Siapkan Lulusan Kompeten, Program Intensive English Conversation Jadi Strategi Paten

Suasana Intensive English Conversation, Sawyer Martin baris ke dua dari kanan.
Bagi mahasiswa, kemampuan berbahasa Inggris merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki. Sebab di era society 5.0 seperti ini, kemampuan berbahasa Inggris menjadi suatu hal yang tidak dapat ditawar lagi. Dimana seluruh dunia saling terhubung dan nyaris tanpa batas, mau tidak mau masyarakat dituntut untuk bisa berperan di dalamnya. Salah satu bekal potensial bagi mahasiswa untuk menghadapi perkembangan zaman itu adalah dengan memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Tentu dalam hal ini adalah bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.
Beberapa waktu lalu (dari Pertengan Mei hingga awal Juni 2022), Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan kegiatan Intensive English Conversation bagi mahasiswa bersama native speaker yaitu Sawyer Martin French, M. A. Ia adalah seorang mahasiswa S3 jurusan Antropologi Agama di University of Chicago yang sering mengajar sebagai dosen tamu di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Selain itu, ia juga membantu mengelola media bernama The Suryakanta yang memuat tulisan dalam Bahasa Indonesia dan mengulas buku-buku berbahasa asing dari semua bidang ilmu sosial humaniora.
Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa diminta untuk aktif berbicara dalam bahasa Inggris pada setiap sesi di kelas. Sehingga mahasiswa semakin terdoronguntuk memperbanyak kosakata dan terlatih untuk lebih percaya diri berbicara menggunakan bahasa Inggris. Kegiatan ini dilakukan secara fleksibel dan cenderung santai, sehingga disini mahasiswa sangat menikmati belajar bahasa Inggris. Bahkan di akhir pertemuan, kegiatan dilakukan di kafe sembari menikmati hidangan. Tentu kegiatan belajar bahasa Inggris kini semakin menyenangkan.
Ari Anggito, mahasiswa Sosiologi Agama angkatan 2020 sangat termotivasi dengan kegiatan ini. “Kelas bahasa Inggris ini cukup menyenangkan dan banyak hal baru yang saya dapat, mulai dari susunan bahasa serta pengucapannya, dan juga banyak sekali pengalaman baru terkait dengan kebudayaan dan kebiasaan orang dari negara lain”, kesannya. Hal senada juga dirasakan oleh Agustina Puspita. “Selama mengikuti kelas bahasa ini saya merasa menjadi pribadi yang lebih bisa menghargai kultur terutama dalam berbahasa. Selain itu, juga sangat meningkatkan skill dalam berbicara menggunakan bahasa Inggris yang baik dan benar”.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi mahasiswa prodi Sosiologi Agama untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam berbahasa Inggris, khususnya kemampuan speaking. Sebab soft skill ini nantinya sangat diperlukan untuk menunjang karir mahasiswa Sosiologi Agama di masa mendatang. “Semoga semua mahasiswa yang ikut short course kemarin bisa tetap semangat untuk meningkatkan kemampuannya dalam bahasa Inggris dengan melatihnya secara serius dan konsisten. Kalau berusaha, pasti bisa,” pesan Pak Sawyer Martin kepada para mahasiswa. (IYA)