Membedah Problematika Transpria, LABSA Kembali Gelar Diskusi Terbuka

Dari kiri Amar Alfikar dan Dr. R.R Siti Kurnia Widiastuti, M.Pd., M.A. secara panel menyampaikan materi diskusi
Kembali Laboratorium Sosiologi Agama (LABSA) menyelenggarakan diskusi rutin bulanan. Kali ini diskusi mengangkat tema “Problematika Transpria: Jebakan Patriarki dan Eksklusivisme Beragama.” Kendati bagi sebagaian orang dianggap tabu, tema ini dipilih karena problem mengenai stereotype dan marginalisasi terhadap transgender masih jamak terjadi. Hal yang juga perlu didiskusikan adalah bagaimana kendala yang ditemui para transgender terkait posisinya dalam beragama.
Dilaksanakan pada 10 Maret 2020 di Smart Room Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, diskusi ini menghadirkan narasumber yang fokus pada kajian transgender atau transpria. Pertama adalah Dr. R.R Siti Kurnia Widiastuti, M.Pd., M.A. selaku Dosen Program Studi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang fokus pada kajian gender dan kekerasan seksual. Terlebih ia juga pernah mengangkat tema Transgender Waria di Yogyakarta dan Jawa Tengah pada disertasinya. Kedua adalah Amar Alfikar sebagai Aktivis Queer Muslim dan transpria yang sering diundang menjadi narasumber terkait problem transpria/transman.
Pada pemaparannya Siti Kurnia menjelaskan bahwa masyarakat memang masih terbingkai dalam pandangan biner, membedakan secara tegas antara laki-laki yang mempunyai karakter maskulin dan perempuan yang feminin. Kontruksi yang demikian berakibat pada tidak tersedianya ruang bagi orang yang berada pada posisi antara. Walhasil yang terjadi adalah sikap stereotype, stigma, dan marginalisasi. Hal serupa juga disampaikan oleh Amar bahwa stigma trangender terutama transpria masih lekat. Ia menambahkan bahwa problem transgender sebenarnya bukan problem masyarakat urban saja, melainkan juga banyak terjadi di pedesaan. Sejauh pengalamannya, ia mengungkapkan bahwa penerimaan terhadap transgender sebenarnya bisa dilakukan dengan cara beragama yang humanis dan nilai lokal yang mengedepankan toleransi, bahkan hal itu sudah dicontohkan oleh para tokoh agama.
Diskusi yang berlangsung selama tiga jam ini rupanya mengundang banyak antensi dari berbagai kalangan. Hal ini terlihat dari banyaknya peserta dari berbagai instusi dan latar belakang keilmuan seperti dari mahasiswa UGM, mahasiswa Sanata Dharma, Pengurus Pondok Pesantren Waria Al Fatah, Biarawati, Feminis Yogyakarta, mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, dan sebagainya. Bahkan salah satu peserta mengungkapkan apresiasinya kepada Laboratorium Sosiologi Agama karena telah membuka ruang diskusi terbuka untuk membahas realita transgender yang selama ini masih dianggap isu sensitif. (RI)