Sosiologi Agama Mendukung SGDs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; Masjid Tidak Hanya Sebagai Tempat Ibadah Namun Juga Tempat Pemberdayaan UMKM
“MONITORING DAN EVALUASI PEMBELAJARAN/BEST PRACTICE SDG’S PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN”
Ahmada Namil Abid
22105040060
Masjid Tidak Hanya Sebagai Tempat Ibadah Namun Juga Tempat Pemberdayaan UMKM
Ringkasan Eksekutif
Masjid Jogokariyan menerapkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berfokus pada pembinaan UMKM melalui Biro Ekonomi Masjid. Program ini berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat dan memiliki kemandirian ekonomi. Hasil menunjukkan peningkatan partisipasi masyarakat dan meningkatnya dana kas masjid Jogokariyan. Pada tahun 2024, sebanyak 160 UMKM binaan masjid tergabung, 315 lapak ketika Pasar Sore Ramadhan, dan Dana kas 3,4 miliar perbulan.
Latar Belakang
Berdasarkan wawancara terhadap salah satu pengurus masjid, Ustadz Gita Welly Ariadi mengatakan bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat Jogokariyan selain dilatarbelakangi untuk memajukan ekonomi melalui penyediaan lahan dan pembinaan bisnis UMKM, juga dilatarbelakangi keinginan untuk menjalankan fungsi masjid sebagaimana mestinya. Karena sekarang kebanyakan masjid sebagai baitullah saja, tetapi fungsi yang lain belum berjalan, seperti bait dakwah, bait at-tarbiyyah, bait al-mu’amalah termasuk fungsi bait al-mal di masjid belum jalan seharusnya menjadi satu kesatuan di masjid. Kemudian mereka coba kembalikan fungsi masjid seperti pada masa Rasulullah SAW. Adapun harapannya ketika masjid-masjid ini memberdayakan warganya, masyarakat sekitarnya, maka kehadiran masjid ini sebagai wajah islam rahmatan lil alamin diharapkan dapat menjadi sebuah berkah bagi masyarakat semuanya. Menurutnya, semakin banyak masjid seharusnya semakin banyak memberikan kesejahteraan kepada masyarakat sekitarnya apabila masyarakat diberdayakan oleh masjid sekaligus dapat membawa berkah bagi semuanya.
Adapun menurutnya adanya pemberdayaan UMKM karena dimanapun masyarakat itu membutuhkan lapangan pekerjaan. Artinya sebagaimana dijelaskan sebelumnya tentang fungsi masjid. Kalau dilihat di Surah At-taubah ayat 18, Allah berfirman:
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَۗ فَعَسٰٓى اُولٰۤئِكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ (التوبة: ١٨)
Artinya: “Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapapun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Sehingga dapat dilihat ciri-ciri orang yang memakmurkan masjid yaitu, Pertama aqimu shalat (mendirikan shalat), dan yang Kedua adalah ata zakat (menunaikan zakat). Adapun konsep menjalankan zakat ini endingnya atau tujuan akhirnya nanti adalah supaya sampai bisa merubah para penerima zakat menjadi para pemberi zakat. Tangan di bawah menjadi tangan di atas. Maka dari itulah sebenarnya tugas masjid juga melakukan pemberdayaan masyarakat. Dalam artian diharapkan hal ini dapat terus berputar. Sehingga orang bekerja tidak hanya sebagai upaya mencari uang tetapi juga sebagai ibadah.
Itulah yang dulu dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat. Maka kemudian sahabat-sahabat ini menjadi orang-orang yang maju secara ekonomi. Dapat dibayangkan dulu Rasulullah SAW dalam masa awal-awal dakwah harus berperang dengan kaum kafir Quraisy, ketika dakwah diserang oleh mereka, sehingga harus melarikan diri dan sebagainya. Itu semua kalau tidak didukung oleh ekonomi atau finansial yang kuat rasanya tidak mungkin. Maka inilah yang berusaha mereka kemudian kembalikan. Masjid ini menguatkan ekonomi jamaah. Itulah memang tugas masjid, maka ketika mereka tahu ternyata seperti itu tugasnya maka mereka lakukan pemberdayaan. Motivasinya adalah seperti yang disebutkan sebelumnya yaitu mengembalikan fungsi masjid sebagaimana fungsi seharusnya. Masjid ini tidak hanya sebagai tempat shalat. Apabila selesai sholat kemudian lampu dimatikan dan pintu ditutup. Tapi masjid ini sebagai pusat peradaban, pusat aktivitas. Dan disitulah masjid memberikan banyak solusi untuk masyarakat.
Tujuan
Sesuai dengan hasil observasi, tujuan utama masjid melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat Jogokariyan adalah:
-
Dengan adanya pemberdayaan ekonomi masyarakat, maka juga Mengembalikan fungsi masjid sebagaimana mestinya. Masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat, pusat dakwah, pusat peradaban, pusat aktivitas, dan pusat ekonomi. Dengan memberdayakan ekonomi masyarakat, masjid berusaha menjadi pusat peradaban yang memberikan solusi bagi berbagai permasalahan masyarakat.
-
Pemberdayaan ekonomi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar masjid. Dengan adanya lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan, diharapkan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan hidup lebih layak. Sehingga masyarakat dapat melaksanakan zakat dan orang yang sebelumnya menerima zakat menjadi orang yang memberikan zakat. Diharapkan juga masyarakat dapat bershadaqah, salah satunya shadaqah nasi Jum’at berkah untuk jamaah sholat Jum’at yang tidak hanya diisi oleh masyarakat sekitar Jogokariyan tetapi juga Mahasiswa perantauan atau para wisatawan Jogja. Selain itu, Masjid Jogokariyan dapat menjadi tujuan infaq masyarakat untuk pembangunan masjid sehingga dapat menjadi bekal amal jariyah di akhirat kelak.
-
Menjadikan masjid sebagai wajah Islam rahmatan lil alamin: Masjid Jogokariyan yang aktif dalam pemberdayaan ekonomi diharapkan dapat menjadi contoh nyata bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Dengan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan, masjid dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
-
Pemberdayaan ekonomi juga merupakan bertujuan untuk pelaksanaan ibadah, salah satunya terkait dengan zakat. Tujuan akhir dari penyaluran zakat adalah untuk memberdayakan penerima zakat agar mereka dapat mandiri secara ekonomi dan menjadi pemberi zakat pada masa mendatang. Selain zakat, bisa juga ibadah dengan bershadaqah atau infaq. Hasil shadaqah atau infaq akan digunakan untuk keperluan masjid, salah satunya adalah untuk pemberdayaan masyarakat tersebut.
-
Dengan memberdayakan ekonomi jamaah, masjid berusaha untuk memperkuat ekonomi umat Islam secara keseluruhan. Ekonomi yang kuat akan memberikan umat Islam kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk dalam menjalankan dakwah. Seperti dulu Rasulullah SAW mengajak keluarganya masuk islam dengan jamuan makan-makan. Maka apabila diterapkan di zaman sekarang yaitu shadaqah seperti shadaqah makanan di masjid ketika sholat Jum'at agar masyarakat tidak melalaikan sholat Jum'at.
Deskripsi Praktik Baik atau Pembelajaran
Langkah-langkah Implementasi
Salah satu lembaga kepengurusan yang ada di Masjid Jogokariyan adalah Biro Ekonomi Masjid. Biro tersebut menaungi usaha-usaha UMKM lokal Jogokariyan dalam UMKM binaan Masjid Jogokariyan. Beberapa program yang dijalankan Biro Ekonomi Masjid untuk menumbuhkan ekonomi UMKM binaan Masjid:
Pelatihan dan Ngaji bisnis
Dalam pelatihan dan ngaji bisnis ini disampaikan materi tentang fiqh muamalah, bagaimana cara berdagang, tidak boleh mengurangi timbangan, dll. Ilmu basic dan standar yang dulu juga diajarkan oleh Rasulullah SAW di masjid kepada para sahabat. Maka sebagian besar dari para sahabat akan menjadi pedagang.
Bantuan Modal Usaha dan Pengelolaan Ekonomi
Bagaimana mengelola ekonomi, memanajemen uang akan diajarkan biro ekonomi masjid kepada para pemilik UMKM. Mereka diberikan pelatihan-pelatihan. Bahkan apabila ada yang membutuhkan modal usaha ketika tidak punya modal maka akan diusahakan untuk dibantu. Seperti peminjaman modal dengan bunga rendah, membantu menghubungkan dengan perbankan syariah supaya mendapatkan pinjaman, dan memberikan bantuan modal usaha bagi yang kurang mampu yang didapatkan dari dana kas hasil ZIS (Zakat, Infaq, Shadaqah).
Bantuan modal juga bisa datang dari pihak luar seperti pemerintah yang disalurkan kepada Majid Jogokariyan untuk UMKM binaan masjid. Salah satunya adalah Pada tahun 2023 Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno meluncurkan program Modal Berkah bagi pelaku UMKM binaan masjid. Program ini merupakan bentuk inisiasi kerjasama dari OK OCE Masjid Jogokariyan. Program Modal Berkah ini memberikan modal tanpa riba bagi pelaku UMKM. Selain itu, juga memberikan fasilitas pelatihan literasi keuangan dan pemasaran bagi para pelaku usaha. Adapun besaran bantuan bagi UMKM binaan yang disalurkan melalui masjid Jogokariyan adalah 15 juta.
Pemberian akses event
Apabila ada event atau acara pameran mereka akan diikutsertakan atas nama masjid. Keikutsertaan dilakukan secara bergiliran. Misalnya nanti ada event A, nanti sepuluh UMKM terlebih dahulu diikutkan. Kemudian selanjutnya apabila ada event yang lain, maka akan gantian, digilir dengan UMKM lain. Hal tersebut merupakan bagian dari masjid Jogokariyan ikut mengenalkan produk-produk UMKM lokal Jogokariyan.
Penyediaan Lahan Jualan
Lahan sekitar Masjid Jogokariyan diberikan sebagai lokasi jualan, seperti angkringan samping masjid. Dalam hal ini ada beberapa pasar rutinan yang diselenggarakan dan lahannya disediakan oleh Masjid Jogokariyan:
-
Pasar Rakyat. Pasar ini diadakan setiap hari Sabtu dan Ahad setelah subuh sampai jam 8 pagi. Banyak masyarakat yang jualan di sekitar Masjid Jogokariyan ketika waktu tersebut. Jumlah lapak pedagangnya juga biasanya melihat terlebih dahulu dari jumlah jadwal banyaknya tamu dan pengunjung yang hadir ke masjid Jogokariyan. Biasanya pihak manajemen Masjid Jogokariyan sering dapat tamu untuk studi banding dari pengurus masjid lain untuk belajar bagaimana manajemen masjid Jogokariyan. Mereka yang ingin studi banding harus mendaftar terlebih dahulu minimal seminggu sebelum kedatangan. Setelah ada pendaftaran bahwa akan ada tamu, biasanya manajemen Masjid Jogokariyan kemudian menginfokan list tamu yang hadir kepada UMKM binaan masjid. Setiap minggunya list tersebut dibagikan kepada mereka, sehingga banyak dari mereka yang berjualan.
Dalam pasar rakyat ini, warga diberikan voucher untuk belanja. Adapun momen khusus dimana pasar rakyat dilaksanakan diluar hari Sabtu dan Ahad. Yaitu pada tahun 2022, untuk ikut meramaikan muktamar Muhammadiyah di Surakarta, Masjid Jogokariyan mengadakan pasar rakyat selama 4 hari. Pasar tersebut diselenggarakan pada hari Sabtu, Ahad, Kamis, dan Jum'at di minggu yang sama. Untuk memeriahkan acara ini, Masjid Jogokariyan membagikan voucher bagi jamaah subuh. Biaya anggaran yang dikeluarkan masjid mencapai 20 juta per hari. Sehingga selama 4 hari totalnya mencapai 80 juta.
-
Pasar Sore Ramadhan (Kampoeng Ramadhan Jogokariyan). Pasar ini diadakan tiap bulan ramadhan setiap tahun. Event pasar besar yang diadakan Masjid Jogokariyan. Kegiatan Kampung Ramadhan diselenggarakan untuk menyambut kedatangan Bulan suci Ramadhan setiap tahunnya. Adapun jumlah lapak pedagang mencapai 315 lapak dengan jarak 1,5 sampai 2 meter per lapak. Kegiatan ini telah diadakan semenjak tahun 2005. Sehingga sampai pada tahun 2024 ini sudah masuk ke edisi ke 20.
Awalnya pasar sore ini belum seramai sekarang. Dulu pasar sore Ramadhan hanya diikuti oleh pengurus-pengurus Masjid Jogokariyan. Produk yang dijual pada awalnya yang penting apapun yang sekiranya di rumah ada sesuatu yang bisa dijual. Kemudian mereka membuat lapak. Mereka membuat meja, mendirikan lapak-lapak untuk berjualan. Hal itu dilakukan para pengurus Masjid Jogokariyan untuk membuat image seakan-akan di jalanan masjid banyak yang jualan. Kemudian orang-orang datang karena euforia pasar sore Ramadhan dan melihat-lihat jualannya. Masyarakat iseng datang dan pada akhirnya mulai ramai. Sehingga lama kelamaan banyak yang jualan.
Pada awalnya para pengurus juga iseng jualan. Mereka ingin menciptakan suasana pasar sore Ramadhan. Apabila ada yang tidak laku, mereka saling membeli satu dengan yang lain. Istilahnya saling nglarisi. Hal itu dilakukan agar besoknya bisa berjualan kembali dan semakin ramai dikunjungi. Penyelenggaraan pasar sore tersebut membutuhkan perjuangan dan proses yang lumayan lama sehingga seramai sekarang.
Pendaftaran untuk ikut berdagang di Pasar Sore Ramadhan dibuka satu sampai dua bulan sebelumnya. Seminggu pertama pendaftaran dibuka khusus UMKM lokal Jogokariyan baru setelah itu dibuka untuk umum. Jadi prioritas pendaftaran untuk warga Jogokariyan.
Bahkan sekarang pengurus Masjid Jogokariyan sudah mulai menolak apabila ada pendaftaran pelapak baru. Pada tahun 2023 kemarin, dari 500 lebih pendaftar kemudian diundi. Sebanyak 315 pendaftar yang akhirnya diterima karena banyaknya pendaftar sehingga tidak semuanya bisa berjualan. Karena pada akhirnya pasar sore Ramadhan sudah terbentuk. Para pedagang masing-masing sudah memiliki produk jualannya sendiri-sendiri. Sehingga orang-orang mau mencari takjil apapun ada semua. Dengan pedagang sebanyak itu dan sangat ramainya orang-orang berburu takjil sepanjang jalan Jogokaryan menunjukkan kesuksesan digelarnya acara tahunan ini.
-
Berjualan di hari biasa. Selain di hari-hari saat ada acara tertentu, para pedagang UMKM binaan Masjid Jogokariyan juga boleh berjualan di depan masjid. Mereka yang merasa bahwa dagangannya sudah mulai laris dan banyak yang beli biasanya berjualan di hari-hari biasa. Namun kebanyakan memang yang paling berjualan adalah ketika pasar rakyat Sabtu-ahad dan ketika acara Kampung Ramadhan Jogokariyan.
Layanan Foto Produk dan Promosi
Layanan Foto produk disediakan bagi pedagang yang sudah mempunyai produk tapi belum mempunyai katalognya, maka disediakan fotografer profesional. Produk apapun itu nantinya akan difoto yang bagus. Jadi ketika mereka share di toko online, dishare untuk keperluan jualan maka kemudian dapat menambah pesanan masuk.
Bimbingan Sertifikasi Halal
Masjid Jogokariyan juga ada bimbingan kalau misalnya para penjual memerlukan sertifikasi halal. Nantinya mereka akan bantu memberi akses dan mengurusnya.
Sumber Daya yang digunakan
Para pedagang UMKM lokal berada dibawah naungan, diberdayakan oleh Biro Ekonomi Masjid Jogokariyan. Terdapat juga grup UMKM lokal binaan Masjid Jogokariyan yang dikelola oleh Biro Ekonomi Masjid yang memiliki anggota sekitar 160 an. Adapun Pelatihan Ngaji Bisnis, Pengelolaan ekonomi, dan lain-lain yang telah disebutkan sebelumnya merupakan bagian dari program Biro Ekonomi Masjid Jogokariyan. Adapun Pasar Rakyat biasanya diberikan voucher kepada jamaah yang sholat subuh di Masjid Jogokariyan. Hal itu selain untuk mengajak masyarakat untuk sholat berjamaah juga untuk meningkatkan UMKM lokal karena dengan pemberian voucher maka dagangan mereka ada yang nglarisi. Selain program pasar rakyat sabtu-ahad tersebut, pada acara tertentu seperti ketika bulan ramadhan tahun 2023, Masjid Jogokariyan juga menyediakan voucher yang bisa digunakan untuk membeli makanan sahur. Masyarakat sekitar dapat membeli makanan sahur yang dijual pedagang lokal Jogokariyan menggunakan voucher senilai sepuluh ribu rupiah.
Kerjasama dan Kemitraan
Kerjasama dan Kemitraan para pedagang UMKM lokal Jogokariyan berada di naungan Biro Ekonomi Masjid Jogokariyan. Kemudian para pedagang masuk ke dalam grup UMKM binaan Masjid Jogokariyan. Adapun total anggotanya berjumlah sekitar 160 an. Mereka juga diharuskan untuk saling membeli apabila barang yang mereka butuhkan ada di dalam grup UMKM binaan tersebut. Seperti ketika salah satu UMKM membutuhkan suatu barang atau bahan, apabila barangnya tersedia oleh anggota UMKM binaan yang lain, maka diharuskan untuk membeli ke UMKM tersebut.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, para pedagang UMKM lokal disediakan lahan untuk berjualan pada event pasar, diberikan pelatihan, diberikan bantuan bimbingan Sertifikasi Halal, diberikan layanan Foto Produk dan Promosi di media sosial Masjid Jogokariyan, diberikan subsidi berupa voucher dan lain sebagainya.
Selain itu pada event pasar seperti pasar rakyat dan pasar sore Ramadhan, Masjid Jogokariyan juga menyediakan meja untuk berjualan. Pedagang-pedagang UMKM lokal juga apabila kurang memiliki modal maka bisa dibantu modal usaha oleh Masjid Jogokariyan. Adapun bantuan-bantuan yang diberikan oleh masjid berasal dari ZIS (Zakat, Infaq, dan Shodaqoh) yang dikumpulkan baitul mal dari jamaah masjid Jogokariyan.
Adapun sumber bantuan lain yang seringkali datang seperti berasal dari pihak Perbankan dan maupun instansi lainnya. Seperti Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, bahkan Menparekraf dan PT. Indosat sebagai bentuk Kerjasama untuk membantu meningkatkan usaha masyarakat binaan Masjid Jogokariyan.
Inovasi yang telah dilakukan
Untuk memajukan Ekonomi masyarakat, Masjid Jogokariyan tergolong memiliki banyak program yang unik. Pada zaman dahulu, sebelum tahun 2000 an belum banyak warga yang datang untuk berjamaah di Masjid Jogokariyan. Menurut survei yang dilakukan oleh pengurus masjid, sebanyak 40 persen warga Jogokariyan belum pernah jamaah di Masjid Jogokariyan. Pada saat itu, Masjid paling ramai jamaah hanya ketika Sholat Maghrib dan Isya. Kemudian para pengurus masjid yang baru terbentuk membuat program-program unik untuk mengajak masyarakat datang sholat berjamaah ke masjid. Yaitu membuat program-program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Seperti yang disebutkan sebelumnya program pasar sore Ramadhan yang awalnya diselenggarakan oleh para pengurus masjid untuk membuat image bahwa masjid ini ramai dan akhirnya menjadi ramai dikunjungi karena banyaknya orang yang berjualan. Sehingga terbentuklah Pasar Sore Ramadhan yang sudah berjalan sekitar 20 tahunan.
Program-program inovasi yang unik di Masjid Jogokariyan antara lain:
1. Pemberdayaan Ekonomi melalui Pasar Rakyat dan Pasar Sore Ramadhan. Banyak masyarakat yang taraf ekonominya meningkat berkat program ini. Dulunya para pedagang berjualan dengan cara keliling, namun setelah disediakan modal dan lahan jualan, mereka jadi punya tempat usaha sendiri. Adapun pada masa COVID-19, banyak pedagang tidak bisa berjualan, maka masjid membuat pasar rakyat supaya para pedagang tetap memiliki pemasukan.
2. Saldo infaq nol rupiah. Maksud dari program ini adalah saldo infaq harus segera disalurkan ke masyarakat. Pada akhir bulan saldo harus habis untuk kepentingan jamaah Masjid Jogokariyan. Dalam melancarkan program ini, Masjid Jogokariyan membentuk baitul mal untuk menyalurkan ZIS (Zakat, Infaq, dan Shodaqoh). Dana tersebut disalurkan seperti untuk pemberian sembako, pemberian modal usaha dan lain sebagainya. UMKM lokal yang sebelumnya menerima bantuan dari masjid, mereka akan dengan senang hati bershadaqah ke masjid karena sebelumnya mereka juga dibantu. Sehingga dengan begitu dari yang awalnya diberi menjadi pemberi. Oleh karena itu secara tidak langsung akan terus berulang. Hal ini terbukti dengan meningkatnya dana kas masjid dari yang awalnya sekitar 5-8 juta, sampai tahun ini terkumpul menjadi 3,4 miliar per bulan.
3. ATM Beras. Adalah salah satu program paling unik di Masjid Jogokariyan. Para warga akan menerima kartu ATM yang terintegrasi secara elektronik dan bisa menariknya sewaktu-waktu. Adapun letak mesin ATM beras ini tersedia di teras masjid. Untuk mendata penerima bantuan beras gratis ini, pengurus rutin melakukan pendataan warga miskin yang tinggal di sekitar masjid Jogokariyan. Data tersebut kemudian dikelola untuk mengetahui warga yang berhak mendapatkan bantuan beras ini.
Peta Model Pemberdayaan
Hasil dan Dampak
Indikator Kinerja
Beberapa Indikator kinerja hasil dari pemberdayaan yang dilakukan Biro Ekonomi Masjid Jogokariyan:
-
Meningkatnya omset pendapatan UMKM Binaan Masjid Jogokariyan. Salah satu bukti hasil dari pemberdayaan ini adalah banyak UMKM binaan Masjid yang mengalami kenaikan omset secara signifikan. Ini merupakan dampak setelah mengikuti program-program di Masjid Jogokariyan, seperti pasar rakyat dan pasar sore Ramadhan hingga memberikan mereka akses pasar yang lebih luas. Misalnya berawal dari pedagang keliling yang mengikuti program UMKM binaan masjid dan kegiatan pasar Jogokariyan sehingga memiliki tempat jualan sendiri. Adapun banyaknya warga yang kurang mampu, yang tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap kini sudah memiliki usaha sendiri dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satunya bahkan ada yang bisnisnya berkembang pesat dan beromzet hingga mencapai 5 Miliar per bulan. Ada juga Pro-U Media, toko buku yang menyediakan aneka buku islam terlengkap dan berkualitas. Pada awalnya bernama Pro-U Cetak-Cetak, sebuah usaha percetakan (pamflet, publikasi, undangan walimah, dll) yang dipelopori dua orang aktivis remaja (pemuda) Masjid Jogokariyan berbekal basic keahlian desain melalui perangkat lunak Adobe Photoshop, Corel, dan sebagainya. Mereka awalnya mengikuti binaan Masjid Jogokariyan sehingga menjadi sebesar sekarang. Ada juga perusahaan besar Peci Batik Jogokariyan yang sebelumnya ikut binaan Masjid Jogokariyan. Sekarang mereka sudah ekspor hasil produksi sampai Malaysia, Guangzhou China, dan Belanda.
-
Perluasan jaringan dengan kerjasama dan kemitraan dengan berbagai pihak. Masjid Jogokariyan berusaha menghubungkan pelaku UMKM dengan berbagai pihak yang relevan, entah itu lembaga keuangan, pemerintah, pasar, dan pelaku usaha yang lain. Tujuannya adalah untuk memperluas akses pasar seperti memberikan mereka akses untuk ikut sebuah event pameran, mendapatkan dukungan finansial baik dari penyaluran ZIS (Zakat, Infaq, Shadaqah) dalam bentuk bantuan modal usaha maupun menghubungkan dengan pihak bank syariah yang memberikan pelayanan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Hal ini dapat mengurangi risiko bagi bank dan memudahkan UMKM mendapatkan pinjaman. Adapun pemanfaatan media sosial dan e-commerce untuk perluasan jaringan pemasaran dengan memberikan pelayanan foto produk. Produk mereka difoto secara menarik dan dibantu promosi di media sosial yang dikelola masjid Jogokariyan.
-
Banyak berdiri usaha baru. Dengan adanya binaan dari Masjid Jogokariyan banyak usaha baru yang lahir dan sukses. Contohnya seperti usaha percetakan dan toko buku Pro U Media, Peci Batik Jogokariyan, Bakpia 654 Jogokariyan dan lainnya. Langkah awalnya lahir usaha-usaha baru adalah dengan cara pengurus memulai membuat usaha jualan supaya membuat mereka tertarik. Bukti dari banyaknya usaha yang telah berdiri ada di sepanjang jalan Jogokaryan terutama ketika event Kampung Ramadhan Jogokariyan sampai total 315 lapak usaha.
-
Masjid Jogokariyan membantu menumbuhkan kemandirian Ekonomi dari yang awalnya diberikan bantuan modal usaha, kemudian ikut binaan Masjid Jogokariyan untuk meningkatkan pendapatan, hingga bahkan mereka mampu untuk membantu mengisi kas masjid.
Dampak pada komunitas
Sesuai dengan tujuan utama dilakukan pemberdayaan ini, Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi menjadi tempat adanya berbagai aktivitas. Pertama, fungsi sebagai tempat dakwah yaitu dengan banyaknya usaha UMKM di sekitar masjid, maka aktivitas jual beli secara tidak langsung mengajak orang-orang untuk datang sholat berjamaah ke masjid. Kedua, fungsi pembelajaran. Seperti adanya pembinaan UMKM. Selain itu, karena meningkatnya jamaah masjid, maka pengajian-pengajian juga banyak dihadiri oleh para jamaah. Ketiga, fungsi muamalah adalah lingkungan sekitar Masjid Jogokariyan sebagai tempat berdirinya lapak dagang dan usaha UMKM masyarakat mulai dari bisnis makanan seperti angkringan, toko buku, aksesoris, bahkan merchandise. Fungsi keempat yaitu sesuai dengan pembentukan lembaga baitul mal masjid. Lembaga ini berfungsi mengelola dana kas masjid yang masuk melalui ZIS. Dana tersebut kemudian disalurkan untuk keperluan jamaah masjid Jogokariyan.
Kisah sukses
Sebagai contoh salah satu usaha yang mengikuti program binaan Masjid yang sukses adalah Pro-U Media. Kisah Pro-U Media menjadi bisnis toko buku dan penerbit buku-buku islami yang sukses. Dengan menjual buku-buku islami membuat mereka berbisnis sekaligus berdakwah.
Pada awalnya Pro-U Media bernama Pro-U Cetak-Cetak. Yaitu usaha percetakan untuk pamflet, undangan walimah, dan lain-lain. Usaha ini dipelopori oleh dua orang aktivis pemuda Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Mereka adalah Pak Fanni dan Nur. Sebenarnya keduanya tidak memiliki percetakan. Mereka berbekal dengan keahlian mendesain menggunakan software seperti corel, adobe photoshop, dan sebagainya. Usaha ini berdiri sekitar tahun 2000. Setelah itu tiga tahun kemudian bisnis mereka mendapat keuntungan terutama dari bisnis undangan walimatul ursy pernikahan. Banyak pesanan klien yang masuk didesain dengan baik oleh mereka, karena tidak memiliki percetakan, mereka mencetakkan desain tersebut ke percetakan.
Setelah Pro-U Cetak-Cetak mulai berkembang, mereka mendapat lebih banyak klien yang beragam. Sampai akhirnya muncul masalah. Beberapa klien yang hendak memesan undangan walimah meminta foto-foto pre-wedding. Adapun permintaannya sangat tidak syar’i, misalnya meminta adegan foto pre-wedding kedua calon mempelai berpegangan dan bermesraan. Usaha untuk mengambil titik tengah antara permintaan dan penawaran telah dilakukan namun pada akhirnya mentok juga. Ini usaha dagang pemuda-pemuda masjid, seharusnya mereka mengetahui batasan agama. Maka mereka menolak tegas permintaan teri yang terlalu jauh dan aneh.
Selain itu, fenomena pergaulan remaja-pemuda secara nasional juga tidak jauh berbeda dengan fenomena permintaan klien undangan pernikahan yang bebas dan tak mengindahkan moral. Kemudian muncul buku Jakarta Undercover yang menimbulkan fenomena secara nasional. Hal itu membuat miris karena buku itu mengungkap fakta gelap di dunia malam Jakarta. Buku tersebut malah mengajari orang-orang untuk bermaksiat daripada membuat tersadar. Karena dalam buku itu lokasi-lokasi tempat hiburan mesum dan cara-cara bermaksiat juga disebutkan secara rinci. Pada saat itu buku-buku dengan tema seperti itu sedang digemari. Di wilayah Jogja sendiri muncul buku Sex in the Kost yang dicetak ribuan eksemplar sudah beredar. Buku ini seperti mau membeberkan fakta, tapi semangat mengajari keburukan, entah atau tidak oleh penulis/penerbitnya justru terasa lebih melekat.
Karena Pro-U termasuk dalam UMKM binaan Masjid Jogokariyan, tentunya mereka sudah diajarkan bagaimana bisnis yang halal dan yang sesuai syariat agama Islam. Sehingga hall ini membuat membuat gelisah. Karena itu, Pro-U yang diisi aktivis masjid segera mengambil langkah cerdas, efektif, dan efisien. Yaitu dengan melawan sebuah buku dengan sebuah buku juga, membantah tulisan dengan tulisan juga, melawan balik sebuah dengan gagasan juga.
Pada akhirnya mereka terpikirkan untuk membuat proyek dakwah. Kemudian Pro-U Cetak-Cetak harus berubah menjadi Pro-U Media. Banyak karya bermutu telah dihasilkan, yang menyeru dakwah Islam dengan baik dan bijak, berisi gagasan-gagasan dan ajaran-ajaran yang berkualitas, tidak merusak, tidak liar dan tidak menyesatkan. Maka mereka menerbitkan buku pertama yang berjudul NIKMATNYA PACARAN SETELAH PERNIKAHAN yang ditulis oleh Salim A. Fillah atas permintaan Pro-U Media.
Tantangan dan cara mengatasinya
Tantangan dalam memberdayakan masyarakat Jogokariyan untuk berpartisipasi dalam program-program masjid Jogokariyan adalah masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk datang ke masjid. Bagaimana masjid mau menjalankan semua fungsinya jika untuk berjamaah saja masih ada dari warga Jogokariyan yang enggan datang. Pada saat awal Masjid Jogokariyan membuat pasar saja yang berjualan masih para pengurus masjid yang menjual barang seadanya yang bisa dijual. Selain itu, tantangan lain yang membuat masyarakat ragu untuk mendirikan usaha dan ikut berpartisipasi dalam program UMKM binaan Masjid Jogokariyan adalah kekurangan modal.
Untuk itu, cara Biro Ekonomi Masjid Jogokariyan mengajak masyarakat untuk datang dan supaya salah satu fungsi bait al-mu'amalah dapat berjalan yaitu dengan mereka sendiri yang mencontohkan. Para pengurus mencontohkan bahwa berjualan bisa dilakukan di lingkungan Masjid. Mereka membuat suasana seakan-akan ramai orang berjualan. Membuat masyarakat penasaran dan melihat-lihat. Karena pada dasarnya manusia itu suka ikut-ikutan dan kepo. Setelah masyarakat ikut meramaikan pasar maka akan membuat masyarakat datang ke masjid dan mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di masjid Jogokariyan. Sehingga pada akhirnya mereka mengikuti kegiatan yang ada di masjid juga.
Kemudian bagi masyarakat yang kurang memiliki modal maka diusahakan dibantu carikan modal oleh Biro Ekonomi Masjid. Adapun bagi UMKM yang tidak memiliki tempat jualan maka masjid menyediakan lahan tempat dan meja untuk berjualan. Untuk modal usaha masjid Jogokariyan melalui baitul mal sebagai pengelola dana kas dari Zakat, Infaq, dan Shodaqoh, salah satu bentuk penyaluran yaitu untuk pemberian modal usaha. Selain itu bantuan modal juga bisa didapatkan dengan Biro Ekonomi Masjid membantu menghubungkan dengan bank syariah untuk mendapatkan pinjaman modal usaha. Adapun bantuan modal juga bisa datang dari instansi pemerintah seperti Menparekraf maupun perusahaan.
Pembelajaran yang dapat diambil
Pembelajaran Utama
Pembelajaran yang dapat diambil dari pemberdayaan ekonomi masyarakat jogokariyan adalah pemberdayaan masyarakat membutuhkan proses yang panjang. Masjid Jogokariyan memulai program pemberdayaan ini sejak tahun 2000-an. Mereka memulainya dengan memberikan sebuah contoh dan menunjukkan hal-hal yang membuat masyarakat tertarik. Kemudian memberikan fasilitas dan pelatihan yang dapat memudahkan dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Pada akhirnya masyarakat akan merasa terbantu dan dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat akan dengan senang hati mendonasikan baik dengan zakat, infaq, maupun shodaqoh. Seperti kata ketua dewan Syuro masjid Jogokariyan bahwa apabila masyarakat merasa puas dengan fasilitas dan layanan yang diberikan maka mereka akan dengan senang hati memberikan infaq. Dengan begitu hasil dari dana kas yang terkumpul dapat disalurkan kembali untuk keperluan masyarakat. Sehingga ini akan terus berputar dan mendorong orang lain untuk berpartisipasi juga.
Adapun pembelajaran ini dapat diterapkan di tempat lain dengan menyesuaikan kebiasaan setempat dengan cara mencari tahu potensi masyarakat. Kemudian memberikan pelatihan dan pelayanan sesuai kebutuhan mereka. Setelah itu mereka akan terbantu. Apabila mereka puas dan tahu bahwa partisipasi mereka hasilnya akan kembali ke mereka sendiri. Maka akan akan terus berlanjut dan menambah orang yang berpartisipasi.
Kesimpulan
Program pemberdayaan UMKM binaan Masjid Jogokariyan ini berhasil mendukung SDG 8 yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Dengan memberikan lapangan pekerjaan dan pelatihan dagang sesuai dengan keahlian masing-masing yang bisa diperjualbelikan. Dengan begitu dapat menumbuhkan ekonomi masyarakat. Dan meningkatnya fasilitas yang diberikan masjid jogokariyan. Sehingga jamaah jogokariyan semakin bertambah dan meningkatnya Ekonomi masyarakat masjid Jogokariyan.
ftrhmn