Dosen Sosiologi Agama Mengkaji Nurrudin Ar-Raniri
.png)
Dr. Adib Sofia, SS.,M.Hum. tengah memaparkan kajiannya mengenai Nuruddin Ar-Raniry
Sejarah adalah kata sederhana, namun tepat untuk mengambarkan Indonesia. Hal ini karena Indonesia adalah negara yang kaya akan sejarahnya dan memiliki banyak peninggalan-peninggalan sebagai bukti keberadaan sejarah tersebut. Pada zaman perkembangan Islam di Indonesia, Aceh menjadi salah satu tempat yang menjadi awal mula masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara. Dalam catatan sejarah, ada beberapa tokoh yang berperan penting dalam perkembangan Islam di Aceh, salah satunya adalah Nuruddin ar-Raniry. Ar-Raniry dikenal memiliki banyak karya berupa naskah-naskah yang menarik untuk dibaca, ditelaah dan ditafsirkan kembali.
Pada acara Serial Seminar Nasional Sastra yang diseleggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, salah satu dosen dari Prodi Sosiologi Agama, yaitu Dr. Adib Sofia, M. Hum. berkesempatan untuk menjadi pembicara dalam acara Webinar yang mengangkat tema “Nuruddin Ar-Raniry dan Intoleransi dalam Wacana Keagamaan”. Pada webinar yang berlangsung melalui aplikasi zoom cloud meeting pada 17 November 2021 pukul 19.00 hingga 21.00 tersebut, Dr. Adib Sofia mejelaskan mengenai karya terbarunya yang lahir dari disertasinya yang berjudul “Sisi Lain Nuruddin Ar-Raniri: Kritik Filologis Spiritual Nusantara”.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Adib Sofia mengawali acara diskusi tersebut dengan memaparkan sejarah hingga masuk pada pembahasan mengenai topik utama yang akan dibahas, yakni telaah filologis-interpretasi dari ketiga kitab Ar-Raniry. Pertama, Tibyan. Kedua, Chujjatush-Shiddiq. Ketiga, Fatchul-Mubin. Pada pemaparannya, beliau mengatakan bahwa ketika berhadapan dengan naskah, kita akan menyentuh pernaskahan, kesastraan, keagamaan, dan perkembangan berpikir dari seorang yang menulisnya. Dikatakan oleh Dr. Adib Sofia juga bahwa Ar-Raniry memiliki kemampuan berbahasa yang sangat bagus dan memiliki banyak karya tasawuf dan beberapa karya mengenai sikap dan perilaku dan yang menjadi rujukan santri-santri hingga saat ini tentang bagaimanakah orang harus berperilaku dan berkehidupan selama Islami. Dengan keluasan wawasan dan kemahirannya dalam berbahasa, karya Nuruddin Ar-Raniry dapat melahirkan karya yang sangat bagus dan diterima oleh masyarakat.
Namun, dalam salah satu karyanya, berdasarkan pengamatan dengan membaca teks dari sisi depannya untuk masa sekarang, ada tindak intoleransi dan pertentangan dalam karya Nuruddin Ar-Raniry. Kemudian, Dr. Adib Sofia melihat wajah Islam yang ditampilkan melalui teks-teks tersebut ternyata tidak tunggal, artinya ada dua sisi yang berlainan. Dalam akhir pemaparannya, Dr. Adib Sofia memberikan pernyataan bahwa intoleransi sebetulnya tidak perlu terjadi apabila kita cukup matang beragama.
Pada acara tersebut, apa yang dipaparkan oleh Dr. Adib Sofia kemudian dibahas oleh Dr. Hindun, M. Hum. dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Dalam bahasannya, beliau memuji Dr. Adib Sofia yang dapat melahirkan karya menarik dengan mengungkap sisi lain dari Nuruddin Ar-Raniry. Tambahnya, beliau juga senang karena Dr. Adib Sofia sebagai generasi muda masih memiliki perhatian terhadap naskah-naskah Nusantara. Meskipun Forum yang digagas oleh Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa dan dimoderatori oleh K.H. Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S. tersebut berlangsung secara daring, banyaknya partisipasi dan antusias dari para peserta dapat terlihat dari diskusi yang berjalan dengan sangat hidup. (TP).