positif bagi masyarakat. Sebagai pelaku usaha sekaligus pemimpin komunitas, beliau menekankan pentingnya kolaborasi antara warga, pelaku usaha, dan pemerintah untuk mencapai tujuan bersama. Berikut adalah langkah-langkah yang diimplementasikan:

  1. Identifikasi Potensi dan Masalah Lokal

Tahap awal dalam implementasi program adalah melakukan identifikasi potensi yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Pathuk, terutama dalam hal produksi bakpia, serta masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Melalui diskusi dan survei dengan warga, masalah seperti keterbatasan keterampilan produksi, pemasaran, atau akses terhadap modal dapat diidentifikasi. Hasil identifikasi ini nantinya menjadi dasar dalam merancang program pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal.

  1. Pembentukan Kelembagaan Lokal

Mendirikan Paguuyuban dan Koperasi yang diberi nama Sumekar yang diketuai oleh Ibu Sumiyati, paguyuban ini sudah ada sejak tahun 1996 kemudian mendirikan koperasi pada tahun 2002 yang resmi berbadan hukum dan beranggotakan 68 orang. Kelembagaan ini berfungsi sebagai pusat pelatihan, distribusi, dan manajemen usaha. Selain itu, mereka juga membantu mengaatur pembagian kerja dan memberikan dukungan sosial bagi anggotanya.

  1. Melakukan Program Pelatihan dan Keterampilan

Setelah membentuk lembaga lokal, program pelatihan keterampilan perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat. Pelatihan ini meliputi teknik pembuatan bakpia, pengemasan yang menarik, pemasaran baik offline maupun online, hingga manaajemen usaha. Pendampingan ssecara berkala juga diberikan untuk memastikan bahwa masyarakat sudah mampu dan paham untuk menerapkan keterampilan yang telah diajarkan.

  1. Penguatan Pemasaran dan Branding

Strategi pemasarn yang efektif merupakan salah satu kunci keberhasilan program pemberdayaan dalam bidang industri kuliner bakpia. Masyarakat di kampung Pathuk telah mmemanfaatkan media sosial, e-commerce, dan lain sebagainya untuk mempromosikan produk mereka. Selain itu, masyarakat di Kampung Pathuk juga mengembangkan wisata edukasi, seperti tur proses pembuatan bakpia untuk menarik wisatawan sekaligus mempromosikan produk mereka.

  1. Monitoring dan Evaluasi secara Berkala

Langkah terakhir adalah melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk menilai keberhasilan program serta dampaknya terhadap masyarakat. Umpan balik dari warga dan wisatawan menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki atau mengembangkan program lebih lanjut. Dengan pendekatan ini, program pemberdayaan di Kampung Pathuk tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga menciptakan perubahan yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.

  1. Sumber Daya yang Digunakan

Berdasarkan hasil wawancara, menurut Ibu Sumiyati, sumber daya utama yang digunakan dalam program pemberdayaan di Kampung Pathuk yakni potensi yang dimiliki oleh masyarakat lokal. Seperti keterampilan tradisional dalam pembuatan bakpia yang telah diwariskan secara turun-temurun, menjadi modal utama yang dioptimalkan. Sebagian besar warga Kampung Pathuk memiliki pengalaman dasar dalam memproduksi bakpia, meskipun sebelumnya dilakukan dalam skala kecil. Melalui program ini, keterampilan tersebut ditingkatkan melalui pelatihan, sehingga produksi bakpia bisa dilakukan dengan lebih efisien dan menghasilkan produk yang lebih berkualitas.

Selain keterampilan, Ibu Sumiyati juga menyebutkan bahwa keberadaan bahan baku lokal karena memiliki harga yang murah namun kualitasnya tidak kalah dengan produk luar. Contohnya bahan baku seperti kacang hijau, tepung, ubi, dan gula merupakan sumber daya penting dan masih mengguunakan produk lokal. Sebagian besar bahan baku diperoleh dari pemasok lokal di sekitar Yogyakarta, sehingga mendukung ekonomi daerah. Penggunaan bahan-bahan berkualitas menjadi prioritas untuk menjaga cita rasa autentik bakpia.

Selain itu, dukungan eksternal seperti akses modal dan pelatihan dari mitra pemerintah, lembaga swasta, serta akademisi juga menjadi sumber daya pendukung yang signifikan. Ibu Sumiyati menekankan pentingnya kemitraan ini dalam membantu masyarakat mengakses teknologi modern untuk produksi dan pemasaran. Selain itu, jejaring promosi melalui agen wisata dan media sosial memberikan nilai tambah bagi program, sehingga Kampung Pathuk bisa dikenal lebih luas sebagai pusat wisata kuliner sekaligus pemberdayaan berbasis komunitas.

  1. Kerja Sama dan Kemitraan

Program pemberdayaan di Kampung Pathuk melibatkan berbagai bentuk kerja sama dan kemitraan untuk memastikan keberhasilan dan keberlanjutan. Menurut Ibu Sumiyati, salah satu kerja sama utama adalah dengan pemerintah daerah. Pemerintah menyediakan dukungan berupa pelatihan keterampilan, akses modal usaha, serta promosi Kampung Pathuk sebagai destinasi wisata kuliner. Melalui dinas terkait, pemerintah juga membantu dalam pengadaan infrastruktur pendukung seperti perbaikan jalan, fasilitas produksi bersama, dan penataan kawasan untuk wisatawan.

Selain itu, kerja sama dengan lembaga pendidikan dan universitas juga menjadi bagian penting dari program ini. Mahasiswa dan akademisi sering kali dilibatkan dalam memberikan pelatihan, baik dalam aspek teknis produksi bakpia maupun strategi pemasaran berbasis digital. Kampung Pathuk juga menjadi lokasi penelitian dan pengabdian masyarakat, yang memberikan masukan berharga untuk pengembangan program lebih lanjut. Kemitraan ini membantu masyarakat mendapatkan wawasan baru dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan pasar.

Kerja sama lainnya dilakukan dengan sektor swasta, seperti pelaku usaha pariwisata, distributor oleh-oleh, dan platform e-commerce. Para pelaku usaha ini membantu memasarkan produk bakpia ke pasar yang lebih luas, baik secara offline melalui toko oleh-oleh maupun online melalui platform digital. Ibu Sumiyati juga menjelaskan bahwa beberapa lembaga keuangan memberikan bantuan dalam bentuk kredit usaha mikro untuk warga yang ingin memulai atau memperluas bisnis mereka. Dengan kerja sama dan kemitraan yang terjalin ini, masyarakat Kampung Pathuk tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga mendapatkan dukungan untuk menciptakan ekosistem usaha yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

  1. Inovasi yang Dilakukan

Program pemberdayaan di Kampung Pathuk tidak hanya berfokus pada produksi bakpia secara tradisional, tetapi juga mendorong berbagai inovasi untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha. Salah satu inovasi utama adalah pengembangan varian rasa bakpia. Jika sebelumnya bakpia hanya memiliki isian kacang hijau, kini masyarakat Kampung Pathuk telah menciptakan berbagai rasa baru seperti cokelat, keju, durian, pandan, teh hijau, dan taro. Inovasi ini dilakukan untuk memenuhi selera pasar yang semakin beragam, terutama generasi muda dan wisatawan internasional.

Inovasi juga diterapkan dalam hal pengemasan produk. Para pelaku usaha bakpia di Kampung Pathuk mulai menggunakan kemasan yang lebih modern, menarik, memenuhi standar keamanan pangan, bisa menjaga kesegaran produk, dan ramah lingkungan. Kemasan baru ini tidak hanya melindungi produk dengan lebih baik, tetapi juga memberikan nilai estetika yang menarik bagi konsumen. Selain itu, beberapa produsen telah menambahkan informasi seperti komposisi, varian rasa, serta memiliki desain yang mencerminkan identitas merek.

Pada aspek pemasaran, inovasi besar terjadi dengan pemanfaatan teknologi digital. Masyarakat Kampung Pathuk, melalui pelatihan yang diberikan dalam program pemberdayaan, mulai memanfaatkan media sosial, platform e-commerce, dan layanan pesan antar untuk memasarkan bakpia. Strategi ini memungkinkan produk bakpia Kampung Pathuk menjangkau konsumen di luar Yogyakarta, bahkan hingga ke luar negeri. Selain itu, beberapa rumah produksi di Kampung Pathuk juga menawarkan pengalaman wisata edukasi, di mana wisatawan dapat melihat proses pembuatan bakpia langsung dan bahkan mencoba membuatnya sendiri. Pendekatan ini memberikan nilai tambah yang unik dan memperkuat posisi Kampung Pathuk sebagai destinasi wisata kuliner edukasi.

Peta Model Pemberdayaan

Hasil dan Dampak

  1. Indikator Kinerja

Hasil utama dari program pemberdayaan di Kampung Pathuk adalah meningkatnya taraf hidup masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja baru dan penguatan ekonomi lokal. Sebelum program berjalan, sebagian besar masyarakat Kampung Pathuk bekerja serabutan, dan ibu rumah tangga tidak memiliki pekerjaan tetap. Kini, dengan adanya pelibatan dalam produksi bakpia, lebih dari 80% warga kampung memiliki sumber penghasilan tetap.

Indikator kinerja lainnya adalah peningkatan kualitas produk bakpia yang dihasilkan. Melalui pelatihan yang diberikan, warga mampu menghasilkan bakpia dengan rasa yang lebih beragam, tekstur yang lebih baik, dan daya tahan produk yang lebih lama. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya permintaan bakpia Kampung Pathuk, baik dari wisatawan domestik maupun mancanegara. Selain itu, penggunaan kemasan modern dan inovatif menjadi indikator bahwa masyarakat mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang.

Dari sisi wisata, indikator kinerja dapat dilihat dari meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Kampung Pathuk. Dalam beberapa tahun terakhir, Kampung Pathuk telah berkembang menjadi salah satu destinasi wisata kuliner utama di Yogyakarta. Wisatawan tidak hanya datang untuk membeli bakpia, tetapi juga untuk belajar tentang proses pembuatannya melalui konsep wisata edukasi. Dampaknya, pendapatan masyarakat tidak hanya berasal dari penjualan bakpia tetapi juga dari layanan wisata seperti penyediaan pengalaman membuat bakpia, tur produksi, dan penjualan produk oleh-oleh lainnya.

Keberhasilan program pemberdayaan ini juga tercermin dari keberlanjutan kelembagaan yang ada, seperti paguyuban Sumekar dan Koperasi Sumekar. Paguyuban berhasil menjadi pusat koordinasi dan inovasi bagi masyarakat, sementara koperasi menyediakan akses modal usaha yang terjangkau dan menjadi sarana pengelolaan keuangan bersama. Keberadaan koperasi juga memungkinkan masyarakat untuk lebih mandiri secara finansial dan mampu mengatasi tantangan seperti fluktuasi harga bahan baku. Dengan semua hasil ini, program pemberdayaan di Kampung Pathuk tidak hanya menciptakan dampak ekonomi, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan inovasi lokal.

  1. Dampak adanya Program Pemberdayaan pada Komunitas

Program pemberdayaan di Kampung Pathuk telah memberikan dampak signifikan pada aspek sosial dan ekonomi komunitas lokal. Dampak pertama yang paling nyata adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebelum program ini berjalan, sebagian besar warga bekerja serabutan dan memiliki penghasilan tidak menentu. Kini, dengan keterlibatan mereka dalam produksi bakpia dan sektor pendukung lainnya, banyak keluarga yang memiliki sumber pendapatan tetap, sehingga taraf hidup mereka meningkat. Kesejahteraan yang lebih baik juga terlihat dari kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Dampak sosial lainnya adalah terciptanya solidaritas dan semangat gotong royong yang lebih kuat antar masyarakat. Paguyuban Sumekar, yang menjadi wadah koordinasi program, telah mendorong masyarakat untuk bekerja bersama dan saling mendukung dalam menjalankan usaha. Hal ini tidak hanya meningkatkan efektivitas produksi bakpia, tetapi juga mempererat hubungan sosial di antara anggota komunitas. Warga yang sebelumnya kurang terlibat dalam kegiatan kolektif kini memiliki rasa memiliki terhadap program ini, karena mereka merasakan langsung manfaatnya.

Pada aspek budaya, program pemberdayaan ini juga berdampak positif dalam melestarikan warisan kuliner lokal. Produksi bakpia, yang sebelumnya hanya menjadi usaha kecil-kecilan, kini berkembang menjadi bagian integral dari identitas Kampung Pathuk. Program ini memastikan bahwa keterampilan tradisional membuat bakpia terus diwariskan kepada generasi berikutnya, sambil tetap berinovasi untuk mengikuti perkembangan pasar. Selain itu, kegiatan wisata edukasi yang melibatkan wisatawan dalam proses pembuatan bakpia juga menjadi cara untuk mengenalkan budaya Yogyakarta kepada dunia luar.

Dampak terakhir adalah penguatan komunitas sebagai destinasi wisata kuliner yang berkelanjutan. Dengan semakin dikenalnya Kampung Pathuk sebagai sentra bakpia, kunjungan wisatawan terus meningkat, sehingga memberikan dampak ekonomi tidak hanya bagi produsen bakpia tetapi juga bagi sektor pendukung lainnya, seperti toko oleh-oleh, penginapan, dan jasa transportasi. Komunitas kini lebih mandiri secara ekonomi dan mampu mengembangkan potensi lokal dengan inovasi yang terus berlanjut. Program pemberdayaan ini tidak hanya memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat posisi Kampung Pathuk sebagai model pemberdayaan berbasis budaya dan komunitas.

  1. Kisah Sukses atau Testimoni

Kisah sukses Bapak Suwarsono, atau yang lebih akrab dipanggil Pak Sonder, adalah sebuah inspirasi yang menjadi awal transformasi besar di Kampung Pathuk, Ngampilan, Yogyakarta. Sebagai pelopor industri bakpia di kampung ini, Pak Sonder tidak hanya berhasil mengangkat kehidupan keluarganya dari kemiskinan, tetapi juga membuka jalan bagi warga lain untuk berkembang melalui usaha kuliner yang kini dikenal luas.

Pada tahun 1987, Pak Sonder memulai perjalanannya di dunia bakpia dengan bekerja di Bakpia 75, salah satu produsen bakpia terkenal pada masa itu. Sebagai karyawan, ia mempelajari setiap detail proses pembuatan bakpia, mulai dari mencampur adonan hingga mengemas produk. Pengalaman tersebut membuka matanya bahwa bakpia bukan sekadar makanan khas, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai sumber penghasilan. Keinginan untuk mandiri mulai tumbuh dalam diri Pak Sonder. Ia ingin mencoba membuat bakpia sendiri, bukan hanya untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya tetapi juga untuk memberikan sesuatu yang unik dari hasil karyanya sendiri. Dengan keberanian dan tekad, ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya di Bakpia 75 pada tahun 1989 dan memulai usahanya sendiri di rumah yang diberi nama Bakpia Pathok 543 (angka yang merujuk pada nomor rumahnya).

Dengan peralatan yang seadanya, seperti loyang, oven kecil, dan alat pengaduk manual, Pak Sonder memulai usaha bakpianya dari skala rumahan. Modal yang ia miliki sangat terbatas, sehingga ia hanya mampu memproduksi sekitar 100 bakpia per hari pada awal usahanya. Ia menjual produknya ke pasar tradisional dan menitipkan bakpia di warung-warung kecil di sekitar Kampung Pathuk. Meskipun produksinya kecil, bakpia buatan Pak Sonder mulai menarik perhatian karena rasanya yang khas dan kualitasnya yang konsisten. Pelanggan yang mencicipi bakpianya mulai merekomendasikannya kepada orang lain, dan perlahan usahanya mulai tumbuh.

Keberhasilan Pak Sonder tidak hanya membawa perubahan dalam hidupnya, tetapi juga menginspirasi tetangganya. Pada tahun 1989 hingga 1992, beberapa tetangganya mulai mencoba membuat bakpia sendiri dengan melihat resep dan metode produksi yang mirip dengan yang dilakukan oleh Pak Sonder. Ia tidak memandang mereka sebagai pesaing, melainkan sebagai mitra yang sama-sama ingin memajukan Kampung Pathuk. Semangat berbagi yang dimiliki Pak Sonder menjadi dasar dari berkembangnya komunitas bakpia di Kampung Pathuk. Ia sering memberikan saran dan berbagi pengalamannya kepada tetangga yang ingin memulai usaha serupa.

Melihat semakin banyaknya warga Kampung Pathuk yang memulai usaha bakpia, Pak Sonder merasa perlu ada wadah untuk saling mendukung dan bekerja sama. Pada tahun 1996, ia mengambil inisiatif untuk membentuk paguyuban yang diberi nama “Sumekar”. Paguyuban ini awalnya beranggotakan 20 orang yang semuanya merupakan produsen bakpia di Kampung Pathuk. Melalui Sumekar, para anggota saling berbagi ilmu, memperbaiki kualitas produk, dan mencari solusi bersama untuk menghadapi tantangan, seperti persaingan harga dan kebutuhan bahan baku. Paguyuban juga menjadi tempat untuk mengadakan pelatihan dan diskusi tentang pengembangan usaha.

Seiring dengan meningkatnya permintaan konsumen, usaha bakpia Pak Sonder pun terus berkembang. Dari awalnya hanya memproduksi 100 bakpia per hari, ia mampu meningkatkan produksinya menjadi 3000 per hari jika musim liburan bisa mencapai 6000 bakpia per hari. Hal ini merupakan sebuah pencapaian luar biasa untuk skala industri rumahan. Peningkatan ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi keluarganya tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Pak Sonder merekrut beberapa tetangganya untuk membantu produksi, memberikan lapangan kerja bagi mereka yang sebelumnya menganggur atau bekerja serabutan.

Kini, Kampung Pathuk dikenal sebagai pusat industri bakpia di Yogyakarta, dan nama Pak Sonder diingat sebagai sosok pelopor yang membuka jalan bagi kesuksesan ini. Usaha bakpia yang ia rintis tidak hanya menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya, tetapi juga menginspirasi banyak orang untuk berani memulai usaha. Kisah sukses Pak Sonder adalah bukti bahwa ketekunan, inovasi, dan semangat untuk berbagi dapat membawa perubahan besar. Ia tidak hanya mengangkat keluarganya dari kemiskinan, tetapi juga menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan di komunitasnya. Bagi banyak orang, Pak Sonder adalah inspirasi nyata bahwa keberhasilan dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan tekad besar.

Tantangan dan Cara Mengatasinya

  1. Tantangan Utama

Berikut merupakan tantangan dan hambatan dalam proses pemberdayaan masyarakat di Kampung Pathuk berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu informan:

  • Banyak masyarakat Kampung Pathuk yang memiliki keterbatasan modal untuk memulai atau mengembangkan usaha bakpia. Meskipun koperasi Sumekar telah memberikan fasilitas pinjaman mikro, beberapa warga masih merasa sulit untuk memenuhi kebutuhan dana, terutama untuk memperluas skala produksi atau meningkatkan infrastruktur.

  • Banyak masyarakat di Kampung Pathuk yang awalnya kurang memiliki keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja di industri bakpia. Hal tersebut disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan (mayoritas masyarakat hanya lulusan SMA) dan pelatihan yang kurang.

  • Industri bakpia yang sangat kompetitif atau persaingan ketat. Sebagai pusat produksi bakpia yang sudah dikenal luas, Kampung Pathuk menghadapi persaingan ketat baik dari produsen bakpia di daerah lain maupun dari merek bakpia lain di Yogyakarta yang usdah memiliki nama yang besar contohnya seperti, Bakpia Tugu Jogja, Bakpia Juwara Satoe, Bakpia Djava, Bakpia Kencana, Bakpia Kurnia Sari, Bakpiaku, dan lain sebagainya. Dengan semakin banyaknya varian rasa dan inovasi dari produsen bakpia lain, masyarakat Kampung Pathuk perlu terus berinovasi agar produk mereka tetap relevan di pasar. Jika tidak, mereka berisiko kehilangan pelanggan, terutama wisatawan yang mencari produk baru atau unik.

  • Pada awalnya masyarakat kesulitan dalam mencari legalitas yang kemudian dibentuk kelompok bakpia yang bernama Paguyuban Sumekar di Kampung Pathuk ntuk mempermudah dalam memperoleh legalitas.

  • Kampung Pathuk memiliki lokasi yang kurang strategis dan sulit dijangkau. Kampung ini terletak di area yang sedikit masuk gang kecil dari dari jalan utama, sehingga wisatawan yang ingin berkunjung harus melewati akses jaalan yang sempit dan hanya bisa dilewati oleh kendraan roda dua, seperti motor dan sepeda.

  • Musim: periode antara musim liburan dengan puasa Ramadhan. Ketika musim liburan banyak wisatawan yang datang ke Kampung Pathuk untuk membeli bakpia sebagai oleh-oleh. Pada hari-hari biasa terlebih saat bulan Ramadhan, pemilik usaha bakpia hanya menerima seperempat hingga setengah pendapatan mereka pada musim libur.

Dari tantangan yang sudah dijelaskan di atas, terdapat beberapa solusi agar proses pemberdayaan masyarakat di Kampung Pathuk dapat berjalan lebih lancar dan efektif. Pertama, pemerintah perlu memberikan dukungan yang lebih besar kepada masyarakat Kampung Pathuk dalam mengembangkan industri bakpia dan masyarakat yang memiliki UMKM (Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah) lainnya dengan tidak mempersulit syarat-syarat dalam mencari legalitas. Kedua, pemerintah juga perlu mendukung dalam hal modal, pelatihan, pemasaran, dan kelembagaan agar kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat meningkat.

  1. Strategi Mitigasi

Berikut merupakan strategi mitigasi atau solusi berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Sumiyati yang dapat dilakukan agar proses pemberdayan berbasis Desa Wisata Kuliner Bakpia di Kampung Pathuk dapat berjalan dengan lancar serta efektif.

  • Meningkatkan akses modal dan pengelolaan keuangan

Untuk mengatasi tantangan keterbatasan modal, koperasi Sumekar dapat diperkuat dengan menjalin kerja sama dengan lembaga keuangan formal seperti bank dan program bantuan pemerintah. Program kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga rendah bisa menjadi solusi untuk memberikan akses modal yang lebih terjangkau bagi warga. Selain itu, pelatihan pengelolaan keuangan harus diperluas untuk membantu masyarakat mengelola keuangan mereka dengan lebih efisien, mengurangi risiko gagal bayar, dan menyediakan pembiayaan untuk pengembangan usaha yang berkelanjutan.

  • Inovasi produk dan diferensiasi pasar

Untuk mengatasi persaingan pasar, Kampung Pathuk harus terus mengembangkan produk-produk yang inovatif berdasarkan kebutuhan dan tren konsumen. Misalnya, membuat bakpia dengan isian yang sehat berbasis bahan organik atau rendah gula untuk menarik perhatian pembeli atau konsumen yang peduli kesehatan. Selain itu, diferensiasi pasar juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan keunikan lokal, seperti tidak hanya menjual bakpia namun juga menawarkan pengalaman wisata edukasi yang menceritakan sejarah dan proses produksi bakpia. Strategi ini dapat memberikan nilai tambah yang tidak dimiliki oleh pesaing.

  • Pelatihan berbasis keterampilan praktis

Untuk meningkatkan keahlian maasyarakat, dengan mengadakan program pelatihan intensif berbasis praktik secara berkelanjutan. Fokus pelatihan ini yaitu pada keterampilan spesifik yang berkaitan dengan industri bakpia, contohnya seperti teknik pembuatan adonan, pengisian, pemanggangan, serta pengemasan. Metode pembelajaran ini dirancaang sederhana dan aplikatif, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat yang berlatar belakang pendidikan rendah sekalipun.

Strategi mitigasi ini memerlukan pendekatan baik yang melibatkan pemerintahan, pelaku usaha, lembaga pendidikan, serta masyarakat lokal. Dengan menerapkan strategi yang tepat untuk mengatasi tantangan yang ada, program pemberdayaan ini dapat meninngkatkan kesejahteraan masyarakat dan mencapai tujuan jangka panjang, yaitu menjadikan Kampung Pathuk sebagai mmodel pemberdayaan yang berkelanjutan.

Pembelajaran dan Rekomendasi

  1. Pembelajaran Utama

  • Pentingnya pendekatan partisipatif dalam pemberdayaan

Salah satu pembelajaran penting dari program ini yakni keberhasilan pemberdayaan masyarakat sangat bergantung pada pendekatan paartisipatif. Dengan melibatkan maasyarakat secara langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evakuasi program, masyarakat merasa memiliki dan bertanggung jawab atas kesuksesan program tersebut. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri masyarakat, namun juga memastikan bahwa program terlaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal. Paguyuban Sumekar merupkn salah satu contoh bagaimana lembaga lokal dapat menjadi penggerak partisipasi masyarakat dalam upaya kolektif.

  • Peningkatan keterampilan masyarakat di Kampung Pathuk

Pembelajaran lainnya yakni bahwa peningkatan keterampiln dan daya serap masyarakat adalah kunci keberhasilan pemberdayaan. Melalui pelatihan ini, masyarakat Kampung Pathuk yang sebelumnya tidak mempunyai keterampilan khusus mampu menghasilkan produk yang berkualitas tinggi yang banyak diminati passar. Selain keterampilan teknis, pelatihan manajemen, pemasaran, dan teknologi juga berkontribusi besar dalam memperkuat daya saing usaha lokal. Hal ini menunjukkaan bahwa investasi pada pendidikan informal bisa menghasilkan dampak yang signifikan terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat di Kampung Pathuk.

  • Melakukan inovasi dan adaptasi dalam industri bakpia

Program ini mengajarkan bahwa inovasi dan adaptasi merupakan salah satu kunci untuk mempertahankan pemberdayaan yang berkelanjutan. Kampung Pathuk berhasil mempertahankan daya tariknya melalui inovasi berkelanjutan, termasuk mengembangkan varian rasa baaruu untuk isisan bakpia, menyempurnakan kemasan, serta sudah mulai menggunakan teknologi untuk memasarkan produk. Selain itu, program ini juga dapat disesuaikan dengan tren wisata edukasi sehingga memberikan nilai tambah bagi wisatawan yang berkunjung. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya melestarikan warisan budaya lokal, tapi juga memastikan produk tetap relevan dalam persaingan pangsa pasar yang ketat.

  • Kekuatan kerjasama dan solidaritas komunitas di Kampung Pathuk

Pembelajaran penting lainnya yakni bahwa kerjasama dan solidaritas komunitas bisa sebagai fondasi yang kokoh guna mendukung program pemberdayaan. Dengan adanya koperasi dan paguyuban sebagai wadah kolektif, masyarakat mampu mengelola smber daya bersama. Solidaritas ini juga membantu menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan mendukung, di mana setiap individu merasa dihargai dan diberdayakan.

Dari poin pembelajaran yang sudah dijelaskan di atas, kesimpulan yang dapat diambil dari program ini adalah pemberdayaan masyarakat tidak hanya memerlukan intervensi ekonomi, namun juga pendekatan sosial, pendidikan dan inovasi berkelanjutan. Keberhasilan Kampung Pathuk menjadi contoh bagaimana kerja sama antara masyarakat lokal, pemerintah, dan pelaku ekonomi dapat memberikan dampak positif jangka panjang yang memperkuat perekonomian lokal dan solidaritas sosial.

  1. Rekomendasi untuk Replikasi atau Peningkatan

  • Menerapkan model kemitraan ya