BEDAH BUKU “PEREMPUAN TANPA KEPALA” : INTERPRETASI TENTANG KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM REALITA
Pada hari Kamis, 30 April 2026, Laboratorium Sosiologi Agama (LABSA) menyelenggarakan kegiatan bedah buku karya salah satu dosen prodi Sosiologi Agama, beliau adalah Pak Dr. Munawar Ahmad, S. S., M. Si. dengan karya bukunya “Perempuan Tanpa Kepala”. Faktor yang mendorong lahirnya buku ini adalah keresahan-keresahan penulis tentang kedudukan perempuan yang selama ini dibatasi atau bahkan dibungkam oleh dalil-dalil Al-Qur’an Hadits dan norma sosial setempat. Seolah-olah perempuan adalah entitas yang harus dijaga sekali sehingga tidak ada ruang kebebasan bagi mereka. Oleh karenanya, dalam buku ini penulis mencoba mengupas tentang kedudukan perempuan yang hak-haknya direnggut dan dibelenggu.
Acara dibuka oleh moderator, yakni Hudzaifa Ahmad Bajry. Dalam buku ini, dikisahkan ada dua tokoh perempuan yang dalam kehidupannya merasa tertekan oleh keluarga. Tokoh satu dikisahkan bahwa dia dinikahkan oleh seorang anak kyai dengan dalih membesarkan nama pesantren. Sementara tokoh yang satunya lagi dikisahkan bahwa dia sebenarnya ditindas secara keras tetapi korbannya merasa tidak apa-apa. Dari kedua kisah tersebut, dapat disimpulkan bahwa ketidaksetaraan hak antara laki-laki dan perempuan sampai sekarang masih ada.
Buku tersebut diulas oleh bu Nur Afni Khafsoh, M. Sos. Beliau mengapresiasi karya Pak Munawar yang sangat relevan dengan keresahan hati masa kini. Setelah bedah buku dari Pak Munawar selesai, sesi diskusi dan tanya jawab dibuka. Di sesi ini, para audiens antusias sekali dalam bertanya. Di antara mereka banyak yang merasakan hal yang sama denga nisi buku tersebut, sehingga mereka terus terang mengeluarkan semua isi keresahan hatinya untuk diarahkan oleh Pak Munawar dan Bu Afni.
Bedah buku ini dapat membuka pikiran kita bahwa kesenjangan kedudukan antara laki-laki dan perempuan masih terjadi sampai hari ini. Menyadari bahwa memahami teks-teks agama dari sudut pandang sosial hukumnya wajib bagi semua orang agar tidak terjadi kesalahpahaman dan berujung berselisih menggunakan fisik. Agar kalimat Sakinah Mawaddah wa Rahmah tidak hanya sekadar kalimat melainkan diimplementasikan agar tercapai keluarga sejahtera.