Diskusi Daring LABSA: Dari Hagia Sophia Hingga Candi Borobudur

Peserta Daring Diskusi LABSA
Kembali Laboratorium Sosiologi Agama (LABSA) menyelenggarakan diskusi rutin bulanan. Edisi Juli ini, diskusi mengangkat tema “Hagia Sophia dan Candi Borobudur: Dilema Tempat Ibadah dan Wisata di Masa Pandemi.” Tema ini mencoba menggali mengenai realitas dibukanya kembali Hagia Sophia di Turki sebagai masjid, tepat di saat negara tersebut masih ditempa pandemi, dan Borobudur yang sudah terbuka bagi pengunjung mulai Juni lalu.
Seperti yang diketahui bahwa Hagia Sophia sebelumnya adalah museum yang juga menjadi ikon destinasi wisata populer di Turki. Dibukanya kembali Hagia Sophia sebagai tempat ibadah sekaligus tempat wisata ini tentu menjadi kajian cukup menarik. Tidak jauh berbeda dengan Candi Borobudur. Sampai saat ini, Borobudur masih menjadi tempat ibadah umat Buddha, terutama pada peringatan Waisak; namun juga menjadi destinasi wisata populer Indonesia karena dinobatkan sebagai warisan dunia.
Dilaksanakan pada Senin, 27 Juli 2020 secara daring melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting, diskusi ini dimoderatori oleh Ratna Istriyani M.A. (Dosen Muda Program Studi Sosiologi) dan menghadirkan narasumber yang fokus pada kajian Sosiologi Agama dan Masjid. Pertama adalah Dr. Abdul Manaf Tubaka, M.Si. yaitu Dosen dan Ketua Jurusan Sosiologi Agama IAIN Ambon. Kedua yaitu Dr.Masroer, S.Ag., M.Si. selaku Dosen Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga mengajar mata kuliah Sosiologi Masjid.
Pada pemaparan, Manaf Tubaka menguraikan secara historis perjalanan Hagia Sophia sebagai katedral, masjid, museum hingga dibuka kembali lagi sebagai masjid. Dalam hal ini ia menekankan bahwa realitas mengenai Hagia Sophia setidaknya dapat dilihat dari dua aspek yaitu politik identitas dan esoterik agama (ulasan yang dianggap lebih sejuk). Kendati demikian, perjalanan candi Borobudur sebagai tempat ibadah dan wisata memiliki konteks sosial politik yang berbeda dengan Hagia Sophia. Hal itu pun digarisbawahi pula oleh Masroer. Pada pemaparannya Masroer menambahkan bahwa fungsi tempat ibadah semakin meluas seiring dengan meluasnya kebutuhan manusia.
Diskusi yang berlangsung selama dua jam ini rupanya mengundang antensi dari berbagai kalangan. Hal ini terlihat dari beragamnya peserta yang ikut serta secara daring. Peserta tidak hanya dari internal UIN Sunan Kalijaga, melainkan juga dari institusi eksternal dan alumni.